Pusat Edukasi Lingkungan Surabaya: Ruang Belajar Lintas Generasi
Surabaya, kota yang terus berkembang, kini menghadirkan inisiatif baru dalam upaya menjaga keberlanjutan lingkungan. Kota ini sedang membangun pusat edukasi lingkungan yang akan menjadi ruang rekreasi edukatif, pusat konservasi, sekaligus paru-paru kota. Lokasi utama dari proyek ini adalah Taman Mozaik di Jalan Wiyung Praja.
Pusat edukasi ini dirancang untuk memberikan pemahaman mendalam tentang pengelolaan sampah, konservasi alam, serta dampak perubahan iklim. Fasilitas ini tidak hanya mengajarkan konsep reduce, reuse, dan recycle, tetapi juga menyajikan ilmu sains tentang cuaca ekstrem dan hubungannya dengan kesehatan manusia.
Ikon Utama: Paviliun Edukasi Mozaik
Bangunan utama dari pusat edukasi ini adalah Paviliun Edukasi Mozaik. Arsitektur bangunan ini dirancang ramah lingkungan dengan dinding bermotif warna-warni. Selain itu, kawasan ini juga akan menjadi tempat untuk berbagai kegiatan edukasi dan penelitian lingkungan.
Pembangunan kawasan ini dilakukan melalui kolaborasi antara Rotary Club of Surabaya Kaliasin dengan Pemerintah Kota Surabaya. Berbagai pihak juga turut serta sebagai mentor dan pendamping program, salah satunya adalah dr. Paul Agus Dwiyanu, SpP, Pembina Yayasan Kabar Dokter Universitas Wijaya Kusuma Surabaya dan Pembina PADI Medika Indonesia.
Peletakan Batu Pertama
Pembangunan kawasan edukasi ini ditandai dengan peletakan batu pertama pada Minggu (8/2/2026). Momentum ini menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan kota.
Rohmawati, S.E., Program Director Global Grant #2457789 mengatakan bahwa kawasan ini akan menjadi ruang belajar lintas generasi dan menjadi program yang berkelanjutan.
“Hari ini kami bersama Pemkot Surabaya melaksanakan kegiatan penanaman 500 pohon/tanaman serta Peletakan Batu Pertama gedung Rotary Educational Park Learning Center di Taman Mozaik. Tempat ini bisa dieksplorasi anak cucu kita untuk belajar lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kawasan tersebut juga menjadi bagian dari program Global Grant #2457789 Rotary Club of Surabaya Kaliasin dan Novato USA yang bertujuan membangun pusat pelatihan lingkungan bagi masyarakat.
Salah satu fokusnya adalah pengelolaan sampah dan pengembangan produk ramah lingkungan, seperti eco enzyme, yang sudah berjalan sejak Januari 2026.
Kolaborasi Lintas Sektor
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Surabaya, Dedik Irianto, menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan harus dilakukan secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, edukasi pemilahan sampah menjadi kunci utama perubahan perilaku masyarakat.
“Sampah ada dua jenis, organik dan anorganik. Keduanya harus dipahami cara pengolahannya. Gerakan mengolah sampah masih menjadi tantangan, sehingga perlu pendampingan berkelanjutan,” ujarnya.
Dedik juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pembangunan berkelanjutan.
“Pembangunan Surabaya tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, komunitas, TNI-Polri, dan masyarakat harus terus diperkuat,” katanya.
Isu Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat
Keterlibatan tenaga medis dan akademisi dalam proyek ini menjadi penting, mengingat isu lingkungan kini semakin erat kaitannya dengan persoalan kesehatan masyarakat.
Perubahan iklim global telah berdampak nyata di tingkat lokal, termasuk di Surabaya. Suhu udara yang terus meningkat, cuaca ekstrem, serta memburuknya kualitas lingkungan menjadi konsekuensi dari pemanasan global.
Kondisi ini tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan warga.
Fenomena urban heat island—suhu di kawasan perkotaan yang jauh lebih panas dibandingkan daerah pedesaan di sekitarnya—salah satu dampak paling terasa. Padatnya bangunan beton, efek rumah kaca, minimnya ruang terbuka hijau, serta tingginya aktivitas kendaraan membuat suhu kota lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.
Situasi ini memicu risiko dehidrasi, kelelahan, hingga serangan panas, terutama bagi kelompok rentan. Selain itu, peningkatan suhu dan polusi udara turut memengaruhi pola penyebaran penyakit.
Kondisi ini memicu masalah kesehatan utamanya pernafasan terhadap kelompok rentan.
Karena itu, upaya mitigasi dan adaptasi lingkungan menjadi kebutuhan mendesak bagi kota besar seperti Surabaya.
“Perubahan iklim dan meningkatnya suhu kota merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Melalui penanaman pohon, penguatan ruang hijau, dan edukasi lingkungan, kita berupaya menekan dampak panas ekstrem sekaligus mencegah meningkatnya angka kesakitan dan kematian,” ujar dr. Paul Agus Dwiyanu, SpP, konsultan proyek CoRHAP.







