Angkringan Sederhana di Klaten yang Menginspirasi dengan Semangat Lansia
Di Kabupaten Klaten, banyak angkringan yang menawarkan pengalaman unik dan lezat. Salah satu yang kini menjadi perhatian adalah angkringan milik pasangan lansia di Kecamatan Bayat. Warung ini sempat viral di media sosial karena semangat mereka dalam berjualan meskipun sudah memasuki usia senja.
Angkringan sederhana ini memiliki suasana hangat, harga terjangkau, serta menu khas angkringan yang menggugah selera. Pasangan lansia tersebut, Suhardi (80) dan Tugiyem (75), tetap menjaga semangat kemandirian meski usia mereka tidak lagi muda. Mereka membuka warung angkringan di tepi Jalan Sunan Pandanaran, Dukuh Ngaren, Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.
Warung yang mereka kelola berdiri tepat di depan rumah tinggalnya. Bangunan lama dari kayu berukuran sekitar 3×5 meter menjadi tempat mereka melayani pelanggan setiap hari. Dari luar, warung tersebut tampak sangat sederhana. Tidak ada papan nama atau penanda khusus yang menunjukkan bahwa tempat itu adalah warung makan.
Hanya terlihat beberapa kursi panjang yang berjajar di depan bangunan kayu yang juga dibuat dari bambu dan papan. Namun begitu melangkah masuk, suasana hangat langsung terasa. Di sisi kiri pintu masuk, pasangan lansia ini masih tampak cekatan menyiapkan minuman dan memasak pesanan pelanggan. Sementara di sisi kanan ruangan terdapat sebuah meja besar dengan dua kursi panjang. Di atas meja itu tersaji beragam makanan khas angkringan seperti nasi bungkus, gorengan, roti, kerupuk hingga olahan bacem goreng.
“Sejak tahun ’95 (buka usaha), dari awalnya ya wis kaya ngene iki. Iki urung berubah apa-apa (dari awal begini penataannya, ini belum berubah apa-apa),” ujar Suhardi kepada wartawan.
Secara menu, makanan yang dijual sebenarnya tidak jauh berbeda dengan angkringan pada umumnya. Namun nuansa hangat dan kesan jadul terasa begitu kuat di warung ini. Salah satunya terlihat dari rak susun kayu yang berada di atas meja makan, yang digunakan untuk menata berbagai hidangan bagi para pelanggan.

Suhardi sendiri akrab disapa Pak Wo, singkatan dari “pak tuwo”. Panggilan tersebut biasa digunakan oleh para pelanggan maupun warga sekitar. Ia bercerita, sebelum membuka angkringan, dirinya sempat berjualan secara keliling. “Dulu sempat berjualan ojek pentol sama es krim keliling, karena sudah tua sekarang sudah enggak,” ucap pria yang memiliki enam anak dan sembilan cucu tersebut.
Usaha angkringan kemudian ia jalankan bersama sang istri di depan rumah mereka. Salah satu menu andalan di angkringan ini adalah wedang teh jahe gepuk. Selain minuman hangat, tersedia pula minuman dingin, susu, hingga kopi saset. Untuk makanan, tersedia nasi bungkus dengan dua varian yakni nasi goreng dan nasi lauk bandeng sambal. Ada pula jajanan ojek pentol yang turut melengkapi menu.
Harga makanan dan minuman di angkringan Pak Wo terbilang sangat terjangkau. Pengunjung cukup merogoh kocek mulai dari Rp1.000 hingga Rp8.000 saja. Lokasi warung ini berada di pinggir jalan, sekitar 100 meter sebelum Masjid Agung Sunan Pandanaran atau yang dikenal juga sebagai Masjid Golo, di sisi kanan jalan.
Tetap Mandiri di Usia Senja
Bagi Suhardi dan Tugiyem, berjualan bukan sekadar mencari penghasilan. Keduanya ingin tetap mandiri dan aktif meskipun sudah memasuki usia senja. “Ya karena gak pengen jagani anak, sekalian buat aktivitas gerak,” ucap Suhardi sambil tersenyum.
Ia mengaku sebenarnya anak-anak mereka sudah beberapa kali meminta agar keduanya tidak lagi bekerja. Namun semangat untuk tetap beraktivitas membuat pasangan ini memilih terus membuka warung angkringan. Angkringan Pak Wo biasanya buka setiap hari mulai pukul 11.00 WIB hingga sekitar pukul 21.00 WIB. “Tutupnya tidak mesti, kalau ada acara, atau kalau sudah capek tutup (angkringan) buat istirahat,” jelasnya.
Sempat Viral di Media Sosial
Warung angkringan Pak Wo sempat viral di media sosial. Banyak warganet yang membagikan cerita tentang pasangan lansia yang tetap berjualan dengan penuh semangat. Sejak saat itu, pengunjung yang datang tidak hanya warga sekitar atau pengguna jalan yang melintas. Banyak juga yang datang khusus untuk mencoba kuliner di tempat tersebut.
Salah satunya Aris Agustam (44), warga Kelurahan Sekarsuli, Kecamatan Klaten Utara. Ia datang bersama keluarga besarnya setelah mengetahui angkringan tersebut dari media sosial. “Sengaja mampir ke sini, katanya mbahnya ini kan terkenal katanya viral gitu. Makanya nyobain,” ujar Aris.
Saat berkunjung, Aris memesan minuman teh jahe yang menjadi salah satu menu andalan. Menurutnya, minuman tersebut memiliki rasa yang nikmat. “Ternyata teh jahe nya mantap, mantap sekali,” pungkasnya.







