Konflik Tetangga Berujung Kekerasan di Jakarta Barat
Sebuah video yang menunjukkan seorang pria dianiaya oleh tetangganya di wilayah Kapuk, Jakarta Barat, beredar luas di media sosial. Kejadian ini memicu perhatian masyarakat dan mengundang pertanyaan tentang bagaimana konflik bisa berkembang hingga menjadi tindakan kekerasan.
Konflik bermula dari keluhan korban terhadap aktivitas pelaku yang sering bermain drum, yang dianggap mengganggu ketenangan lingkungan. Protes tersebut tidak disampaikan secara langsung oleh korban, melainkan melalui pejabat RT dan RW setempat. Namun, situasi memburuk ketika istri korban menegur pelaku secara langsung saat ia kembali berisik. Dari sini, cekcok pun tak terhindarkan.
Keadaan semakin memanas ketika ayah pelaku datang dengan mengendarai mobil dan menabrak korban serta istrinya. Setelah itu, pelaku langsung mencekik korban dan menendang kepalanya. Peristiwa ini kemudian dilaporkan kepada pihak berwajib.
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Arfan Zulkan Sipayung, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyatakan bahwa polisi telah menerima laporan dari korban dan segera menindaklanjuti kasus ini. “Terkait penganiayaan di Kapuk, Jakarta Barat sudah dibuat laporan kemarin, akan kita tindak lanjuti,” ujar Arfan saat dikonfirmasi.
Meski begitu, Arfan belum memberikan informasi lebih lanjut mengenai motif maupun kronologi penganiayaan karena masih dalam proses penyelidikan. “Yang pasti, kita akan gerak cepat untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat,” tambahnya.
Kompas.com juga mencoba menghubungi korban melalui pesan langsung di Instagram untuk mengetahui kronologi kejadian. Namun, hingga kini belum mendapatkan respons.
Pelatih Taekwondo Tidak Menyerang Balik Saat Diintimidasi
Selain kejadian di Jakarta Barat, ada kasus lain yang menarik perhatian. Seorang pelatih taekwondo bernama Bima (39) memilih tidak menyerang balik saat diintimidasi oleh pengendara motor yang melawan arah di Jalan Sadar Raya, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Rabu (19/11/2025).
Bima menjelaskan alasan tidak menyerang balik. Ia mengatakan bahwa ilmu bela diri yang ditekuninya bukan untuk menyerang orang, melainkan untuk bertahan diri. “Memang kami bela diri, kan, dilatih untuk berpikir logis. Sekeras apapun tekanannya, saya berpikir logis,” jelas Bima.
Terlebih, saat kejadian, Bima sedang memakai baju yang menampilkan logo lembaga taekwondo tempat ia mengajar. Ia tak ingin mencoreng nama baik taekwondo. “Saya juga takut dicap arogan oleh orang lain jika mengetahui dirinya sebagai pelatih taekwondo,” tambahnya.
Ia juga ingin melindungi istrinya yang membonceng di belakang. “Saya paham bela diri yang saya pakai, apa yang saya pelajari, itu memang bukan buat itu,” ujarnya.
Bima hanya melakukan pertahanan saat terus dipukuli oleh pengendara motor. “Saya defense kok. Saya ambil tangannya, saya banting, saya jatuhkan,” kata dia.
Peristiwa bermula ketika Bima menegur pengendara motor yang melawan arah. Akibatnya, ia harus ke pinggir jalan hingga mengenai tiang listrik. “Nah, di situ, saya karena spontan, ya kaget, saya teriaklah kata-kata kasar gitu,” ungkap Bima.
Pengendara motor berhenti di dekat minimarket dan memutar arah sambil berteriak memanggil Bima. Ketika Bima mendatanginya, pria itu langsung memukul dengan helmnya. “Saya pikir, ya mungkin mau ngomel kali, ya sudahlah, gitu, enggak apa-apa. Saya samperin.”
“Saya belum bicara apa-apa, saya ditanduk pakai helm,” jelas dia. Bima dipukul cukup keras sehingga kacamata yang dipakainya pecah dan melukai bagian mata. Selain itu, kaca helm Bima juga terlepas.
Bima tidak memberikan perlawanan. Ia berusaha mengambil kacamatanya dengan menunduk. Namun, pelaku terus memukul dan mengenai punggung Bima. Bima pun melakukan upaya pertahanan.
“Saya kondisi lagi nyari kacamata ke bawah, dia itu ambil kesempatan, dia pukul dada saya, saya defense. Saya ambil tangannya, saya banting, saya jatuhkan,” ujar dia.
Pelaku berulang kali memukul Bima hingga dipisahkan oleh warga setempat. Setelah itu, pelaku pergi sambil berteriak pada Bima. Bima sempat ingin mengajak pengendara motor ke Polsek Jagakarsa, tapi pelaku menolak.
“Dia bilang, ‘Laporkan saja, urus dulu itu lukamu’, katanya gitu, ‘Urus dulu darahmu’, katanya gitu,” sebut Bima. Akhirnya, Bima pergi ke kantor polisi untuk membuat laporan.
Di situ, ia diarahkan untuk melakukan visum. Hasilnya, terdapat luka memar di dada dan rusuk, serta lecet dan gores di kaki. Terdapat tiga luka memar dan bengkak di area wajahnya.
Kapolsek Jagakarsa, AKP Nurma Dewi, membenarkan kejadian tersebut. Saat ini, sudah ada empat orang yang diminta keterangan. Polisi juga sedang berusaha mengidentifikasi pelaku dari video yang direkam istri Bima.
“Sudah (ada laporan). Lagi dicari pelakunya,” kata Nurma, dihubungi terpisah, Jumat.







