Inovasi Pengelolaan Sampah di Surabaya
Ketua Komusi C DPRD Surabaya, Eri Irawan menyampaikan apresiasinya terhadap langkah inovatif yang dilakukan Pemkot Surabaya dalam mengurangi jumlah sampah di kota tersebut. Salah satu inisiatif yang menonjol adalah penggunaan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Tambak Osowilangun. Teknologi ini menjadi bagian penting dari transformasi tata kelola sampah di Surabaya.
Pengolahan sampah dengan teknologi RDF bertujuan untuk mengubah sampah menjadi bahan bakar alternatif. TPS3R Tambak Osowilangun memiliki kapasitas input sebesar 150 ton per hari. Hasil dari pengolahan tersebut, sekitar 30-40 persen dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif oleh industri semen PT Semen Indonesia dan PLN PJB Paiton. Saat ini, sudah ada MoU antara Pemkot Surabaya dengan kedua perusahaan tersebut.
Mesin RDF yang digunakan dalam pengolahan sampah didanai sepenuhnya oleh APBD dengan nilai mencapai Rp 30 miliar. Dengan mesin pembakar sampah yang berstandar, hasil pengolahan bisa menjadi bahan bakar alternatif untuk sektor industri. Eri Irawan menilai bahwa RDF menjadi bukti keseriusan Surabaya dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah modern yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.
Selain itu, pengolahan sampah juga bisa menghasilkan bahan bakar jumputan padat (BPJP) yang diminati oleh PLN. Keberadaan teknologi RDF di TPS Tambak Osowilangun menjadi bagian penting dari transformasi tata kelola sampah di Surabaya. Dengan sistem mesin tertutup, proses pengolahan di TPS3R Tambak Osowilangun nyaris tanpa pembakaran terbuka sehingga mampu menekan potensi pencemaran lingkungan.
Pemilahan Sampah dari Sumbernya
Meskipun teknologi RDF memiliki banyak keunggulan dalam tujuan pengelolaan sampah, Eri Irawan tetap mendorong pemilahan sampah dari sumbernya. Optimalisasi teknologi di hilir harus diimbangi dengan penguatan pemilahan sampah dari sumbernya. Semua sampah dari sumber rumah tangga, lembaga kantor, sekolah, hotel, hingga industri harus sudah dipilah di sumbernya.
Menurutnya, penguatan bank sampah di tingkat RW menjadi kunci agar TPS3R dan TPA tidak lagi menjadi titik tumpuk utama. Saat ini, Surabaya memiliki sekitar 670 bank sampah. Target ke depan adalah sekitar 1.300 RW masing-masing memiliki satu bank sampah. Dengan demikian, sampah sudah terpilah di sumbernya.
Mengurangi Beban Anggaran APBD
Dengan terpilihnya sampah di sumbernya akan mengurangi beban TPA Benowo. Bahkan mengurangi beban anggaran APBD karena selama ini Pemkot Surabaya harus membayar tipping fee ke pengelola TPS Benowo sekitar Rp 130 miliar per tahun. Di kisaran nilai tersebut, Pemkot harus membayar tipping fee ke pengelola TPA Benowo karena Pemkot hanya boleh membuang sampah 1.000 ton per hari.
Total produk sampah di Kota Surabaya yang dibuang ke TPA Benowo sebanyak 1.600 ton. Kelebihan 600 ton ini yang dikenakan kepada Pemkot Surabaya. Tipping fee adalah biaya yang harus dibayarkan Pemkot Surabaya kepada pihak ketiga PT Sumber Organik (SO) selaku pengelola sampah penghasil PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) di TPA Benowo.
Aning Rahmawati, anggota Komisi C DPRD Surabaya, menjelaskan bahwa diberlakukannya tipping fee ini karena sampah yang dikirim ke TPA Benowo lebih dari 1.000 ton. Artinya, 600 ton berlaku tipping fee.
Kesiapan Infrastruktur Pengolahan Sampah
Komisi C DPRD Surabaya telah melakukan pengecekan lokasi TPS3R dengan teknologi RDF di Tambak Osowilangun. Seluruh instrumen dan mesin pengolah sampah itu siap bekerja optimal. Sebagian hasil olahan sampah di TPS3R Tambak Osowilangun akan diproduksi menjadi RDF sebagai bahan bakar alternatif. Bahan bakar ini rencananya akan dibeli oleh PT Semen Indonesia sebagai bahan bakar alternatif industri.
Sementara hasil olahan lainnya berupa bahan bakar jumputan padat (BBJP) juga diminati oleh PLN NP Nusantara Power. PT Semen Indonesia sudah mendatangi lokasi TPS untuk pengecekan. Begitu juga PLN. Ini menunjukkan bahwa sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, tapi sebagai sumber energi alternatif.







