Tantangan Margin Pendapatan Bunga di Industri Perbankan
Industri perbankan di Indonesia menghadapi tantangan signifikan terkait margin pendapatan bunga (net interest margin/NIM) yang mulai menurun. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk peningkatan penyaluran kredit dan tekanan suku bunga yang rendah. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwa NIM industri perbankan turun dari 4,62% pada Desember 2024 menjadi 4,56% pada Desember 2025.
Tahun ini, diperkirakan NIM bank akan kembali mengalami penurunan, terutama di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang menerima mandat penyaluran kredit untuk program strategis pemerintah. Salah satu contohnya adalah Bank Negara Indonesia (BNI), yang pada tahun lalu berhasil mencapai target NIM sebesar 3,8%. Namun, untuk tahun ini, BNI mematok target NIM di rentang 3,5% hingga 3,8%.
Direktur Finance & Strategy BNI, Hussein Paolo Kartadjoemena, menjelaskan bahwa penurunan NIM tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah masuknya kredit Agrinas untuk Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), yang memiliki tenor enam tahun dengan suku bunga 6% per tahun. Namun, biaya beban (cost of fund/COF) kredit ini mencapai 3,8%, sehingga NIM hanya berada di kisaran 2,2%, jauh di bawah rata-rata NIM bank secara keseluruhan.
Selain itu, persaingan pasar yang ketat juga memberi tekanan terhadap NIM. “Persaingan di segmen wholesale masih berlangsung cukup ketat,” ujar Hussein dalam pertemuan analis pekan lalu. Selain itu, risiko penarikan dana oleh Kementerian Keuangan juga menjadi perhatian serius bagi BNI. Sebab, BNI merupakan salah satu penerima suntikan likuiditas dana saldo anggaran lebih (SAL) tahun lalu, yang jadwalnya dikembalikan pada Maret 2026 mendatang.
Untuk menghadapi tekanan tersebut, BNI berfokus pada penguatan dana murah. Pada tahun lalu, BNI berhasil menghimpun dana murah sebesar Rp 725,96 triliun, tumbuh 28,9% year on year (yoy).
Perkembangan NIM di Bank Lain
Bank Mandiri juga mematok NIM yang lebih moderat tahun ini. Setelah mencapai posisi 4,89% pada tahun lalu, Bank Mandiri menargetkan NIM di kisaran 4,6%–4,8% tahun ini. Penurunan ini didasari oleh antisipasi tekanan yang berlanjut di tengah persaingan penyaluran kredit yang ketat, khususnya di segmen wholesale.
“Ini juga memperhitungkan perkiraan penurunan suku bunga kebijakan hingga 50 bps tahun ini,” demikian tertulis dalam presentasi kinerja Bank Mandiri.
Di sisi lain, Bank Tabungan Negara (BTN) masih optimistis NIM bisa terjaga bahkan tumbuh baik tahun ini. Direktur Utama BTN Nixon Napitupulu menyampaikan optimisme tersebut berbekal kinerja tahun lalu. Pada 2025, BTN berhasil mencetak pertumbuhan laba tinggi hingga 16,4% yoy sebesar Rp 3,5 triliun, dengan NIM yang naik dari 2,9% menjadi 4,2%.
Pendapatan bersih bunga BTN melonjak 57,5% yoy menjadi Rp 18,42 triliun, ditopang pertumbuhan pendapatan bunga yang naik 23% yoy menjadi Rp 36,34 triliun sementara beban bunganya hanya naik 0,4% yoy menjadi Rp 17,91 triliun.
Perspektif Bank Swasta
Dari sudut pandang bank swasta, CIMB Niaga meyakini NIM bisa lebih baik tahun ini. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut, meski NIM tahun lalu cenderung tertekan karena penurunan imbal hasil kredit yang masif, COF sudah berhasil ditekan turun.
“Yield kredit turun lebih tinggi dari penurunan COF,” kata Lani kepada Infomalangraya.com, Selasa (10/2/2026). Ia menambahkan bahwa NIM bank tahun lalu turun kisaran 10 bps dibanding tahun sebelumnya. Untuk tahun ini, CIMB Niaga menargetkan NIM bisa tumbuh lebih baik lagi dengan proyeksi masih di atas 4%.
Dua Sisi Pembiayaan Program Pemerintah
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Erdiana Rae, menyebut pembiayaan ke program strategis pemerintah perlu dilihat dari dua sisi. Di satu sisi, pembiayaan program utamanya ditujukan untuk menggenjot penyaluran kredit yang cenderung stagnan tahun lalu. Memang secara data, seiring penugasan pembiayaan ke program pemerintah pada pertengahan tahun, kredit industri tumbuh pesat di akhir tahun setelah bank mulai menjalankan tugas.
Sementara soal margin, Dian hanya bilang perkembangannya bakal tergantung pasar. “Memang kami harus melihat kondisi global dan domestik juga. Kami juga berupaya menangani isu lain yang terkait, misalnya special rate yang sebagian sudah teratasi,” ujar Dian saat ditemui Infomalangraya.com, Selasa (10/2/2026).







