Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara yang Mengagumkan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Maluku Utara pada tahun 2025 tumbuh secara signifikan, mencapai 34,17 persen (c-to-c) dengan nilai PDRB ADHB sebesar Rp133,62 triliun. Pertumbuhan ini menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia, terutama setelah mencatatkan pertumbuhan sebesar 32,09 persen pada Triwulan III 2025.
Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara didorong utamanya oleh sektor industri pengolahan nikel dan hilirisasi. Pada kuartal II 2025, sektor ini mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 32,09 persen yoy. Tanda-tanda pertumbuhan ini mulai terlihat dari tahun sebelumnya, yaitu 2024, yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 13,37 persen.
Indikator pertumbuhan ekonomi merupakan alat ukur kinerja perekonomian suatu negara dalam periode tertentu, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai indikator utamanya. Selain itu, indikator lainnya mencakup peningkatan pendapatan per kapita, penurunan angka pengangguran, penurunan tingkat kemiskinan, serta stabilitas inflasi dan nilai tukar.
Perhatian dari Gubernur Sulawesi Tenggara
Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka menyampaikan pujian terhadap capaian Provinsi Maluku Utara yang dipimpin oleh Gubernur Sherly Tjoanda. Ia mengakui bahwa capaian tersebut masih berada di bawah beberapa provinsi lain yang mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi. Namun, ia mengakui bahwa Maluku Utara telah mencapai posisi nomor satu dalam pertumbuhan ekonomi.
“Alhamdulillah, saat ini saya masih berada di posisi nomor lima, sementara Ibu Sherly berada di posisi nomor satu,” katanya. Ia juga menyadari bahwa ketika berbicara tentang kesuksesan, dirinya belum bisa dibandingkan dengan Ibu Sherly. Bagaimana Ibu Sherly bisa mencapai angka 33 persen, tentu karena beliau banyak berdiskusi dan berusaha mencari cara untuk meningkatkan pencapaian hingga 30 persen.
Kebijakan dan Strategi yang Diambil
Sherly Tjoanda mengakui bahwa pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada 2025 menjadi yang tertinggi di Indonesia. “Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara year on year mencapai 34 persen, tertinggi se-Indonesia. Ini terjadi karena hilirisasi nikel,” ujarnya.
Menurut Sherly, provinsi yang dipimpinnya memproduksi sekitar 40 hingga 50 persen nikel Indonesia, bahkan sekitar 20 persen dari produksi nikel dunia. Namun dibalik pertumbuhan tersebut, ia mengakui pembangunan di Maluku Utara masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam pemerataan ekonomi dan kesiapan sektor pendukung.
Ia menjelaskan, kebutuhan pangan dan logistik di wilayahnya masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah. “Sekitar 80 persen kebutuhan Maluku Utara masih dipasok dari luar, terutama dari Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan,” katanya.
Karena itu, Sherly secara khusus mengundang para pengusaha Bugis yang memiliki pengalaman dalam perdagangan, pelayaran, logistik hingga sektor peternakan untuk melihat langsung peluang usaha di daerahnya.
Peluang Investasi di Sektor Peternakan dan Perikanan
Sherly memaparkan sejumlah peluang investasi yang menurutnya masih terbuka lebar di Maluku Utara. Untuk sektor peternakan ayam misalnya, dengan jumlah penduduk sekitar 1,4 juta jiwa, kebutuhan ayam mencapai sekitar 25.000 ton per tahun. Dengan asumsi harga Rp40 ribu per kilogram, nilai pasar ayam di Maluku Utara diperkirakan mendekati Rp1 triliun.
“Padahal harga ayam di Maluku Utara sekarang bisa Rp50 ribu sampai Rp55 ribu per kilo karena biaya logistik yang tinggi. Artinya peluang membangun peternakan ayam masih sangat besar,” jelasnya.
Hal serupa juga terjadi pada komoditas telur. Dengan asumsi satu penduduk mengonsumsi satu butir telur per hari, kebutuhan tahunan mencapai sekitar 400 juta butir. Jika dihitung dengan harga Rp2.000 per butir, potensi pasarnya mencapai sekitar Rp800 miliar per tahun.
“Di Maluku Utara harga telur rata-rata Rp2.500. Jadi potensinya masih sangat luas,” kata Sherly.
Selain sektor peternakan, Sherly juga menyoroti potensi besar sektor perikanan di kawasan Maluku, Maluku Utara, dan Sulawesi Utara. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, potensi perikanan di wilayah tersebut diperkirakan mencapai Rp14 triliun. Namun hingga kini baru sekitar 20 persen yang dimanfaatkan.
Pengembangan Industri Kelapa
Sherly juga menyinggung potensi komoditas kelapa di Maluku Utara yang saat ini produksinya mencapai sekitar 1,5 miliar butir per tahun. Namun ia menilai produktivitas lahan masih bisa ditingkatkan. Saat ini satu hektare kebun kelapa rata-rata hanya ditanami 70 hingga 80 pohon, padahal idealnya bisa mencapai 120 pohon per hektare.
Seiring dengan peningkatan bibit dan pembangunan industri pengolahan, produksi kelapa diproyeksikan meningkat pesat. Saat ini dua pabrik pengolahan kelapa telah beroperasi dan satu pabrik lainnya sedang dalam tahap pembangunan. Produk yang dihasilkan antara lain coconut milk dan desiccated coconut yang diekspor ke China.
“Sekarang ekspor sekitar 300 kontainer per bulan. Jika pabrik ketiga selesai pada 2027, targetnya bisa mencapai 1.000 kontainer per bulan,” ungkapnya.
Maluku Utara sebagai Gerbang Ekonomi Baru
Dalam kesempatan tersebut, Sherly menegaskan Maluku Utara kini tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran Indonesia. Menurutnya, provinsi tersebut tengah dibangun sebagai pintu gerbang ekonomi baru di kawasan Indonesia Timur.
“Kalau dulu orang bilang Maluku Utara itu di pinggiran timur Indonesia, sekarang kami branding sebagai gerbang ekonomi baru Indonesia Timur,” katanya. Ia pun mengundang para saudagar Bugis untuk mengambil bagian dalam peluang ekonomi tersebut.
“Jika para pedagang Bugis siap, kami tunggu di Maluku Utara,” katanya.







