Kebutuhan Sistem Perlindungan Anak yang Lebih Kuat
Artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Jika Anda pernah memikirkan atau merasakan tendensi bunuh diri, mengalami krisis emosional, atau mengenal orang-orang dalam kondisi tersebut, jangan ragu bercerita dan berkonsultasi kepada ahlinya.
Dua kabar duka datang beruntun dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang siswa SD di Kabupaten Ngada ditemukan meninggal dunia pada akhir Januari 2026. Kasus itu mengguncang publik nasional, bahkan BEM UI berencana melaporkannya ke PBB. Belum reda keprihatinan, medio Februari 2026 seorang siswa SMA di Adonara, Kabupaten Flores Timur, ditemukan tewas gantung diri. Ini bukan sekadar dua berita pilu. Ini alarm keras.
Kita tak bisa melihatnya sebagai insiden terpisah. Dua tragedi ini memantulkan satu kenyataan: ada yang rapuh dalam sistem perlindungan anak dan remaja kita—di rumah, di sekolah, di masyarakat, bahkan dalam kebijakan publik. Terutama di wilayah terpinggirkan seperti NTT, di mana tekanan ekonomi, akses pendidikan, dan layanan kesehatan mental masih jauh dari memadai.
Masalah yang Tak Pernah Tunggal
Bunuh diri bukanlah peristiwa yang lahir dari satu sebab. Tidak sesederhana “karena dimarahi”, “karena nilai jelek”, atau “karena masalah cinta”. Hal-hal yang tampak kecil sering hanya menjadi pemicu di permukaan. Ibarat gunung es, yang terlihat hanyalah potongan kecil di atas air. Di bawahnya, ada lapisan panjang: tekanan ekonomi keluarga, rasa putus asa, pengalaman depresi, rendahnya harga diri, kesepian, perundungan, minimnya dukungan emosional, hingga ketiadaan ruang aman untuk bercerita.
Sejumlah studi di Indonesia menunjukkan bahwa depresi, dukungan keluarga yang rendah, serta hilangnya harapan berkorelasi kuat dengan munculnya ide bunuh diri pada remaja. Artinya, ini fenomena multifaktorial—masalah yang lahir dari banyak faktor yang saling bertumpuk.
Karena itulah, pencegahan tidak bisa sporadis. Ia harus sistematis. Dan kuncinya: deteksi dini.
Membaca Tanda-Tanda
Deteksi dini bukan perkara rumit. Tetapi ia membutuhkan kepekaan. Pertama, perubahan perilaku. Remaja yang tiba-tiba berubah drastis—pola tidur terganggu, nafsu makan menurun, prestasi anjlok, menarik diri dari pergaulan, kehilangan minat pada hobi—tidak boleh dianggap sekadar “fase biasa”.
Diam berkepanjangan bukan selalu tanda kedewasaan. Bisa jadi itu jeritan yang tak terdengar. Respons kita pun menentukan. Remaja yang rapuh tidak butuh ceramah panjang atau penghakiman. Mereka butuh didengar.
Kedua, perhatikan pola komunikasi emosional. Remaja perempuan cenderung lebih terbuka membicarakan perasaan. Ketika mereka mulai mengungkapkan keputusasaan atau merasa tidak berharga, itu bukan drama. Itu alarm. Sebaliknya, banyak remaja laki-laki lebih tertutup. Dalam berbagai data, angka kematian akibat bunuh diri pada laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan.
Karena itu, perubahan fisik—wajah murung, lelah berkepanjangan, perilaku agresif tiba-tiba—harus menjadi perhatian serius. Masalahnya, di Indonesia isu kesehatan mental masih diliputi stigma. Bicara soal depresi sering dianggap lemah iman atau kurang bersyukur. Padahal, tanpa ruang aman untuk berbicara, remaja memilih memendam. Dan yang dipendam lama-lama bisa meledak dalam bentuk paling tragis.
Sekolah Harus Menjadi Ruang Aman
Terhadap hal ini, sekolah tidak boleh sekadar menjadi tempat transfer ilmu. Ia harus menjadi ruang aman. Tema bunuh diri tidak perlu ditabukan. Dalam sebuah seminar bersama PGRI Flores Timur, muncul gagasan agar saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), isu bunuh diri dibahas secara terbuka sebagai bentuk edukasi dan kesadaran.
Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk membekali siswa dengan pemahaman dan keberanian mencari bantuan. Guru dan orang tua juga perlu pelatihan khusus. Mereka harus mampu mengenali sinyal risiko: perubahan suasana hati ekstrem, penurunan prestasi mendadak, atau ucapan seperti “lebih baik saya tidak ada”. Kalimat seperti itu tidak boleh dianggap candaan. Kepekaan orang dewasa adalah garis pertahanan pertama.
Negara Jangan Hanya Reaktif
Setiap kali kasus terjadi, reaksi muncul: pernyataan duka, kunjungan pejabat, janji evaluasi. Tetapi langkah antisipatif masih minim. Ketersediaan konselor sekolah, psikolog, dan layanan kesehatan mental di daerah terpencil harus diperluas. Faktor ekonomi dan jarak geografis tidak boleh menjadi alasan anak kehilangan akses pertolongan.
Kasus di Ngada, misalnya, memperlihatkan perlunya sistem pemantauan kesejahteraan siswa yang lebih kuat—termasuk kondisi ekonomi keluarga dan dukungan pendidikan dasar. Sekolah bisa mengembangkan semacam early warning system untuk kesehatan mental, sehingga siswa yang rentan terdeteksi lebih awal. Tanpa sistem yang terstruktur, kita hanya akan terus sibuk merespons setelah nyawa melayang.
Panggilan Kemanusiaan
Pada sisi lain, tragedi bunuh diri remaja di NTT bukan sekadar headline media. Ia adalah panggilan kemanusiaan. Deteksi dini bukan hanya soal mengenali tanda. Ia soal membangun lingkungan yang memberi rasa aman, dukungan, dan harapan. Ketika seorang anak merasa didengar, dihargai, dan ditopang, peluang untuk memilih jalan gelap akan jauh berkurang.
Jika alarm ini terus kita abaikan, yang hilang bukan hanya satu nyawa. Yang hilang adalah masa depan—potensi generasi yang seharusnya menjadi kekuatan bangsa. Kini pertanyaannya sederhana: kita mau menunggu korban berikutnya, atau mulai bergerak hari ini?







