Iran Menunjukkan Kesiapan untuk Kembali Berdialog dengan Amerika Serikat
Pemerintah Iran menunjukkan tanda-tanda positif dengan menyatakan kesiapan untuk kembali berunding dengan Amerika Serikat (AS) terkait kesepakatan nuklir yang selama ini menjadi sumber ketegangan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengisyaratkan bahwa pembicaraan dengan Washington dapat segera dimulai, di tengah meningkatnya tekanan militer AS di kawasan Timur Tengah.
“Iran selalu siap untuk jalur diplomasi, selama didasarkan pada rasa saling menghormati dan pertimbangan kepentingan,” ujar Araghchi saat kunjungannya ke makam pendiri Republik Islam Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Tekanan Militer AS dan Ultimatum Presiden Trump
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa opsi militer tetap terbuka jika perundingan gagal mencapai kesepakatan. Trump menyatakan bahwa kapal-kapal perang terbesar dan terbaik AS telah menuju kawasan Iran sebagai bentuk tekanan militer.
“Kami sedang berbicara dengan Iran. Jika kita bisa mencapai kesepakatan, itu akan sangat bagus. Jika tidak, mungkin hal-hal buruk akan terjadi,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Persiapan Pertemuan Tingkat Tinggi di Istanbul
Laporan dari kantor berita semi-resmi Iran, Fars, menyebutkan bahwa Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah memerintahkan dimulainya pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat. Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, dijadwalkan melakukan pertemuan di Istanbul bersama perwakilan negara-negara Arab dan Muslim, termasuk Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Mesir.
Jika terlaksana, pertemuan ini akan menjadi kontak langsung pertama pejabat tinggi AS dan Iran sejak konflik bersenjata pada Juni lalu. Sebagaimana dilaporkan, konflik bersenjata yang terjadi pada Juni 2025 lalu melibatkan serangan Israel dan AS ke fasilitas nuklir dan rudal balistik Iran, yang kemudian dibalas dengan peluncuran ratusan rudal balistik oleh Iran ke wilayah Israel.
Trump mendorong kesepakatan baru yang bertujuan menghentikan produksi uranium tingkat pengayaan tinggi dan membatasi program rudal balistik Iran. Namun, pernyataan Trump yang mengisyaratkan kemungkinan perubahan rezim di Teheran memicu kekhawatiran eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.
Kondisi Domestik Iran dan Pentingnya Jalur Diplomasi
Pemerintah Iran menghadapi tekanan ekonomi yang berat akibat inflasi tinggi dan pelemahan mata uang, yang berpotensi memicu gelombang protes domestik. Kondisi ini membuat jalur diplomasi menjadi semakin penting bagi stabilitas kedua negara dan kawasan.
Dialog Positif Sudah Berlangsung di Oman dan Harapan Lanjutan Negosiasi
Perundingan tidak langsung yang berlangsung di Oman pada 6 Februari 2026 berlangsung dalam suasana positif. Presiden Trump menyatakan pembicaraan dengan Teheran berjalan sangat baik dan akan dilanjutkan dalam waktu dekat. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggambarkan suasana pembicaraan sebagai konstruktif dan menegaskan fokus perundingan pada program nuklir Iran.
Negara-negara sekutu AS di kawasan, seperti Qatar, menyambut baik dialog ini dan berharap menghasilkan kesepakatan yang meningkatkan keamanan dan stabilitas regional. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyebut Iran sebagai kekuatan yang “mendestabilisasi” dan menyerukan pengendalian diri kelompok-kelompok yang didukung Iran.
Diberitakan sebelumnya, ketegangan antara Washington dan Teheran tetap tinggi, dengan ancaman tindakan militer dari AS terkait penindasan demonstran di Iran. Namun, sejumlah negara di kawasan mendesak agar kedua pihak menghindari intervensi militer dan kembali ke meja perundingan.
Menurut laporan lembaga pemantau HAM, ribuan demonstran telah tewas dan puluhan ribu lainnya ditangkap dalam penindakan aparat keamanan Iran, menambah kompleksitas situasi politik dan sosial di negara tersebut. Sementara, AS terus memberlakukan sanksi baru terhadap entitas yang terkait dengan ekspor minyak Iran sebagai bagian dari kebijakan “tekanan maksimum”.
Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menegaskan komitmen pemerintah Trump untuk menekan pendapatan rezim Iran melalui sanksi ekonomi.
Perundingan Nuklir yang Berada di Titik Krusial
Kini, perundingan nuklir antara Iran dan AS berada pada titik krusial di tengah ketegangan militer dan tekanan ekonomi yang berat. Jalur diplomasi yang dibuka kembali memberikan harapan untuk menghindari eskalasi konflik yang lebih luas dan menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.
Namun, ketegangan dan ancaman militer yang masih mengintai menunjukkan bahwa proses ini masih penuh tantangan dan memerlukan komitmen kuat dari kedua belah pihak serta dukungan komunitas internasional untuk mencapai solusi damai yang berkelanjutan.







