Berita Populer Regional: Pernikahan Beda Usia, Ledakan Senjata 3D Printing, dan Kasus Penipuan SK PNS
Berikut adalah rangkuman berita populer regional selama 24 jam terakhir yang menarik perhatian masyarakat. Mulai dari pernikahan beda usia yang mencuri perhatian hingga kejadian tragis yang menimpa seorang siswa SMP, semua kasus ini menjadi topik utama dalam diskusi publik.
1. Kakek 71 Tahun Nikahi Gadis 18 Tahun di Luwu, Mempelai Wanita Masih Sekolah, KUA Tak Tahu
Pernikahan dengan perbedaan usia yang sangat jauh, seperti mencapai 50 tahun, merupakan fenomena yang jarang terjadi, namun selalu menjadi sorotan publik di Indonesia. Dalam perspektif nasional, fenomena ini tidak hanya dilihat sebagai hubungan personal antara dua individu, tetapi juga sebagai isu sosial yang menyentuh norma budaya, etika, hingga persepsi. Fenomena tersebut sering viral dan menjadi perbincangan di media sosial.
Belum lama ini, pernikahan beda usia hingga 53 tahun terjadi di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Pernikahan seorang kakek bernama H Buhari (71) dengan gadis berinisial TA (18), viral di media sosial. Pesta pernikahan pasangan beda generasi itu digelar di Desa Batu Lappa, Kecamatan Larompang Selatan, Minggu (5/4/2026). TA diketahui masih berstatus sebagai seorang pelajar. Ia tercatat sebagai siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) di Luwu. Usut punya usut, ternyata pernikahan keduanya tidak tercatat lewat prosedur resmi. Pasalnya, usia mempelai perempuan masih tergolong di bawah umur, jika mengacu pada Undang-undang (UU) Nomor 16 tahun 2019 tentang Perkawinan.
Kasi Bimas Kementerian Agama (Kemenag) Luwu, Baso Aqil Nas membenarkan terkait pernikahan beda usia itu yang tidak terdaftar. “Pernikahan di Batu Lappa itu tidak terdaftar. Sedangkan pak desanya itu tidak tahu. Jadi di luar prosedur pernikahan Undang-undang,” katanya kepada Tribun-Timur.com, Jumat (10/4/2027).
2. Duduk Perkara Warga Gresik Tertipu SK PNS Palsu: Ada yang Sudah Ikut Apel, Rugi Rp150 Juta per Orang

Di tengah tingginya minat masyarakat untuk menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN), praktik pemalsuan Surat Keputusan (SK) Pegawai Negeri Sipil (PNS) mencuat dan menjadi perhatian nasional. Kasus SK PNS palsu tidak hanya merugikan korbannya, tetapi juga mencoreng kredibilitas sistem rekrutmen ASN di Indonesia. Sejumlah warga Gresik, Jawa Timur diduga menjadi korban penipuan berkedok rekrutmen ASN. Sebuah sumber menyebut korban mencapai 9 orang. Sumber lain mengatakan, jumlah korban masih belum pasti.
Kasus ini terungkap bermula saat seorang perempuan berinisial SE mendatangi Protokol dan Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik. SE datang dengan membawa Surat Keputusan (SK) ASN dan mengenakan pakaian PNS warna khaki, Senin (6/4/2026). Di sana, SE menghadap Kepala Bagian Prokopim Sekretariat Daerah (Setda) Gresik, Imam Basuki. Namun, Imam merasa ada yang janggal dengan berkas yang dibawa oleh SE. Misalnya, SK yang disodorkan ke Imam merupakan kertas fotocopy dan tertuju ke Bagian Humas Pemkab Gresik. “Padahal di sini tidak ada bagian humas, adanya Prokopim,” kata Imam, Rabu (8/4/2026), dilansir TribunJatim.com. Selain itu, tanda tangan dalam SK tersebut merupakan tanda tangan yang tidak identik dengan pejabat Pemkab Gresik atau terkesan palsu.
3. Ibu Muda di Bandung Nyaris Kehilangan Bayi di RSHS, Anaknya Sempat Diizinkan Perawat Dibawa Orang

