Perubahan Sikap dan Amalan untuk Meraih Malam Lailatul Qadar
Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu malam yang paling ditunggu oleh umat Islam di bulan Ramadhan. Malam ini memiliki keistimewaan yang luar biasa, karena lebih baik dibandingkan 1.000 bulan. Ustadz Abdul Somad (UAS) menjelaskan bahwa hikmah adanya Lailatul Qadar dalam diri umat Islam adalah terjadinya perubahan sikap setelah berakhirnya bulan suci ini.
Ramadhan 1447 Hijriah telah memasuki fase yang sangat penting, yaitu 10 hari terakhir. Di mana malam Lailatul Qadar sering kali terjadi. Meskipun Allah tidak memberitahu siapa yang mendapatkan malam istimewa ini, UAS menekankan bahwa hal itu bertujuan agar umat Islam senantiasa berharap dan berdoa kepada Allah serta semakin dekat dengan-Nya.
Lima Perubahan yang Dapat Dikenali
Meski tanda-tanda orang yang mendapatkan Lailatul Qadar tidak diberitahu secara eksplisit, UAS menyebutkan bahwa ada perbedaan antara orang yang sudah mendapatkan malam tersebut dan yang belum. Perbedaannya terletak pada perubahan sikap sebelum dan setelah Ramadhan.
Berikut lima perubahan yang dapat dikenali:
- Ketenangan Hati (Sakinah): Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar merasa tenang batinnya, hati ringan, dan jauh dari gelisah.
- Meningkatnya Semangat Ibadah: Mereka memiliki keinginan kuat untuk terus beribadah, seperti shalat berjamaah, tahajud, dan membaca Al-Qur’an.
- Terjaga dari Maksiat: Allah menjaga hati dan perilaku mereka dari perbuatan buruk serta mendekatkan mereka pada amal saleh.
- Suasana Hati yang “Terang”: Mereka merasakan suasana hati yang tenang dan tentram, mirip dengan suasana alam yang sejuk dan damai saat malam Lailatul Qadar.
- Perubahan Sikap: Misalnya, seseorang yang dulunya pelit atau kikir menjadi dermawan dan rajin sedekah.
Amalan yang Harus Dilakukan
Untuk meraih malam Lailatul Qadar, UAS menyarankan umat Islam untuk senantiasa menunaikan ibadah wajib dan memperbanyak ibadah sunnah selama bulan Ramadhan. Shiyam (puasa) merupakan salah satu bentuk ibadah yang harus dilakukan, sesuai dengan perintah di Surah Al-Baqarah Ayat 183:
يَ أَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Yā ayyuhallażīna āman kutiba ‘alaikumu – iyāmu kamā kutiba ‘alallażīna ming qablikum la’allakum tattaq n
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Dalam melaksanakan puasa, UAS menjelaskan bahwa hal itu bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan pandangan, perkataan, dan perbuatan. Tidak boleh membicarakan kekurangan orang lain yang bisa berujung pada ghibah.
Selain puasa, UAS menekankan pentingnya memperbanyak qiyam di malam hari. Qiyamul lail mencakup shalat maghrib, isya, qabliyah isya, Tarawih, Witir, dan tadarus Al-Quran. Setelah tidur, bangun kembali untuk melakukan shalat Tahajud.
“Yang sudah Witir setelah Tarawih, tidak perlu Witir lagi setelah Tahajud. Setelah itu istighfar. Beramal dari awal Ramadhan hingga akhir Allah akan berikan Lailatul Qadar, Insya Allah,” tutup UAS.







