Lontong, Makanan Tradisional yang Memiliki Makna Mendalam
Lontong adalah salah satu makanan khas Indonesia yang sangat populer, terutama di Solo sebagai pelengkap berbagai hidangan. Makanan ini terbuat dari beras yang dibungkus daun pisang dan direbus hingga matang. Di Solo Raya, Jawa Tengah, lontong sering digunakan sebagai alternatif nasi dan biasanya disajikan bersama sate ayam, soto, opor, gado-gado, lotek, atau bakso.
Lontong tidak hanya sekadar pengganti nasi, tetapi juga menjadi bagian penting dari tradisi kuliner di berbagai daerah, termasuk Solo. Bahkan, lontong menjadi sajian wajib menjelang Hari Raya Idul Fitri, melengkapi hidangan lebaran di setiap rumah.
Asal-Usul Lontong dan Adaptasi Lokal
Lontong berkembang di masyarakat Jawa sebagai makanan yang sederhana namun memiliki makna mendalam. Ada teori yang menyebut bahwa lontong versi isian sayuran dan ayam, yang dikenal sebagai arem-arem, merupakan adaptasi lokal dari bakcang Tionghoa. Bentuknya dimodifikasi agar halal dan silindris panjang, menyesuaikan selera masyarakat Jawa pasca masuknya Islam ke Nusantara.
Di Solo, lontong menjadi pendamping utama berbagai hidangan khas seperti sate, opor ayam, rendang, tahu masak, dan gulai kambing. Versi arem-arem juga menjadi bagian dari tradisi makanan lokal yang menggabungkan unsur budaya Tionghoa dengan nilai-nilai keislaman.
Penyebaran Lontong sebagai Syiar Islam
Sejarah lontong tak lepas dari penyebaran Islam di Jawa. Catatan sejarah mencatat bahwa pada abad ke-15 dan 16, Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, menggunakan lontong sebagai sarana syiar Islam. Melalui kuliner ini, nilai-nilai Islam diperkenalkan secara halus kepada masyarakat Jawa.
Sejak itu, lontong bersama ketupat menyebar ke berbagai daerah di Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura, melalui perantau asal Indonesia. Namun, versi lontong di negara-negara tersebut mengalami modifikasi tersendiri, berbeda dari lontong asli Indonesia.
Proses Pembuatan Lontong Tradisional
Membuat lontong terbilang sederhana, namun memerlukan ketelitian. Proses tradisional dimulai dengan mencuci dan merendam beras selama 2–3 jam agar lebih padat setelah dimasak. Daun pisang dipotong, dilayukan di atas api kecil agar lentur, lalu digulung membentuk tabung silinder dan disemat ujungnya dengan lidi.
Beras kemudian dimasukkan hingga ⅔ bagian tabung, ujung ditutup, dan lontong direbus selama 4–5 jam dengan air yang selalu dijaga agar cukup. Setelah matang, lontong ditiriskan dan didinginkan agar padat. Lontong siap disajikan dengan sayur lodeh, gulai, opor ayam, atau sate, tergantung selera.
Versi modern di rumah bisa menggunakan pressure cooker untuk mempercepat proses, namun teknik gulung dan perebusan tetap penting untuk mendapatkan tekstur padat dan aroma khas daun pisang.







