Marc Marquez: Dari Kegagalan Hingga Kembali Berjaya
Marc Marquez, pembalap Ducati Lenovo, tidak pernah menurunkan tempo dalam menghadapi persaingan di MotoGP. Justru, situasi yang ia alami kini lebih baik setelah beban besar yang sebelumnya ia bawa selama bertahun-tahun berhasil ia lepaskan.
Pembalap asal Spanyol ini menyongsong babak baru dalam kariernya. Satu halaman telah ditutup setelah ia berhasil mengatasi mimpi buruknya, yaitu apakah masa kejayaannya sudah habis. Cedera yang terjadi berkali-kali, termasuk empat kali operasi lengan dan masalah penglihatan yang kambuh, membuat Marquez meragukan dirinya sendiri. Pensiun sempat terlintas di pikirannya ketika ia berada di titik terendah. Namun, ia sukses mengubah situasi dengan langkah berani, yaitu meninggalkan Honda untuk memulai dari nol di tim satelit Ducati pada 2024.
Dengan langkah tersebut, Marquez kembali menemukan kejayaannya dengan gemilang. Kini, ia telah mengumpulkan sembilan gelar Juara Dunia, tujuh di antaranya berasal dari kelas utama MotoGP. Banyak orang mengira bahwa Marquez akan berusaha menggenapkan gelarnya menjadi sepuluh, yang akan menjadikannya salah satu pembalap terhebat dalam sejarah. Namun, bagi Marquez, kesuksesan itu bukan hanya sekadar angka. Ia mengatakan “More Than a Number”, karena ujian hidup yang ia lalui juga menjadi bagian dari keberhasilannya.
Komitmen yang Tetap Sama
Bagaimana Marquez menatap musim kejuaraan yang baru? Seperti yang ia sampaikan, komitmennya tetap sama. “Setelah menang di Motegi, saya bilang bahwa saya tidak ingin berada di atas motor dan setelah Thailand (GP Indonesia), saya cedera,” ucapnya. Menurutnya, musim dingin kemarin sangat sulit. Setelah menang, ia justru tidak memiliki liburan, harus menjalani fisioterapi pagi dan siang hari. Namun, itu adalah hidupnya.
Marquez mengalami cedera bahu akibat tertabrak Marco Bezzecchi pada balapan GP Indonesia, yang menjadi balapan pertamanya sebagai Juara Dunia lagi. Selama tiga bulan, ia tidak bisa menunggangi motornya. Tes pramusim Sepang pada awal bulan ini menjadi comeback-nya, dan ia mampu menunjukkan kecepatan kompetitif meskipun awalnya kesulitan dengan kondisi fisiknya.
Mentalitas Baru dalam Diri Marquez
Perubahan ini terjadi karena adanya mentalitas baru dalam diri Marquez. Baginya, kemenangan bukan satu-satunya tujuan, tetapi bagaimana ia dapat memaksimalkan waktu dan kesempatan yang dimilikinya untuk berlomba di MotoGP.
Pada 16 Februari nanti, Marquez akan berulang tahun yang ke-33. Meskipun usianya tidak muda, ia telah menjadi juara dunia tertua di era MotoGP. Kabar baik bagi Marquez, keraguan yang sebelumnya menjadi beban besar di pundaknya telah dilepaskan. Kedamaian menjadi modal saat ia menyadari bahwa tuntutan untuk menjadi juara tetap ada karena reputasi tim yang diperkuatnya sekarang.
“Saya tahu setiap tahun berarti setahun lebih sedikit bagi saya untuk menikmatinya. Bukannya saya bilang akan pensiun tetapi setahun berkurang demi setahun,” katanya. “Saya selalu mencoba memaksimalkan kesempatan ini untuk memberikan semuanya, 100 persen.”
Meski merasakan lebih banyak beban tahun lalu, tahun ini ia merasa motivasi yang sama tetapi dengan lebih sedikit beban terhadap diri sendiri. “Pada akhirnya, jika kita berlomba untuk Ducati Lenovo, kita harus berjuang untuk kemenangan dan kita harus berjuang untuk gelar juara. Akan tetapi, tanggung jawab yang saya punya tahun lalu, beban di pundak saya, sekarang saya merasakan damai.”







