
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menunjukkan sikap tegasnya melalui media sosial. Dalam unggahan terbarunya, ia menyampaikan ancaman yang keras terhadap Iran jika negara tersebut tidak segera membuka Selat Hormuz bagi seluruh kapal. Ancaman ini dikeluarkan pada hari Selasa (07/04), setelah sebelumnya ia menyatakan akan membuat Iran menjadi “neraka”.
Trump mengungkapkan keinginannya untuk menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika tekanan terus berlanjut. Namun, dalam wawancaranya dengan media AS, ia juga menyebut adanya “peluang besar” untuk mencapai kesepakatan dengan Teheran.
Iran merespons ancaman ini dengan nada mengejek, menyebut pernyataan Trump sebagai “tidak berdaya, gugup, dan bodoh”. Hal ini menunjukkan ketegangan yang semakin memburuk antara kedua negara.
Ancaman baru dari Trump muncul setelah ia mengumumkan bahwa pilot F-15 AS yang terjebak di Iran berhasil diselamatkan. Insiden ini terjadi setelah lebih dari sebulan konflik berlangsung. Iran terus melakukan balasan terhadap serangan udara AS dan Israel dengan menyerang fasilitas milik AS di negara-negara Teluk.
Selat Hormuz, jalur vital bagi pengangkutan minyak dan gas dunia, juga menjadi fokus utama. Iran membatasi lalu lintas kapal di sana, yang menyebabkan lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran inflasi.
Karena situasi ini, Trump memberikan ultimatum kepada Iran untuk membuka kembali jalur tersebut. Pada hari Minggu (05/04), ia merilis pesan keras di platform Truth Social miliknya. Isi pesannya sangat kasar, dengan tulisan seperti: “Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka – LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP.”
Setelahnya, Trump memberi pernyataan kepada Fox News bahwa ada “peluang besar” kesepakatan akan tercapai, tetapi ia juga menyatakan kemungkinan untuk “meledakkan semuanya dan mengambil alih minyak” jika kesepakatan tidak segera tercapai.
Trump juga beberapa kali menunda tenggat waktu ultimatumnya. Pada 21 Maret, ia mengancam akan “melenyapkan” pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak “TERBUKA SEPENUHNYA” dalam waktu 48 jam. Pada 23 Maret, ia menunda serangan selama lima hari hingga 28 Maret karena pembicaraan “baik” dengan Iran.
Namun, Iran menyangkal telah berkomunikasi dengan pemerintahan Trump. Saat tenggat mendekat, Trump kembali memundurkan tenggat hingga 6 April, lalu lagi hingga Selasa (07/04).
Mahdi Tabatabaei, juru bicara presiden Iran, menyatakan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali ketika biaya tol transit digunakan untuk kompensasi atas kerusakan akibat perang. Iran juga berencana mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasi selat tersebut.
Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi dari komando militer Iran menilai ancaman Trump sebagai tindakan “tidak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh”, sekaligus menyatakan bahwa “gerbang neraka akan terbuka” bagi pemimpin AS.
Di sisi lain, Israel menyerang lokasi infrastruktur sipil Iran, termasuk sebuah fasilitas petrokimia pada Sabtu (04/04). Menurut pejabat pertahanan, Israel menunggu persetujuan AS untuk menyerang lebih banyak fasilitas energi Iran pekan depan. Serangan AS-Israel juga menghantam Bandara Internasional Qasem Soleimani di barat daya Iran pada Minggu (05/04).
Iran membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk. Sebuah gedung hunian di Kota Haifa, Israel, dihantam rudal balistik pada Minggu (05/04), menyebabkan empat orang terluka. Pada hari yang sama, otoritas di Abu Dhabi mengatakan mereka sedang memerangi kebakaran di fasilitas petrokimia Borouge yang disebabkan oleh puing-puing dari rudal Iran.
Kuwait menyatakan serangan drone Iran telah merusak fasilitas minyak dan petrokimia. Pabrik industri dan bahan bakar juga menjadi sasaran di Bahrain.








