Perjalanan Serambi Indonesia: Dari Media Massa ke Penjaga Memori Aceh
Setiap tanggal 9 Februari, Harian Serambi Indonesia merayakan ulang tahunnya. Momen ini menjadi pengingat akan perjalanan panjang media yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh selama lebih dari tiga dekade.
Sejak pertama kali terbit pada 9 Februari 1989, Serambi Indonesia telah berkembang menjadi sumber informasi yang dipercaya oleh masyarakat. Media ini tidak hanya menyajikan berita lokal dan nasional, tetapi juga menjadi wadah bagi jurnalis yang berdedikasi dalam memberikan informasi yang akurat dan bermanfaat.
Usia 37 tahun bagi sebuah media bisa dianggap sebagai usia matang, namun dalam konteks global, usia ini justru menandai titik paling rentan. Di tengah tantangan digital dan perubahan sosial, pertanyaan tentang masa depan Serambi mulai muncul. Apakah sudah saatnya menulis obituari untuk media ini, atau justru menunda karena masih ada bab yang belum selesai?
Serambi Indonesia lahir di tengah kondisi Aceh yang sedang mencari bentuk. Pada masa itu, media ini menjadi institusi sosial yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Di banyak rumah, koran ini menjadi penanda pagi. Di warung kopi, ia menjadi bahan debat. Di kantor-kantor pemerintah, ia menjadi rujukan resmi sekaligus pengingat bahwa publik sedang mengamati.
Dalam konteks perubahan sosial Aceh, Serambi mengalami penuaan yang kompleks. Tiga generasi pembaca telah tumbuh bersama konflik, tsunami, dan rekonstruksi. Generasi ini masih percaya bahwa berita perlu dibaca perlahan, dilipat, dan disimpan. Sementara generasi baru Aceh lahir di dunia digital, tanpa pernah menjadikan koran sebagai ritual.
Di tingkat global, kematian media cetak sering datang dramatis. Namun di Aceh, prosesnya lebih sunyi. Media tidak mati karena satu pukulan besar, melainkan karena serangkaian luka kecil seperti penurunan oplah, iklan lokal yang menyusut, biaya cetak yang naik, dan perhatian publik yang terfragmentasi.
Serambi Indonesia tidak roboh; ia menyempit. Dari media massa menjadi media rujukan. Dari suara publik luas menjadi bacaan elite birokrasi, politisi lokal, dan kelas menengah yang tersisa. Meski posisi ini memberi kehormatan, ia juga membawa risiko kehilangan daya ganggu.
Namun menilai Serambi semata dari oplah atau trafik digital adalah cara pandang yang miskin. Nilai terbesarnya justru terletak pada fungsinya sebagai penjaga memori Aceh modern. Banyak peristiwa penting seperti konflik bersenjata, tsunami 2004, masa rehabilitasi, MoU Helsinki, pilkada langsung, dinamika syariat, hingga perubahan sosial ekonomi pascaperdamaian tercatat dalam koran ini.
Serambi juga merupakan sekolah bagi banyak jurnalis Aceh yang kemudian menyebar ke berbagai media nasional, lembaga riset, LSM, akademia, dan politik. Warisan manusia sering lebih penting daripada merek. Media bisa mati, tetapi manusia yang dibentuknya terus bekerja di ruang lain, membawa etos yang sama atau setidaknya ingatan tentang bagaimana jurnalisme pernah dijalankan.
Bertahan saja tidak cukup. Media yang hanya bertahan tanpa memperbarui diri akan berubah menjadi museum. Dunia hari ini tidak kekurangan berita, tetapi kekurangan penjelasan. Dalam politik yang semakin emosional dan terfragmentasi, media yang mampu menawarkan konteks, sejarah, dan nalar adalah kebutuhan publik, bukan kemewahan.
Transformasi ini tentu menuntut keberanian internal. Berani berjarak dari kekuasaan, berani memberi ruang bagi gagasan yang tidak populer, berani mendidik pembaca, bukan sekadar mengikuti selera. Ini sulit bagi media daerah yang hidup dari iklan lokal dan relasi dengan penguasa. Tetapi tanpa risiko ini, Serambi akan tetap hidup secara biologis, namun mati secara intelektual.
Pertanyaan tentang obituari sebenarnya bukan soal apakah Serambi akan tutup besok atau lusa. Pertanyaan itu lebih mendasar: apakah Serambi masih memiliki fungsi historis ke depan, atau hanya hidup dari reputasi masa lalu. Banyak institusi besar runtuh bukan karena diserang, melainkan karena terlalu nyaman dengan namanya sendiri.
Mungkin obituari belum perlu ditulis hari ini. Tetapi pertanyaan tentang obituari perlu terus diajukan. Bukan untuk mengubur, melainkan untuk menyadarkan. Media yang berhenti gelisah sedang berjalan menuju kematian yang paling sunyi.
Pada usia 37 tahun, Serambi Indonesia berada di persimpangan yang tidak romantis. Tidak ada heroisme besar, tidak ada musuh tunggal. Hanya pilihan-pilihan sunyi: antara kenyamanan dan keberanian, antara rutinitas dan pembaruan, antara menjadi arsip hidup atau sekadar lembaran tua.
Sejarah Aceh telah memberi Serambi peran penting. Zaman kini memberi tekanan. Jawabannya, seperti sejak awal, tidak ditentukan oleh mesin cetak atau algoritma, melainkan oleh kualitas manusia di ruang redaksinya.
Obituari, pada akhirnya, bukan soal kematian. Ia adalah soal makna. Dan makna, bagi sebuah media, selalu ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana yang tak pernah usang: untuk siapa ia menulis, dan untuk apa.







