Peristiwa Salat Idul Fitri dan Komentar Wali Kota Sukabumi
Pada perayaan salat Idul Fitri, Masyarakat Muhammadiyah di Kota Sukabumi mengalami situasi yang menimbulkan ketidakpuasan. Saat Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki hadir untuk memberikan sambutan dalam pelaksanaan salat Ied, ia justru mendapat sorakan dari jamaah. Teriakan huuu dan sejenisnya terdengar selama ia berbicara, meskipun akhirnya mereda setelah Ayep Zaki meninggalkan kompleks Universitas Muhammadiyah.
Salah satu jamaah salat Idul Fitri, Rozak Daud, menyampaikan bahwa teriakan tersebut merupakan bentuk kekecewaan terhadap Wali Kota Sukabumi. Kekecewaan itu muncul karena Ayep Zaki tidak memberikan izin kepada Muhammadiyah untuk melaksanakan salat Idul Fitri di Lapang Merdeka. Menurut Rozak, pemerintah hadir namun ucapan dan praktiknya tidak sesuai. Ia juga menyatakan bahwa Ayep Zaki pernah menyatakan dukungan terhadap setiap kegiatan keagamaan walaupun ada perbedaan, tetapi faktanya tidak sesuai dengan apa yang diucapkan.
“Kita juga menganggap (wali kota) tidak adil dalam mengambil kebijakan ini,” tambahnya. Rozak menegaskan bahwa kekecewaan tersebut juga ditambah dengan janji kampanyenya Ayep Zaki yang akan memberikan ruang beribadah di Lapang Merdeka. “Kecewa apalagi itu janji kampanyenya sebagai calon pemimpin saat itu, dan pada hari praktiknya jauh dari apa yang diucapkan,” tegas Rozak.
Penjelasan Ayep Zaki
Dalam wawancara terpisah, Ayep Zaki tidak menampik bahwa dirinya pernah berjanji akan memberikan ruang ragam umat untuk pelaksanaan salat Idul Fitri di Lapang Merdeka. Namun menurutnya, saat pemaparan dalam debat tersebut bersifat pribadi, bukan melekat pada jabatan Wali Kota.
“Memang waktu saya kampanye saya kan berjanji, nah itu secara pribadi, karena pada waktu itu saya belum melekat sebagai kepala daerah,” kata Ayep Zaki. Ia menjelaskan bahwa setelah dilantik, ia melekat dengan tugas sebagai kepala daerah yang diatur oleh perundang-undangan dan ketentuan-ketentuan.
Ayep Zaki kemudian memaparkan bahwa tidak diizinkannya salat Id Jamaah Muhammadiyah di Lapang Merdeka itu sebab waktu pelaksanaan yang tidak berbarengan dengan surat dari kementerian. Dengan adanya insiden yang dinilai miskomunikasi tersebut, Ayep Zaki akan melakukan pola komunikasi lebih mendalam dan komprehensif agar tidak terjadi hal serupa.
“Kenapa tidak diizinkan di Lapang Merdeka itu karena kita mengacu ke keputusan Menteri Agama bahwa salat Idul Fitri dilaksanakan hari Sabtu, besok, tanggal 21 Maret. Secara pribadi tidak mengurangi rasa toleransi saya, sehingga saya datang ke sini kemudian juga mengucapkan selamat dan juga tadi ikut memberikan sambutan singkat karena memang waktunya harus singkat, seperti itu,” tutur Ayep Zaki.
“Tidak ada sedikit pun secara pribadi intoleran. Saya justru menjunjung tinggi toleransi. Dalam waktu dekat kita akan mengumpulkan seluruh ormas-ormas Islam dan tokoh-tokoh Islam, juga pondok pesantren, kita akan kumpul bareng menyikapi ya tahun-tahun yang akan datang manakala ada perbedaan waktu melaksanakan salat Idul Fitri, kita akan sikapi di bulan April ini segera,” tegas Ayep.
Langkah Tegas terhadap ASN yang Mudik
Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, bakal menindak tegas kala ada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang melakukan mudik lebaran menggunakan kendaraan dinas. Menurut Ayep Zaki, kendaraan dinas diperuntukkan hanya untuk menunjang aktivitas kerja untuk melayani masyarakat.
“Kendaraan ASN jangan dipake mudik, (kalo melanggar) pasti ada punishment,” kata Ayep Zaki saat ditemui Kompas.com, Selasa (10/3/2026) sore. Ayep Zaki melanjutkan, bahwa pemerintah kota Sukabumi tidak melarang para ASN dengan status PNS ataupun PPPK untuk melakukan aktivitas mudik. Hanya saja, jika para ASN mudik diharapkan kembali sebelum waktu masuk atau masa liburan habis.
“Saya menghimbau kalo mudik jangan lama-lama, jadi boleh mudik tapi jangan lama-lama. Walikota juga komitmen tidak mudik, tidak ke mana-mana H-7 H+7, saya tetap dirumah dinas paling ada kunjungan kunjungan,” ujar Ayep Zaki. Himbauan agar tidak lama-lama melakukan mudik menurut Ayep Zaki sebagai bentuk kesiapan siagan dengan situasi kota Sukabumi yang dinamis.
“Mudik jangan lama-lama, kalo terjadi apa-apa kita ada disini, meskipun sukabumi relatif aman,” tutup Ayep Zaki.







