Memahami Makna dan Persiapan Menghadapi Bulan Ramadhan
Kita kini berada di penghujung bulan Sya’ban 1447 H. Artinya, bulan Ramadhan yang merupakan bulan yang paling dinanti oleh umat Islam tinggal menghitung hari. Tidak hanya sebagai perubahan dalam kalender hijriyah, tetapi juga sebagai momen penting untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah.
Terkait kapan jatuhnya 1 Ramadhan 1447 H, apakah pada 18 atau 19 Februari 2026, sejatinya kita menunggu hasil sidang isbat penetapan awal Ramadhan oleh pemerintah yang akan dilaksanakan pada Selasa, 17 Februari 2026, bertepatan dengan pemantauan hilal di berbagai titik di seluruh Indonesia. Namun, yang lebih penting adalah memahami makna sebenarnya dari Ramadhan.
Ramadhan bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriah. Ia adalah momentum pembinaan spiritual yang menuntut kesadaran dan kesungguhan. Umat Islam diajak memperbaiki orientasi hidup, menata ulang hubungan dengan Allah dan sesama, serta menjadikan ibadah sebagai jalan transformasi diri menuju ketakwaan yang nyata.
Karena itu, menyambut Ramadhan tidak cukup hanya dengan persiapan lahiriah. Persiapan harus dimulai dari batin. Inilah saat yang tepat bagi kita untuk kembali kepada Allah swt dengan taubat yang sungguh-sungguh, membersihkan hati dari kebencian dan kedengkian, serta menata ulang orientasi hidup agar Ramadhan tidak sekadar datang dan pergi, melainkan benar-benar mendekatkan kita kepada-Nya.
Persiapan Menyambut Ramadhan yang Matang
Ramadhan adalah tamu agung. Maka, menyambutnya sudah semestinya dilakukan dengan penuh suka cita dan persiapan terbaik. Bahkan, persiapan menyambut Ramadhan seharusnya melebihi persiapan terhadap agenda penting lainnya. Sebab, Ramadhan merupakan anugerah luar biasa dan kesempatan emas yang belum tentu kembali kita jumpai.
Bertemu dengan Ramadhan merupakan nikmat besar yang patut disyukuri. Bisa jadi, kita telah berjumpa dengan Ramadhan puluhan kali. Namun, tidak ada jaminan bahwa Ramadhan tahun ini akan kembali kita temui di tahun-tahun berikutnya. Pertanyaan sederhana patut kita renungkan: Ramadhan akan datang, tetapi apakah kita masih akan dipertemukan dengannya?
Karena itu, berdoa agar diberi umur, kesehatan, dan kesempatan untuk menjalani Ramadhan menjadi ikhtiar penting yang perlu dilakukan sejak dini. Para sahabat Nabi dan ulama terdahulu menyambut Ramadhan dengan kegembiraan sekaligus persiapan yang matang. Abdul Majid mengutip nasihat ulama besar Al-Azhar, Syaikh Ali Jum’ah, bahwa orang yang bijak akan menjadikan bulan Sya’ban sebagai masa latihan dan persiapan menuju Ramadhan.
Langkah-Langkah Persiapan yang Perlu Dilakukan
Agar Ramadhan lebih maksimal dan bermakna, persiapan perlu dilakukan sejak dini. Berikut beberapa langkah persiapan yang dapat dilakukan:
Persiapan spiritual: Dengan meningkatkan ibadah sebelum Ramadhan. Memperbanyak zikir, istighfar, serta melatih diri melalui puasa sunnah di bulan Rajab dan Sya’ban merupakan langkah awal yang sangat dianjurkan.
Menjaga kesehatan fisik: Puasa, qiyamul lail, dan berbagai aktivitas ibadah lainnya memerlukan tubuh yang sehat. Menjaga pola makan, istirahat yang cukup, dan kebugaran sebelum Ramadhan merupakan bagian dari ikhtiar agar ibadah dapat dijalankan secara optimal.
Bekal ilmu: Memahami fikih puasa, zakat, i‘tikaf, serta amalan-amalan sunnah Ramadhan akan membantu kita menjalankan ibadah secara benar dan bermakna. Mengikuti kajian atau membaca buku tentang Ramadhan dapat menjadi sarana untuk memperdalam pemahaman sekaligus menumbuhkan semangat beribadah.
Persiapan harta (māl): Ramadhan adalah bulan kebaikan dan kepedulian sosial. Menyisihkan dana untuk sedekah dan infak, serta berpartisipasi dalam penyediaan makanan berbuka puasa (māidah ar-raḥmān) bagi mereka yang membutuhkan, merupakan amalan yang sangat dianjurkan dan bernilai besar di sisi Allah.
Perencanaan dan penetapan target Ramadhan: Menyusun jadwal ibadah, menetapkan target khataman Al-Qur’an, meningkatkan kualitas shalat berjamaah, qiyamul lail, serta sedekah akan membantu kita lebih disiplin. Checklist harian juga dapat menjadi sarana evaluasi agar Ramadhan tidak berlalu tanpa makna.
Keistimewaan Bulan Ramadhan
Rasulullah Saw. bersabda bahwa Ramadhan adalah bulan penuh berkah; pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Senada dengan itu, Syaikh Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan paling mulia karena menjadi awal turunnya Al-Qur’an dan puncak ketaatan seorang hamba kepada Allah.
Kesempatan emas ini akan terbuang sia-sia jika tidak disambut dengan persiapan yang matang. Karena itu, mari sambut Ramadhan 1447 H dengan semangat baru dan tekad yang kuat. Jadikan bulan tersebut sebagai momentum untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta meraih keberkahan dan derajat takwa yang dijanjikan oleh Allah Swt.
Semoga kita semua diberi kekuatan dan kesempatan untuk bertemu serta menjalani Ramadhan tahun ini dengan penuh keberkahan. Kita juga berdoa agar saudara-saudara kita yang tengah ditimpa musibah segera diberi kekuatan, pemulihan, dan kemudahan, sehingga dapat menyambut dan menjalani ibadah Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Aamiin.







