Peran Kota Malang dalam Menyelenggarakan Mujahadah Satu Abad NU
Wakil Ketua II DPRD Kota Malang, Trio Agus Purwono, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Mujahadah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Kota Malang merupakan kehormatan besar bagi kota tersebut. Ia menegaskan bahwa kepercayaan warga NU untuk menjadikan Kota Malang sebagai tuan rumah harus dibalas dengan pelayanan terbaik dari seluruh elemen masyarakat.
“Ini kehormatan bagi Kota Malang. Karena itu, kami meminta semua pihak pemerintah, DPRD, instansi, dan masyarakat untuk bahu-membahu menyambut para tamu dengan baik dan menyediakan kebutuhan mereka,” ujar Trio, Minggu (8/2/2026).
Ia juga mengapresiasi langkah pemerintah kota yang membuka layanan kantor kelurahan, kecamatan, instansi vertikal, hingga rumah ibadah selama 24 jam sebagai bentuk dukungan dan toleransi terhadap kegiatan besar tersebut. Menurutnya, kontribusi warga sekitar juga menjadi kunci kesuksesan acara.
“Warga membantu menyediakan tempat berteduh, kebutuhan toilet, bahkan yang mampu menyiapkan minum atau makanan. Ini bentuk sambutan kita kepada tamu yang datang,” katanya.
Dampak Ekonomi Positif bagi Kota Malang
Trio menilai pelaksanaan Mujahadah Satu Abad NU ikut membawa dampak ekonomi positif bagi Kota Malang. Tingginya mobilitas tamu dan jamaah berdampak langsung pada okupansi hotel dan sektor pariwisata.
“Kegiatan ini meningkatkan tingkat hunian hotel-hotel. Para tamu membutuhkan penginapan, kuliner, dan pasti mampir ke pusat keramaian seperti Kayutangan dan alun-alun. Ini membawa rezeki bagi masyarakat Kota Malang,” ujarnya.
Ia juga menyebut kegiatan ini berpotensi mendorong PAD melalui kenaikan transaksi hotel, restoran, hingga parkir. Menurut Trio, antusiasme lintas agama dalam menyukseskan acara ini turut memperkuat citra Kota Malang sebagai kota toleran.
Salah satu contoh konkret adalah dukungan penuh dari gereja-gereja di sekitar lokasi acara yang menyediakan fasilitas dan bahkan menunda jadwal kebaktian.
“Ini membuktikan warga Malang sangat senang menerima saudara dari keyakinan berbeda. Gereja pun berkenan menyediakan tempat dan menunda kebaktian demi kelancaran acara. Ini bentuk toleransi yang luar biasa,” tegasnya.
Trio berharap momentum ini makin menguatkan posisi Kota Malang sebagai daerah yang siap menerima kegiatan berskala nasional, sekaligus memperkuat kerukunan antar umat beragama.
“Kegiatan ini sangat positif. Selain menjadi ajang ibadah, juga mengangkat ekonomi dan memperkuat citra Kota Malang sebagai kota toleran dan terbuka,” ujarnya.
Kontribusi Lintas Organisasi dan Komunitas
Ketua PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Muhammadiyah dan pengurus gereja di Kota Malang. Ia menyebut dukungan lintas agama dan lintas organisasi sebagai teladan toleransi yang nyata.
“Terima kasih kepada pengurus Muhammadiyah yang menyiapkan 10 ribu bungkus konsumsi, sekolah-sekolah sekitar stadion yang menyediakan snack dan minuman, serta membuka lahan dan fasilitasnya,” katanya, Minggu (8/2/2026).
Selain itu, ia juga memberikan penghormatan kepada pengurus gereja yang telah menunjukkan toleransi luar biasa.
“Pengurus gereja membuka pintu dan fasilitasnya bagi warga NU, bahkan dengan arif menggeser waktu kebaktian dari jadwal seharusnya,” ungkapnya.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang menyiapkan berbagai dukungan untuk menyambut peserta Harlah Seabad NU yang dipusatkan di Stadion Gajayana. Ketua PDM Kota Malang, Abdul Haris, menyampaikan bahwa kontribusi tersebut merupakan bentuk penghormatan sekaligus wujud sinergi antar ormas Islam besar di Indonesia.
“Di Muhammadiyah, sudah menjadi kebiasaan untuk menghormati tamu. Panitia lokal datang ke PDM untuk membuka ruang kontribusi, dan kami langsung menyiapkan bantuan,” ujarnya.
Dijelaskan Haris, pihaknya menyiapkan sejumlah posko di wilayah utara, selatan, dan barat Kota Malang. Posko tersebut berfungsi sebagai tempat singgah peserta, lokasi salat Subuh berjemaah, hingga penyediaan konsumsi.
“Ada tim yang menyiapkan dapur, ada tim yang menyiapkan tempat singgah. Panti dan masjid di lingkungan Muhammadiyah juga dilibatkan. Alhamdulillah semuanya mencukupi, tidak ada kekurangan,” jelasnya.
Kebersamaan Lintas Agama dalam Membangun Persatuan
Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) juga turut ambil bagian dalam menyukseskan peringatan Seabad NU di Kota Malang. Ketua Pelayan Harian Majelis Agung (PHMA) GKJW, Pdt Natanael Herman, menegaskan bahwa perayaan besar ini bukan hanya milik warga Nahdliyin, tetapi juga menjadi ruang memperkuat kebersamaan antar umat beragama di Indonesia.
“Kami menghaturkan selamat seabad NU. Semoga NU senantiasa menjadi barokah bagi bangsa dan negara yang beragam, Bhinneka Tunggal Ika, sehingga NKRI tetap terjaga,” ujarnya.
Pdt Natanael menyampaikan bahwa GKJW secara aktif mendukung pelaksanaan acara, terutama untuk membantu kenyamanan para jamaah yang datang dari berbagai daerah.
“Karena ikhtiar merawat persaudaraan, semampu kami mendukung kegiatan ini. Kami menyediakan tempat berteduh, memberi roti, teh panas, hingga polo pendem agar mereka tidak masuk angin,” katanya.
Bentuk dukungan tersebut disiapkan sejak jauh hari. GKJW berkoordinasi intens dengan PWNU dan PCNU, bahkan jajaran Forkopimda turut hadir ke gereja sebagai bagian dari upaya bersama menyambut peserta Harlah Seabad NU.
Menurut Pdt Natanael, momentum satu abad ini seharusnya dimaknai sebagai penguat harmoni dan persatuan antar warga bangsa, termasuk komunitas Kristen yang juga merasa menjadi bagian dari peristiwa bersejarah tersebut.







