Sejarah Kota Blitar: Dari Masa Kerajaan Hingga Era Kemerdekaan
Kota Blitar memiliki sejarah yang panjang dan kaya akan peristiwa penting, mulai dari masa kerajaan hingga era kemerdekaan Indonesia. Secara legal-formal, Hari Jadi Kota Blitar ditetapkan pada 1 April 1906, yang merujuk pada terbitnya Staatsblad van Nederlandsch Indie Nomor 150 Tahun 1906. Pada tanggal tersebut, pemerintah kolonial Belanda membentuk Gemeente Blitar, yang menjadi awal dari perkembangan kota ini.
Namun, jauh sebelum itu, wilayah yang kini menjadi Kota Blitar telah memiliki sejarah yang berakar pada masa Kerajaan Majapahit. Menurut sumber-sumber sejarah, kawasan ini sudah ada sejak abad ke-15, saat masih berupa hutan lebat yang belum banyak dihuni. Tokoh bernama Nilasuwarna atau Gusti Sudomo, putra Adipati Wilatika Tuban, diberi tugas oleh Kerajaan Majapahit untuk menumpas pasukan Tartar yang bersembunyi di hutan selatan. Setelah berhasil mengalahkan mereka, ia diberi wewenang mengelola wilayah bekas medan perang tersebut. Wilayah itu kemudian dinamakan Balitar, yang konon berasal dari kata Bali Tartar, sebagai penanda keberhasilan mengusir bangsa Tartar. Dari sinilah cikal bakal Kadipaten Blitar bermula.
Perebutan Kekuasaan dan Perubahan Politik
Seiring waktu, kepemimpinan Ariyo Blitar I menghadapi pemberontakan dari Patih Ki Sengguruh Kinareja. Dalam konflik tersebut, Ariyo Blitar I dikabarkan tewas dan kekuasaan beralih kepada Ki Sengguruh yang bergelar Adipati Ariyo Blitar II. Djoko Kandung, putra Ariyo Blitar I, kemudian bangkit melakukan perlawanan. Ia berhasil merebut kembali kekuasaan dan dianugerahi gelar Adipati Ariyo Blitar III. Namun dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Djoko Kandung tidak pernah secara resmi menggantikan ayahnya dalam jabatan.
Memasuki abad ke-18, Blitar berada di bawah pengaruh Kerajaan Kartasura Hadiningrat yang dipimpin Amangkurat. Sekitar tahun 1723, wilayah ini jatuh ke tangan Belanda karena Amangkurat menghadiahkan Blitar kepada Belanda sebagai balas jasa atas bantuan dalam konflik internal kerajaan. Penjajahan berlangsung dalam suasana penuh penderitaan, hingga akhirnya muncul berbagai bentuk perlawanan. Untuk meredam gejolak, pemerintah kolonial Belanda membentuk Gemeente Blitar pada 1 April 1906. Momentum ini kemudian ditetapkan sebagai hari lahir Kota Blitar.
Masa Pendudukan Jepang dan Pemberontakan PETA
Tahun 1942, Jepang menduduki wilayah ini dan mengganti nama Gemeente Blitar menjadi “Blitar Shi” melalui produk hukum Osamu Seirei. Masa pendudukan Jepang diwarnai pergolakan besar. Salah satu peristiwa penting adalah Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) Blitar pada 14 Februari 1945 yang dipimpin Soedancho Suprijadi. Pemberontakan ini menjadi satu-satunya perlawanan tentara bentukan Jepang terhadap pemerintah militer Jepang di Indonesia. Meski hanya berlangsung beberapa jam dan banyak tokohnya ditangkap, peristiwa ini meninggalkan dampak besar dalam sejarah perjuangan bangsa.
Dalam otobiografi Bung Karno yang ditulis Cindy Adams disebutkan sebelum pemberontakan terjadi, sempat ada diskusi antara Suprijadi dan Soekarno di Ndalem Gebang. Namun Soekarno saat itu tidak memberikan dukungan terbuka. Pada peristiwa inilah untuk pertama kalinya Sang Merah Putih dikibarkan di wilayah tersebut oleh Partohardjono, anggota pasukan Suprijadi. Kini lokasi itu berada di kompleks TMP Raden Widjaya atau Monumen Potlot.
Era Kemerdekaan dan Identitas Kota Proklamator
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, wilayah ini resmi menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemerintah kemudian menerbitkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1945 yang mengubah nama “Blitar Shi” menjadi Kota Blitar. Kota ini dikenal dengan semboyan PATRIA, akronim dari PETA, Tertib, Rapi, Indah, dan Aman. Kata PATRIA juga bermakna cinta tanah air, mencerminkan semangat nasionalisme warganya.
Secara geografis, Kota Blitar terletak di kaki Gunung Kelud pada ketinggian sekitar 156 meter di atas permukaan laut. Luas wilayahnya sekitar 32,58 kilometer persegi dan terbagi menjadi tiga kecamatan, yakni Sukorejo, Kepanjenkidul, dan Sananwetan. Meski menjadi wilayah perkotaan dengan sumber daya alam terbatas, Blitar berkembang melalui potensi sumber daya manusia dan jasa.
Kini, Kota Blitar tidak hanya dikenal karena sejarah panjangnya, tetapi juga sebagai tempat dimakamkannya Bung Karno. Makam Proklamator menjadi salah satu ikon penting yang mengukuhkan identitasnya sebagai Kota Proklamator.







