Pengalaman Menyedihkan Seorang Talent di Ponpes Malang
Sebuah peristiwa yang menimpa seorang perempuan di Malang kini menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Perempuan tersebut, yang dikenal dengan inisial RNH, mengaku menjadi korban pelecehan verbal selama syuting sebuah konten sumpah pocong. Kejadian ini terjadi pada 28 Januari 2026 dan akhirnya membuatnya membuka suara setelah pengalaman buruk yang dialaminya.
Awal Mula Terlibat dalam Casting
RNH, seorang penyiar radio berusia 28 tahun, awalnya tertarik untuk ikut casting karena menemukan akun Instagram yang menawarkan lowongan talent video dengan iming-iming bayaran sebesar Rp 200 ribu. Ia langsung menghubungi pihak yang menawarkan tawaran tersebut karena sedang memiliki waktu luang. Namun, proses casting tidak dilakukan terlebih dahulu, melainkan langsung diminta datang ke lokasi tanpa penjelasan lebih lanjut.
Lokasi yang dituju adalah daerah Pakis, Kabupaten Malang. Setibanya di lokasi, RNH merasa yakin karena tempat tersebut tampak seperti rumah produksi (Production House) dengan kanal YouTube yang memiliki jumlah subscriber mencapai 2 jutaan. Namun, rasa tidak nyaman mulai muncul saat briefing yang disampaikan dinilai tidak profesional.
Kondisi yang Tidak Nyaman
Selama proses syuting, RNH ditemani oleh adiknya dan juga satu orang talent laki-laki. Proses syuting dilakukan secara live di YouTube dan TikTok tanpa alur cerita yang jelas. Seluruh proses disebut berlangsung improvisasi penuh, dengan peran yang sering berubah di tengah jalan.
“Briefingnya cuma disuruh mengalir saja. Kita disuruh live, tapi tidak dijelaskan detail materi apa yang harus kita sampaikan, durasi, atau batasannya,” ujar RNH.
Situasi semakin memperburuk ketika ia menyadari bahwa hampir seluruh kru dan talent yang hadir adalah laki-laki. Total ada enam laki-laki, satu dari talent dan lima dari orang-orang yang ada di tempat syuting tersebut. Hal ini membuatnya merasa tidak aman.
Pertanyaan yang Merendahkan dan Sentuhan Fisik
Puncak ketidaknyamanan dialami RNH saat jeda syuting. Ia mengaku diajak berbicara secara pribadi oleh asisten produksi dan mendapatkan pertanyaan menyangkut kehidupan pribadi hingga ucapan bernada merendahkan.
“Waktu itu saya ditanya soal pacar, soal gaji, sampai disarankan ‘mending kerja di sini saja’ dengan iming-iming uang dan kedekatan dengan bos (pengasuh ponpes). Itu sangat tidak pantas,” ungkapnya.
Tidak hanya verbal, RNH juga mengaku mengalami sentuhan fisik yang membuatnya merasa dilecehkan. Namun, ia memilih menahan diri karena situasi live dan tekanan psikologis di lokasi.
Pergi dari Lokasi Syuting
Akibat kondisi yang tidak nyaman, RNH akhirnya menghubungi rekan-rekannya melalui chat di grup WhatsApp. Ia menceritakan tentang kondisinya yang mulai tidak nyaman dengan perlakuan kru dan tim produksi di tempat syuting tersebut. Saking tidak nyamannya, di saat momen syuting berlangsung, RNH sempat mengubah jalan cerita.
Ia terkejut saat mengetahui konsep lanjutan konten yang mengarah pada adegan sumpah pocong secara live. Sesuatu yang sejak awal tidak pernah dijelaskan.
“Saya menolak. Dari awal saya tidak pernah setuju dengan konsep seperti itu,” tegasnya.
Ketidaknyamanan itulah yang membuat RNH ingin segera meninggalkan tempat syuting tersebut. Sebab, waktu sudah pukul 17.00 WIB yang mengharuskan dia pergi karena ada urusan lain yang harus ia datangi.
Masalah Bayaran dan Komunikasi dengan Pengasuh Ponpes
Masalah lain muncul ketika RNH mengetahui bayaran Rp 200 ribu tersebut bukan untuk satu sesi, melainkan untuk empat kali siaran langsung. Artinya, setiap live hanya dihargai sekitar Rp 50 ribu.
“Jadi yang aku hubungi di awal itu ternyata agency. Bukan langsung dari production house-nya.”
Selain itu, RNH juga mengaku diminta nomor WhatsApp dan nomor rekening oleh pengasuh ponpes tersebut. Katanya nanti akan di transfer, tetapi ia tidak mau menerima bayaran itu dan lebih baik pergi.
Parahnya lagi, si pengasuh ponpes itu sempat WhatsApp saat dengan emoticon love. Tapi ia tidak membalas.
Viral dan Respons dari Korban Lain
Kasus ini mendadak viral setelah ada akun Instagram @sovinovitav yang membuat unggahan berkaitan dengan kasus tersebut pada 2 Februari 2026 kemarin. Awalnya, RNH memilih diam. Namun sikapnya berubah setelah mengetahui ada korban lain yang mengalami perlakuan serupa dan mulai membagikan pengalaman mereka di media sosial.
“Kalau cuma saya, mungkin masih bisa saya pendam. Tapi ternyata ada korban lain, bahkan yang mendapat ancaman. Itu yang membuat saya tidak bisa diam,” ujarnya.
Sejak kasus ini viral, RNH mengaku menerima banyak pesan dari perempuan lain yang mengaku mengalami dugaan pelecehan serupa, baik oleh pihak utama maupun asistennya.
Langkah yang Diambil
Meski belum ada proses hukum yang berjalan karena keterbatasan bukti visual, RNH dan korban lain berencana menempuh langkah pelaporan akun serta mendorong adanya sanksi sosial.
“Kalau belum bisa diproses hukum, setidaknya masyarakat tahu. Jangan sampai korban berikutnya bertambah,” tandasnya.




