Strategi Mengatur Pengeluaran Selama Bulan Puasa
Bulan puasa sering kali mengubah pola pengeluaran seseorang dibandingkan hari biasa. Meskipun frekuensi makan berkurang, biaya untuk sahur, berbuka, hingga camilan justru bisa meningkat jika tidak direncanakan dengan baik. Tanpa disadari, pengeluaran kecil setiap hari dapat menumpuk menjadi jumlah yang cukup besar di akhir bulan. Oleh karena itu, penting untuk mulai menghitung dan mencatat pengeluaran harian selama bulan puasa.
1. Makan Sahur
Jika kamu tinggal sendiri atau anak kos, idealnya kamu mengeluarkan uang sekitar Rp15 ribu sampai Rp20 ribu untuk makan sahur. Gak perlu banyak-banyak, yang penting memenuhi kebutuhan asupan gizi kamu. Kamu bisa mengombinasikan pilihan seperti menu olahan dari telur, daging ayam, sayur, kacang-kacangan. Sebagai pembanding, makan sahur ini punya pengeluaran yang sama dengan sarapan.
2. Buka Puasa
Biasanya mata kita akan langsung merespons begitu lihat makanan yang enak. Saat puasa, rasanya makanan apa saja akan muat dalam perut kita begitu berbuka. Padahal gak seperti itu. Tubuh kamu tidak perlu terlalu banyak asupan. Kamu bisa beli buah untuk menu berbuka puasa. Tiga buah kurma atau sebuah pisang untuk pengganti gula dan untuk tenaga sebetulnya bisa menjadi takjil yang cukup. Untuk minuman, sebenarnya cukup dengan air mineral atau teh hangat. Kita bisa asumsikan untuk buka puasa Rp10 ribu.

3. Makan Malam
Karena waktu makan malam berdekatan dengan buka puasa, kamu bisa mengatur waktunya, baik langsung maupun menunggu hingga selesai salat Isya dan Tarawih. Kita bisa asumsikan makan malam layaknya makan makam normal di luar bulan puasa senilai Rp20 ribu-Rp25 ribu.

4. Akomodasi
Jika biasanya sekolah atau bekerja butuh ongkos untuk transportasi, selama masa pandemik ini kamu tetap berada di rumah dan melakukan segala sesuatu via online. Kita asumsikan pengeluaran kamu untuk kuota internet meningkat dari biasanya karena banyak tanggung jawab yang harus dilakukan melalui kelas atau rapat online. Kita asumsikan biaya kuota internet hingga sebesar Rp300 ribu per bulan. Berarti alokasi harian untuk internet ialah Rp10 ribu per hari. Lebih mahal mana dibandingkan ongkos transportasimu?

5. Kesimpulan
Dengan tidak adanya makan siang seharusnya kamu dapat menghemat pengeluaran kamu sebesar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu setiap harinya. Apalagi kalau biaya transportasimu sebelum WFH lebih mahal ketimbang kuota internet tambahan sekarang. Nah, mumpung bulan puasa kamu bisa menyisihkan Rp5 ribu untuk amal. Itu pun kamu bisa berhemat Rp10 ribu-Rp15 ribu. Jadi dalam sebulan kamu bisa menyisihkan Rp300 ribu-Rp450 ribu. Lumayan untuk menambah kantongmu sedikit berisi. Sekalian berjaga-jaga kalau THR tahun ini “nyangkut” atau ditunda oleh perusahaan dalam kondisi yang sulit ini.

FAQ Seputar Pengeluaran Harian Selama Bulan Puasa
Bagaimana cara menghitung pengeluaran harian selama puasa?
Untuk menghitung pengeluaran harian saat puasa, kamu bisa menjumlahkan biaya sahur, buka puasa, camilan, transportasi, dan kebutuhan lainnya setiap hari, lalu dibagi jumlah hari puasa untuk rata-rata harian.
Apa saja yang harus diperhitungkan dalam pengeluaran saat puasa?
Yang perlu diperhitungkan antara lain biaya makanan sahur dan berbuka, camilan, minuman, transportasi, kebutuhan rumah tangga tambahan, serta anggaran untuk sedekah atau zakat.
Apakah pengeluaran saat puasa biasanya lebih besar dari hari biasa?
Bisa jadi. Selama puasa, beberapa orang cenderung mengeluarkan biaya lebih besar untuk menu buka puasa dan takjil, sehingga perlu direncanakan supaya tidak berlebihan.
Bagaimana cara membuat anggaran harian yang realistis saat puasa?
Buatlah daftar kebutuhan pokok bulanan, prioritaskan makanan yang terjangkau dan bergizi, serta sisihkan sebagian untuk takjil atau buka bersama sesuai anggaran yang sudah ditetapkan.
Apakah penting mencatat pengeluaran harian saat puasa?
Ya. Mencatat pengeluaran harian membantu kamu mengetahui mana pos biaya yang boros, sehingga bisa menyesuaikan anggaran supaya tetap hemat sepanjang bulan puasa.







