Peran Nutrisi dalam Mencegah Penuaan Dini
Menjaga penampilan tetap segar dan tubuh tetap bugar tidak harus menunggu usia kepala empat. Kini semakin banyak anak muda usia 20-an yang sadar akan pentingnya nutrisi untuk mencegah penuaan dini. Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Gizi Klinik Bamed, dr. Karina Marcella Widjaja, Sp.GK, AIFO-K, dalam seminar media beberapa waktu lalu.
Menurutnya, pasien-pasien yang datang ke klinik tidak hanya terdiri dari orang-orang dengan usia di atas 40 tahun. Banyak yang berusia 20 tahun juga sangat memperhatikan asupan nutrisinya.
Makanan yang Bervariasi untuk Kesehatan
Salah satu hal utama yang perlu diperhatikan adalah konsumsi sayur dan buah-buahan secara bervariasi. Tidak hanya jenisnya, tetapi juga warnanya. Variasi tersebut penting karena setiap jenis sayur dan buah memiliki kandungan nutrisi yang berbeda-beda.
“Sayur dan buah-buahan harus bervariasi baik dalam jenis maupun warna. Hal ini memastikan tubuh mendapatkan berbagai nutrisi yang diperlukan,” jelas dr. Karina.
Omega-3 dan Minyak Zaitun sebagai Sumber Lemak Sehat
Selain itu, makanan yang mengandung omega-3 juga sangat penting untuk menjaga kesehatan sel tubuh. Sumber omega-3 bisa ditemukan pada berbagai jenis ikan seperti salmon dan ikan kembung.
“Omega-3 sangat bermanfaat bagi kesehatan. Ikan-ikan ini menjadi sumber alami omega-3 yang baik untuk tubuh,” tambahnya.
Ia juga merekomendasikan penggunaan minyak zaitun, terutama extra virgin olive oil, sebagai alternatif lemak yang lebih sehat dibandingkan minyak kelapa.
“Minyak zaitun lebih baik dibandingkan minyak kelapa karena kandungan asam lemak tak jenuh yang lebih tinggi,” ujarnya.
Manfaat Whole Grain
Makanan whole grain atau biji-bijian utuh juga menjadi bagian penting dalam pola makan sehat. Menurut dr. Karina, makanan ini memiliki kandungan serat yang lebih tinggi dibandingkan makanan olahan.
“Whole grain membantu meningkatkan konsumsi serat dan menurunkan indeks glikemik. Ini penting karena indeks glikemik berkaitan dengan seberapa cepat gula darah meningkat setelah makan,” jelasnya.
Jika indeks glikemik terlalu tinggi, lonjakan gula darah dapat mengganggu hormon insulin dan memicu stres oksidatif yang mempercepat proses penuaan.
Menghindari Makanan yang Menyebabkan Inflamasi
Di sisi lain, dr. Karina mengingatkan agar masyarakat membatasi konsumsi makanan yang dapat meningkatkan inflamasi. Contohnya adalah gula tambahan dan lemak trans.
“Gula buatan, gula pasir, serta makanan berlemak trans seperti fast food, sosis, dan daging olahan termasuk dalam kategori makanan yang harus dibatasi,” katanya.
Minuman bersoda dan minuman berenergi juga sebaiknya dikonsumsi secukupnya karena dapat memicu peradangan dalam tubuh.
Antioksidan Alami dari Flavonoid dan Karotenoid
Selain itu, dr. Karina menyarankan untuk memperbanyak asupan makanan tinggi flavonoid dan karotenoid yang merupakan antioksidan alami.
Flavonoid biasanya larut dalam air dan memiliki warna biru, merah, atau ungu. Contohnya adalah buah ceri, raspberry, dan stroberi.
Sementara karotenoid ditemukan pada buah dan sayuran berwarna kuning, oranye, hingga merah seperti wortel, labu, ubi jalar, tomat, bayam, dan brokoli.
Pentingnya Variasi Makanan
Terakhir, dr. Karina menekankan bahwa pola makan tidak boleh monoton. Variasi makanan menjadi kunci agar tubuh mendapatkan spektrum nutrisi yang lengkap.
“Ketika pasien datang, kita sering kali mengingatkan untuk tidak mengonsumsi makanan yang sama terus-menerus. Kita perlu variasi agar semua nutrisi tercukupi,” pungkasnya.







