Penanganan Kesehatan dan Renovasi Kamar Dayat
Kasus viral tentang tarif mobil pelayanan desa di Desa Hegarmanah, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Ciamis, kembali menjadi perhatian masyarakat setelah video yang diunggah oleh warga setempat menyebar di media sosial. Video tersebut mengungkapkan pengalaman keluarga Alma, yang merupakan salah satu warga setempat, dalam menghadapi kesulitan finansial akibat biaya transportasi kesehatan yang dinilai terlalu mahal.
Alma, yang membagikan cerita melalui akun media sosial @missalma89, menjelaskan bahwa kakeknya, Dayat (79), sedang menderita berbagai penyakit komplikasi seperti TBC, jantung, ginjal, asam urat, hingga diabetes. Kondisi ini membuat keluarga sering kali harus berurusan dengan fasilitas kesehatan. Beberapa waktu lalu, ia mengunggah video yang menyampaikan ketidakmampuan dirinya untuk membayar tarif mobil desa yang mencapai Rp250-400 ribu.
Akibatnya, ia memilih membawa kakeknya menggunakan motor dengan cara bonceng tiga: Alma menyetir, kakeknya di tengah, dan neneknya di belakang. Dalam video tersebut, ia juga meminta Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk mengaudit desa tempat tinggalnya. Setelah video tersebut viral dan ditanggapi oleh gubernur, Alma mengaku bersedia jika dipanggil dan bertemu langsung dengan Dedi Mulyadi.
Proses Renovasi Kamar Dayat
Alma menjelaskan bahwa pemerintah setempat bersama petugas kesehatan sempat datang ke rumah untuk melihat kondisi kamar Dayat. Setelah petugas puskesmas memeriksa hasil rontgen dan laboratorium, pihak dinas kesehatan juga meninjau kondisi rumah dan meminta persetujuan untuk renovasi kamar.
“Katanya supaya cepat sembuh, karena TBC itu harus ada ventilasi dan udara yang masuk. Kamar kakek memang tertutup dan belum ada ventilasi,” ujar Alma. Proses renovasi kamar Dayat saat ini sedang berlangsung dan mulai berjalan pada hari ini dengan biaya dari BPD (Badan Permusyawaratan Desa). Ia mengaku tidak mempermasalahkan rencana renovasi tersebut.
“Kalau saya mah terserah yang mau ngasih saja. Mau direnovasi silakan, enggak juga enggak apa-apa,” katanya. Namun, Alma hanya menyoroti soal pelayanan transportasi desa. Ia mengaku tidak ditawari penggunaan mobil pelayanan desa saat kakeknya membutuhkan penanganan, melainkan disarankan menggunakan sepeda motor dengan berboncengan tiga orang.
“Ibu Kawil (kepala dusun) bilang cukup pakai motor saja, dirempet tiga juga cukup. Kalau Pak Kuwu (Kepala Desa) tidak ngomong apa-apa,” ungkapnya.
Pengalaman Sebelumnya dengan Mobil Pelayanan Desa
Alma juga menceritakan pengalaman sebelumnya saat menjemput ibunya dari rumah sakit tahun lalu. Saat itu, ia sempat menanyakan soal penggunaan mobil desa. Awalnya disebut hanya perlu biaya bensin sekitar Rp50 ribu. Namun setelah dikonfirmasi ke pengelola kendaraan, tarif disebut mencapai Rp250 ribu. Bahkan, menurut informasi warga, tarif bisa mencapai Rp350 ribu.
“Ibu dulu yang di rawat di RS tahun kemarin, pas mau pulang dari rumah sakit kan ada ibu Kadus jenguk ke rumah sakit, pas ibu Kadus jenguk nanya mau pulang pake apa? aku bilang pake Grab, soalnya mobil desa nya mahal kata tetangga yang ngomong. Pas kata bu Kadus kok mahal? paling beli bensin doang Rp50 ribu, tapi pas di telepon sama ibu Kadus ke yang pegang mobilnya ternyata Rp250 ribu, jadi dari situ gak pernah nanyoin lagi harga mobil karna udah tau harga mobilnya Rp250 ribu,” paparnya.
Karena itu, keluarga pada saat itu memilih menggunakan transportasi daring dengan biaya sekitar Rp135 ribu.
Harapan untuk Pelayanan yang Lebih Baik
Diketahui, nenek Alma saat ini menerima bantuan sosial berupa BPNT. Sebelumnya, ia juga sempat terdaftar sebagai penerima bantuan sosial lansia, namun kini tidak lagi menerima bantuan tersebut dan hanya menerima BPNT saja.
Alma berharap pelayanan terhadap warga, khususnya yang sedang sakit, dapat dilakukan secara transparan dan mengedepankan kemudahan akses, terutama terkait fasilitas desa yang diperuntukkan bagi masyarakat.






