Knetz dan SEAblings: Perseteruan yang Menyentuh Hati
Perseteruan antara netizen Korea Selatan (Knetz) dengan netizen Indonesia dan negara-negara ASEAN terus berlangsung, namun ada satu cerita yang menarik perhatian banyak orang. Seorang gadis muda asal Korea Selatan, pemilik akun X bernama @lsg_152, mengungkapkan pengalamannya menjadi korban bullying dari sesama Knetz.
Pengalaman Bullying yang Menghancurkan Kepercayaan Diri
Dalam cuitannya, ia menceritakan bahwa sejak kecil, ia sering dihina dengan kata-kata seperti “jelek” di media sosial. Bullying ini membuatnya merasa minder dan kehilangan kepercayaan diri. Ia menyebutkan bahwa meskipun ia memiliki gigi dan maloklusi, ia tidak pernah merasa percaya diri karena komentar-komentar jahat yang diterimanya secara online.
Namun, ketika perseteruan antara Knetz dan SEAblings mulai heboh di media sosial, pandangannya mulai berubah. Ia melihat bagaimana SEAblings membela diri dari bullyian Knetz dan merasa bahwa ia juga bisa melakukan hal yang sama.
“Saya memiliki sepasang gigi dan maloklusi. Saya tidak memiliki rasa percaya diri karena sejak kecil saya selalu dibilang jelek di internet, tetapi setelah melihat ini, saya berpikir, ‘Mungkin saya juga bisa melakukannya.'”
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada SEAblings yang memberinya dukungan dan memastikan bahwa komentar jahat di media sosial tidak akan memengaruhi kehidupannya di dunia nyata.
Awal Mula Konflik Antara Knetz dan Netizen ASEAN
Konflik antara Knetz dan netizen Indonesia serta negara-negara ASEAN bermula dari sebuah insiden di konser band Korea Selatan Day6 di Malaysia. Fansite Korea yang membawa kamera profesional dan lensa tele yang dilarang oleh promotor konser membuat fans Day6 Malaysia marah. Akibatnya, terjadi keributan di media sosial.

Fansite Korea tersebut bahkan kabarnya mengancam netizen Malaysia dengan pasal hukum. Setelah beberapa waktu, konflik tersebut reda dan fansite Korea akhirnya meminta maaf.
Namun, setelah situasi tenang, Knetz kembali mengungkit isu-isu rasis terhadap netizen Asia Tenggara. Mereka menulis cuitan bernada rasis tentang kondisi ekonomi dan budaya di negara-negara ASEAN.
Perang Kata-Kata yang Merambat ke Berbagai Negara
Netizen Indonesia tidak terima dengan cuitan Knetz yang dinilai merendahkan. Mereka membalas dengan komentar-komentar yang tajam dan penuh semangat. Beberapa netizen dari negara ASEAN seperti Malaysia dan Thailand juga ikut serta dalam perang kata-kata ini.
Contohnya, Knetz menulis: “Saya tidak punya uang jadi saya tidak bisa menyewa peralatan. Saya mengambil foto ini di ladang. Apakah Anda sedang dalam perjalanan menanam bibit padi?” Balasan dari netizen Malaysia adalah: “Ingat sikit eh ko makan nasi pun sampai kerak kerak rendam air tau.”

Netizen Indonesia juga menulis: “Kenapa ya orang Korea kalo interact sama tweet bahasa Inggris, balesnya pake Korea. Negara maju tapi penduduknya mostly bobrok inggrisnya.” Sementara itu, Knetz menjawab: “Saya iri kepada mereka yang fasih berbahasa Inggris tetapi hidup dalam kemiskinan.”
Perang kata-kata ini tidak hanya terjadi di media sosial, tetapi juga menciptakan ikatan persaudaraan antara netizen ASEAN, yang dikenal sebagai SEAblings. Mereka saling mendukung dan memperkuat solidaritas antar negara.







