Pertemuan Tingkat Tinggi antara Pakistan dan Indonesia
Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Pakistan, Marsekal Zaheer Ahmad Babar Sidhu, melakukan pertemuan dengan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, pada Kamis (12/2/2026). Dalam pertemuan tersebut, KSAU Marsekal Mohamad Tonny Harjono dan Kabaloghan Kemenhan Marsdya Yusuf Jauhari turut serta mendampingi.
Sebelum bertemu dengan Presiden Prabowo, Zaheer telah bertemu dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, pada Selasa (10/2/2026). Pada hari yang sama, Zaheer juga diterima oleh KSAU Tonny di Mabesau, Cilangkap.
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, yang ikut dalam pertemuan tersebut menjelaskan bahwa komitmen kedua negara untuk memperkuat kemitraan strategis di berbagai bidang, mulai dari pertahanan hingga kerja sama multilateral, semakin meningkat. Menurut dia, kedekatan historis hubungan kedua negara yang telah terjalin bahkan sebelum kemerdekaan, menjadi modal berharga untuk mewujudkan hal itu.
“Pakistan dan Indonesia adalah dua negara bersaudara. Secara historis, kita telah menjalin hubungan bilateral yang sangat baik. Dan saya sangat senang mengatakan bahwa hubungan antara kedua bangsa kita ini telah ada bahkan sebelum kemerdekaan kedua negara kita,” ujar Zahid kepada awak media di Istana Kepresidenan Jakarta.
Dalam konteks geopolitik dan kerja sama dunia Islam, Zahid menekankan pentingnya kolaborasi kedua negara yang mewakili lebih dari seperempat populasi Muslim dunia. Sedangkan terkait kerja sama pertahanan, Zahid menegaskan bahwa kolaborasi kedua negara berjalan sangat baik dan akan terus ditingkatkan.
“Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Pakistan dan Indonesia memiliki kerja sama yang sangat baik di semua bidang, termasuk kolaborasi sektor pertahanan. Kami telah melatih Perwira Angkatan Bersenjata Indonesia dan kami akan terus meningkatkan kolaborasi sektor pertahanan bilateral kami,” ujar Zahid.
Dia pun memaparkan intensitas kunjungan pejabat tinggi kedua negara yang semakin meningkat. Di antaranya adalah kunjungan Menhan Sjafrie, Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani, hingga Menteri Kesehatan Pakistan yang berkunjung ke Jakarta beberapa waktu yang lalu. “Dan kita akan segera mengadakan pertemuan tingkat tinggi lainnya antara Pakistan dan Indonesia,” ucap Zahid.
Menurut Zahid, Pakistan dan Indonesia selama ini telah bekerja sama erat di berbagai sektor strategis. Momentum penguatan hubungan tersebut, kata Zahid, semakin terlihat dalam beberapa bulan terakhir. Dia menyebut kunjungan Presiden Prabowo ke Islamabad pada Januari 2026 sebagai titik penting dalam hubungan bilateral kedua negara.
“Bulan lalu, ketika Presiden Indonesia, Yang Mulia Prabowo Subianto mengunjungi Pakistan, saya dapat mengatakan bahwa itu adalah titik balik yang signifikan dalam hubungan bilateral kita yang sudah sangat baik,” tuturnya.
Selain itu, Zahid juga menyampaikan harapan besar Pakistan terhadap peran Indonesia dalam forum Developing Eight (D8). Dia menegaskan kesiapan Pakistan untuk mendukung penyelenggaraan KTT D8 di Jakarta pada April 2026.
“Dan kami berharap dapat bekerja sama dengan Indonesia untuk kesuksesan KTT mendatang di Indonesia, dan juga untuk kesuksesan D8 sebagai organisasi kerja sama di antara delapan negara berkembang,” kata Zahid.

Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (12/2/2026) malam WIB. – (BPMI Setpres)
Kunjungan ke Islamabad dan Pembicaraan Pertahanan
Sebelumnya, dalam kunjungan ke Islamabad, Senin (12/1/2026), Menhan Sjafrie menemui tiga tokoh penting di Pakistan yang berkaitan dengan pertahanan. Mereka adalah Menteri Produksi Pertahanan Pakistan Muhammad Raza Hayat Harraj, Panglima Angkatan Bersenjata (Chief of Defence Forces/CDF) Pakistan Marsekal Lapangan Syed Asim Munir, dan KSAU Pakistan Marsekal Zaheer Ahmad Babar Sidhu.
Pertemuan Sjafrie dan KSAU Pakistan membahas potensi kesepakatan yang mencakup penjualan jet tempur dan drone kamikaze. Informasi itu disampaikan tiga pejabat keamanan kepada Reuters, yang mengetahui pertemuan tersebut.
Salah satu sumber mengatakan pembicaraan tersebut berkisar pada penjualan jet JF-17 Thunder Block III. Pesawat tempur multiperan tersebut dikembangkan bersama oleh Pakistan dan China. Plus drone Shahpar-ll yang dirancang untuk pengawasan dan menyerang target.
Dua sumber lainnya mengatakan pembicaraan tersebut berada pada tahap lanjut dan melibatkan lebih dari 40 unit jet JF-17. Sumber-sumber tersebut tidak membagikan diskusi apa pun tentang jadwal pengiriman dan jumlah tahun yang akan dicakup oleh kesepakatan yang diusulkan.