Seorang ibu muda, Nina Saleha (27), nyaris kehilangan bayinya akibat tertukar di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Jawa Barat. Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (8/4/2026) pagi ketika Nina hendak menjemput bayinya yang dirawat akibat kondisi sakit kuning sejak beberapa hari setelah lahir. Nina menuturkan, bayinya awalnya dirujuk ke beberapa rumah sakit hingga akhirnya ia memilih RSHS setelah mengalami kondisi kuning. Setibanya di rumah sakit, sang bayi langsung menjalani perawatan intensif dan ditempatkan di inkubator.
Sehari sebelum kejadian, pihak rumah sakit sempat menghubunginya melalui pesan singkat dan menyampaikan bahwa bayinya sudah diperbolehkan pulang pada Rabu. “Saya dapat kabar hari Selasa kalau anak saya sudah bisa pulang hari Rabu. Tapi saya setiap hari kesana, datang untuk memberikan asi dan menjenguk bayi,” kata Nina saat ditemui di kediamannya di Nanjung, Margaasih, Kamis (9/4/2026).
4. Pernikahan Sesama Jenis di Malang Berbuntut Panjang, Saling Lapor Polisi, Ada Indikasi Pidana Lain

Peristiwa pernikahan sesama jenis di Malang, Jawa Timur, tengah menjadi perbincangan publik. Intan Anggraeni yang merupakan warga Polehan Kecamatan Blimbing, Kota Malang, menikah secara siri dengan Erfastino Reynaldi Malawat alias Rey pada 3 April 2026. Setelah pernikahan keduanya viral di media sosial, peristiwa ini berbuntut panjang. Intan yang didampingi oleh kuasa hukumnya telah melaporkan kasus ini ke Polresta Malang Kota pada Rabu (8/4/2026). Laporannya terkait dengan dugaan pemalsuan identitas dan dokumen.
Setelah itu, Rey yang lebih dikenal dengan nama Yupi Rere itu juga sudah membuat laporan ke Polres Batu pada Rabu malam. “Kemarin kami sudah bikin laporan ke Polres Batu. Laporan ini terkait pencemaran nama baik dan pemerasan.” “Ada beberapa kasus juga. Tapi nanti biar laywer-ku yang menjelaskan,” kata Rey kepada SURYAMALANG.com, Kamis (9/4/2026).
5. Siswa SMP di Siak Tewas karena Ledakan Senjata 3D Printing, Polisi Periksa Guru

Dunia pendidikan kembali jadi sorotan setelah seorang siswa SMP meninggal dunia, Rabu (8/4/2026). Terlebih, siswa SMP kelas 9 di Kabupaten Siak, Riau tersebut meninggal dunia karena kecelakaan praktik ujian sains di lingkungan sekolah. Peristiwa ini kembali menyoroti aspek keselamatan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Kasat Reskrim Polres Siak, AKP Raja Kosmos pun mengatakan pihaknya telah memeriksa empat orang tenaga pendidik di sekolah tersebut. “Kita baru dan sedang berjalan pemeriksaan empat orang tenaga pendidik, di antaranya kepala sekolah,” katanya kepada TribunPekanbaru.com, Kamis (9/4/2026).
Ia menuturkan, kepala sekolah diperiksa untuk menggali informasi terkait kejadian kecelakaan saat ujian praktik. “Pemeriksaan ini merupakan langkah awal untuk mengungkap secara jelas kronologi dan penyebab insiden yang merenggut nyawa seorang siswa tersebut,” ujarnya. Meski begitu, pihak kepolisian masih belum melakukan pemeriksaan kepada keluarga karena tengah berduka. “Kondisi kan masih berduka, penyelenggaraan jenazah dulu,” tambahnya. Ia menambahkan, pihak kepolisian akan berhati-hati dalam menangani kasus ini. “Ke depan kemungkinan akan kita perdalam lagi terkait kegiatan praktik sains ini, kurikulum dan pengawasannya, dan juga nanti tentu para saksi lainnya untuk membuat terang peristiwa ini,” jelasnya.







