Penugasan Kapal Induk USS Gerald R Ford yang Berkepanjangan Mengganggu Kesejahteraan Prajurit dan Keluarga
Penugasan kapal induk USS Gerald R Ford yang diperpanjang oleh pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk kedua kalinya telah memicu gelombang tekanan psikologis yang signifikan bagi ribuan personel Angkatan Laut (AL) AS. Kapal perang terbesar milik AS ini telah berlayar sejak Juni 2025, dan awal tahun ini, para awak kembali menerima kabar bahwa masa tugas mereka akan diperpanjang. Hal ini menimbulkan ketidakpastian besar bagi para pelaut dan keluarga mereka.
Kapal induk tersebut kini berada di bulan kedelapan penugasan dan berpotensi memecahkan rekor penempatan berkelanjutan terlama dalam sejarah militer AS. Awalnya, kapal ini dijadwalkan pulang setelah enam bulan. Namun, dinamika geopolitik memaksa Pentagon mengubah misi dari Karibia menuju Timur Tengah guna mendukung potensi serangan udara terhadap Iran.
Dampak Teknis dan Psikologis yang Mendalam
Banyak prajurit yang terlibat dalam operasi ini mengalami tekanan baik secara fisik maupun mental. Peralatan kapal mulai mengalami kerusakan setelah delapan bulan di laut, dan jadwal pemeliharaan harus ditunda. Ini memengaruhi seluruh siklus pelatihan kapal lain. Seorang pensiunan Laksamana Muda Mark Montgomery mengungkapkan bahwa penugasan yang terlalu lama ini memberikan dampak teknis yang cukup besar.
Selain itu, masalah sanitasi di atas kapal turut memperkeruh suasana. Sistem pembuangan vakum yang melayani 650 toilet di USS Gerald R Ford sering mengalami gangguan. Hal ini menambah daftar panjang penderitaan fisik dan mental para pelaut muda yang mayoritas berusia awal 20-an.
Perasaan “Bencana” dari Komandan Kapal
Komandan Kapal Ford, Kapten David Skarosi, dalam suratnya kepada keluarga awak kapal pada 14 Februari 2026, mengakui bahwa perpanjangan penugasan ini adalah sebuah “bencana”. Ia menyampaikan bahwa banyak pelaut yang terpukul karena kehilangan momen penting seperti pernikahan, kelahiran anak, hingga pemakaman keluarga.
“Saya berbicara dengan banyak pelaut Anda yang sedang berusaha menerima kenyataan melewatkan rencana ke Disney World hingga pernikahan yang sudah mereka konfirmasi,” tulis Skarosi dalam suratnya.
Risiko Operasional yang Menanti
Krisis ini bukan tanpa risiko operasional. Sebelumnya, pada pertengahan 2025, USS Harry S Truman kehilangan beberapa jet tempur akibat serangan Houthi di Laut Merah. Investigasi AL menyimpulkan bahwa tempo operasional yang terlalu tinggi menjadi faktor utama kegagalan tersebut.
Meski pejabat AL menyatakan bahwa pimpinan memprioritaskan dukungan bagi keluarga, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Banyak keluarga pelaut di Virginia Beach dan Pennsylvania mengaku berada dalam “mode hantu” selama berminggu-minggu tanpa komunikasi akibat kerahasiaan pergerakan kapal.
Tantangan Besar bagi Angkatan Laut AS
Kini, dengan Donald Trump yang terus mengarahkan armada tempurnya ke wilayah konflik, Angkatan Laut AS menghadapi tantangan besar: menjaga kesiapan tempur di tengah merosotnya moral prajurit yang menjadi tulang punggung kekuatan laut mereka.
Dengan penugasan yang terus berlangsung, tidak hanya prajurit yang terkena dampak, tetapi juga keluarga mereka yang harus menanggung beban emosional dan psikologis. Masalah seperti kehilangan momen penting, ketidakpastian masa depan, serta kondisi hidup di atas kapal yang kurang ideal, semakin memperparah situasi yang dihadapi para pelaut.







