Kualitas udara di beberapa kota besar Indonesia pada pagi ini tercatat sangat memprihatinkan. Berdasarkan data yang dirilis oleh situs IQAir, wilayah seperti Surabaya, Tangerang Selatan, dan Tangerang menunjukkan angka Indeks Kualitas Udara (AQI) yang melebihi 150, sehingga masuk dalam kategori “tidak sehat”. Hal ini berarti masyarakat umumnya, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru, dapat mengalami dampak negatif terhadap kesehatan.
IQAir menyampaikan bahwa ketika kualitas udara dikategorikan tidak sehat, efek kesehatan mulai terasa. Mereka menyarankan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang rentan. BMKG juga telah memberikan imbauan serupa, yaitu menggunakan masker saat berada di daerah dengan tingkat polusi tinggi.
Berikut adalah lima kota besar di Indonesia dengan kualitas udara terburuk pagi ini:
- Surabaya, Jawa Timur: AQI mencapai 176 atau dalam kategori “tidak sehat”.
- Tangerang Selatan, Banten: AQI sebesar 172 atau dalam kategori “tidak sehat”.
- Tangerang, Banten: AQI mencapai 154 atau dalam kategori “tidak sehat”.
- Jakarta: AQI sebesar 127 atau dalam kategori “tidak sehat bagi kelompok sensitif”.
- Bandung, Jawa Barat: AQI sebesar 107 atau dalam kategori “tidak sehat bagi kelompok sensitif”.
Sementara itu, Palangkaraya di Kalimantan Tengah menjadi kota dengan kualitas udara terbaik pagi ini, dengan AQI sebesar 37. Disusul Pekanbaru di Riau dengan AQI 62, meskipun masih termasuk dalam kategori “sedang”.
Di skala global, kota-kota dengan kualitas udara terbaik antara lain Milan, Italia dengan AQI 0; Kopenhagen, Denmark dengan AQI 6; dan Oslo, Norwegia dengan AQI 7. Ketiga kota tersebut memiliki kualitas udara yang tergolong baik.
Namun, keadaan berbeda terjadi di beberapa kota luar negeri. Kota Chiang Mai, Thailand, memiliki kualitas udara yang sangat tidak sehat dengan AQI mencapai 206. Berikut daftar kota-kota dengan kualitas udara terburuk di dunia:
- Chiang Mai, Thailand: AQI 206 atau dalam kategori “sangat tidak sehat”.
- Delhi, India: AQI 193 atau dalam kategori “tidak sehat”.
- Kinshasa, Republik Demokratik Kongo: AQI 166 atau dalam kategori “tidak sehat”.
- Dhaka, Bangladesh: AQI 164 atau dalam kategori “tidak sehat”.
- Kathmandu, Nepal: AQI 163 atau dalam kategori “tidak sehat”.
Indeks AQI merupakan metode pengukuran kualitas udara yang didasarkan pada konsentrasi polutan. Biasanya, indeks ini mempertimbangkan enam jenis polutan utama, yaitu PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah. Setiap polutan dihitung berdasarkan risiko kesehatannya pada waktu tertentu.
Nilai AQI keseluruhan ditentukan oleh polutan yang paling berbahaya, dengan angka AQI tertinggi. Rentang nilai AQI berkisar dari 0 hingga 500, dibagi ke dalam enam kategori:
- Baik: 0–50
- Sedang: 51–100
- Tidak sehat bagi kelompok sensitif: 101–150
- Tidak sehat: 151–200
- Sangat tidak sehat: 200–299
- Berbahaya: 300–500
Kualitas udara dalam kategori “sangat tidak sehat” dapat merugikan kesehatan bagi sebagian populasi yang terpapar. Sementara itu, kualitas udara dalam kategori “berbahaya” bisa menyebabkan dampak kesehatan yang serius bagi seluruh populasi.







