Sejarah dan Peran Paguyuban Joyoboyo Kediri di Kutai Timur
Paguyuban Joyoboyo Kediri (PJK) telah berdiri selama enam tahun di tanah Kutai Timur. Organisasi ini menjadi wadah bagi warga perantauan asal Kediri, Jawa Timur, yang kian menunjukkan eksistensinya sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah.
Ketua Paguyuban Joyoboyo Kediri Kutai Timur, Sirmani, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan panjang organisasi yang ia pimpin. Selama ini, PJK aktif dalam berbagai acara bergengsi di Kutim, seperti Kirab Budaya dan pentas seni di Bukit Pelangi saat perayaan HUT Kabupaten Kutai Timur. Eksistensi mereka di bidang kebudayaan, khususnya tarian Kuda Lumping atau Jaran Lumping, mendapat apresiasi langsung dari Bupati dan Wakil Bupati Kutim.
Dukungan pemerintah daerah dinilai menjadi napas utama bagi para penggiat seni untuk terus menjaga warisan leluhur di tanah rantaun. “Dalam 6 tahun berjalan, banyak yang sudah kita jalankan sesuai dengan program-program pemerintah Kutai Timur. Di mana setiap event tertentu berkaitan dengan kesenian, kirab budaya, kemudian pentas seni bertepatan dengan ulang tahun Kutai Timur, Jowo-Boyo Kediri telah menyumbangkan tarian-tarian, khususnya Kuda Lumping,” ujar Sirmani.
Meski demikian, Sirmani menegaskan bahwa visi PJK ke depan tidak hanya terbatas pada panggung hiburan. Ia menyadari bahwa kelangsungan sebuah organisasi besar memerlukan kemandirian ekonomi. Oleh karena itu, pihaknya kini tengah gencar mengajukan proposal pemberdayaan masyarakat melalui sektor produktif.
PJK telah membidik sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan sebagai pilar ekonomi baru bagi para anggotanya. Langkah ini diambil agar organisasi tidak terus-menerus bergantung pada sumbangan anggota atau donatur tak tetap untuk membiayai operasional pentas seni yang tergolong mahal.
“Capaian kalau dari swadaya anggota ini, pemberdayaan perikanan sendiri itu sudah menghasilkan. Tapi yang untuk dari pemerintah sendiri belum mendapatkan support dana bantuan itu. Makanya ini program kedepan kalau bisa sumbangan-sumbangan yang dijanjikan Pemkab Kutim bisa segera dicairkan untuk pengembangan peternakan maupun pertanian,” bebernya.
Terkait kekuatan internal, Sirmani membeberkan bahwa saat ini terdapat sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) yang terdata sebagai anggota. Untuk mempererat silaturahmi, PJK rutin menggelar ‘Kopdar’ atau kopi darat dengan sistem jemput bola ke berbagai wilayah, mulai dari Telaga Bening, perumahan KPC, hingga wilayah Batu Putih dan Kilo 14 Sangatta.
Antusiasme masyarakat terhadap kesenian yang dibawakan PJK juga terbukti sangat tinggi. Hal ini terlihat saat mereka tampil di Kecamatan Kaubun beberapa waktu lalu, di mana suara gamelan yang mengalun berhasil menyedot ribuan penonton hingga membludak memadati lokasi pertunjukan.
“Harapan saya, karena ini kesenian budaya yang harus dilestarikan, maka kami berharap pemerintah memberikan peluang untuk pengembangan ini, terutama berkaitan dengan support dana. Harapan kita Pemda ikut mendukung program-program kami ke depan agar kami tidak collapse,” pungkasnya.
Strategi dan Rencana Masa Depan PJK
Untuk mencapai tujuan tersebut, PJK memiliki beberapa strategi yang akan dijalankan. Berikut adalah beberapa langkah yang direncanakan:
Pemberdayaan Masyarakat:
PJK berkomitmen untuk memberdayakan masyarakat melalui sektor produktif seperti pertanian, peternakan, dan perikanan. Program ini dirancang untuk meningkatkan kemandirian ekonomi anggota dan mengurangi ketergantungan pada sumbangan.Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah:
PJK berharap dukungan dari pemerintah daerah dalam bentuk dana bantuan untuk pengembangan proyek-proyek yang telah diajukan. Dukungan ini diharapkan dapat membantu mempercepat realisasi rencana pemberdayaan.Penguatan Silaturahmi:
PJK akan terus memperkuat hubungan dengan anggota melalui kegiatan seperti Kopdar dan kunjungan langsung ke berbagai wilayah. Hal ini bertujuan untuk mempererat ikatan antara anggota dan memastikan partisipasi aktif dalam kegiatan organisasi.Pelestarian Budaya:
PJK akan terus berupaya melestarikan kesenian tradisional, khususnya tarian Kuda Lumping. Upaya ini dilakukan melalui penyelenggaraan pertunjukan dan pendidikan kepada generasi muda.
Keberhasilan dan Tantangan
Selama enam tahun berdiri, PJK telah mencatatkan beberapa keberhasilan, termasuk partisipasi aktif dalam acara-acara budaya yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Namun, tantangan juga tetap ada, terutama dalam hal sumber daya finansial dan dukungan dari pihak luar.
Meskipun begitu, semangat dan komitmen anggota PJK tetap kuat. Mereka percaya bahwa dengan kerja sama yang baik dan dukungan yang tepat, organisasi ini dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan daerah.







