Pembicaraan Diplomasi dan Sanksi Ekonomi: Dua Jalur yang Berbeda
Pembicaraan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat di Muscat, Oman, disambut dengan harapan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia menyebut pertemuan tersebut sebagai “awal yang baik”. Namun, hanya beberapa jam setelah pembicaraan selesai, Washington mengumumkan paket sanksi baru yang menargetkan ekspor minyak Iran. Kedua peristiwa ini menggambarkan dinamika hubungan antara kedua negara yang penuh kontras.
Suasana Hangat di Tengah Gurun
Pembicaraan yang difasilitasi oleh Oman pada hari Jumat (22/11) berlangsung dalam suasana hati-hati namun penuh harap. Araghchi, usai berdialog dengan delegasi AS yang dipimpin oleh Utusan Khusus Presiden Steve Witkoff dan Jared Kushner, menyampaikan kesan positif kepada wartawan. Ia mengatakan bahwa semua kepentingan dan kekhawatiran Iran telah tersampaikan dalam atmosfer yang konstruktif, sementara pandangan pihak Amerika juga didengar.
Pernyataan Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr bin Hamad Al Busaidi, memperkuat kerangka diplomasi ini. Dalam pernyataan resmi di akun X, Kementerian Luar Negeri Oman menegaskan bahwa konsultasi terpisah dengan kedua delegasi berfokus pada “penciptaan kondisi yang tepat untuk dimulainya kembali negosiasi diplomatik dan teknis”.
Oman, dengan peran tradisionalnya sebagai mediator tenang di kawasan, menekankan komitmennya untuk menjembatani perbedaan dan mendukung pencapaian solusi politik yang membawa keamanan dan stabilitas jangka panjang.
Laporan dari media Lebanon, Al Mayadeen, memberikan gambaran yang lebih netral. Menurut mereka, atmosfer pembicaraan “tidak positif maupun negatif”, dengan agenda yang sangat ketat hanya seputar program nuklir Iran. Namun, fakta bahwa pertemuan ini bisa terselenggara, meski sementara, dinilai sebagai langkah penting untuk meredam ketegangan dan mengurangi risiko konfrontasi militer yang kerap menghantui Teluk Persia.
Sanksi Menghancurkan Harapan
Namun, oasis diplomasi di Muscat segera dikelilingi badai sanksi dari Washington. Hanya beberapa saat setelah pembicaraan usai, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat secara resmi mengumumkan paket sanksi baru untuk membatasi ekspor minyak Iran.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Tommy Pigott, dengan tegas menyatakan alasan di balik langkah ini. “Iran menggunakan pendapatan minyak untuk ‘mendanai kegiatan destabilisasi di seluruh dunia dan meningkatkan penindasan di dalam Iran,’” katanya.
Ia menegaskan komitmen Presiden Donald Trump untuk terus menekan ekspor minyak dan petrokimia “ilegal” Iran sebagai bagian dari kebijakan “tekanan maksimum”.
Sanksi kali ini secara spesifik menargetkan 14 kapal tanker yang diduga mengangkut minyak Iran, termasuk beberapa yang berbendera Turki dan India. Transaksi apa pun dengan kapal-kapal tersebut akan diblokir.
Tak hanya itu, Washington juga menjatuhkan sanksi terhadap 15 entitas dan dua individu yang dianggap mendukung jaringan ekspor energi Iran. Langkah ini adalah kelanjutan dari kebijakan yang telah dimulai sejak masa pemerintahan pertama Trump, yang bertujuan memaksa semua negara menghentikan impor minyak dari Tehran.
Dua Langkah Maju, Satu Langkah Mundur?
Situasi yang terjadi pada Jumat itu adalah potret nyata dari dinamika hubungan AS-Iran yang penuh paradoks. Di satu sisi, ada keinginan yang tampak nyata, bahkan dari pihak yang bertahun-tahun berseberangan, untuk duduk dan berbicara.
Pembicaraan di Muscat, meski tidak langsung, adalah kanal komunikasi penting yang bisa mencegah kesalahpahaman yang berbahaya. Pernyataan Araghchi dan dukungan kuat Oman menunjukkan adanya ruang yang sangat kecil, namun nyata, untuk manuver diplomatik.
Di sisi lain, logika “tekanan maksimum” dari Washington tampaknya tidak akan dikompromikan. Pengumuman sanksi yang hampir bersamaan dengan berakhirnya pembicaraan mengirimkan pesan yang jelas: Amerika Serikat tidak akan melunakkan posisinya di meja perundingan.
Sanksi adalah alat leverage utama, dan penggunaannya justru diintensifkan di saat dialog dibuka. Bagi Iran, ini bisa dilihat sebagai sikap tidak baik hati dan merusak “suasana positif” yang baru saja dibangun.
Konteks domestik juga tidak boleh diabaikan. Pembicaraan ini terjadi di tengah gelombang protes dalam negeri Iran yang ditangani dengan keras oleh pemerintah, serta ancaman militer AS yang terus menggelayut.
Bagi pemerintahan Trump, menunjukkan ketegasan melalui sanksi mungkin diperlukan untuk menangkapi kritik dari pihak yang menentang pendekatan diplomatik dengan Tehran. Bagi pemerintah Iran, mereka harus menunjukkan kepada publik bahwa diplomasi bisa membawa hasil nyata, meski tekanan justru meningkat.
Jalan ke depan tetap berliku. Kesepakatan untuk “melanjutkan pembicaraan” adalah secercah harapan, tetapi ketiadaan jadwal pasti dan terus berlanjutnya sanksi menciptakan ketidakpastian yang besar. Oman dan mitra regional lainnya akan terus memainkan peran krusial sebagai penjaga pintu dialog tetap terbuka.
Namun, pada akhirnya, keberhasilan proses ini akan ditentukan oleh kemampuan kedua pihak, Washington dan Tehran, untuk mengelola ekspektasi, membangun kepercayaan secara konkret di tengah saling menekan, dan menemukan titik temu antara keamanan nasional masing-masing dengan perdamaian regional yang lebih luas. Pertanyaan besarnya tetap: akankah “awal yang baik” ini mampu bertahan di tengah badai sanksi yang tak kunjung reda?







