Tegangnya Hubungan AS-Israel-Iran dan Kekhawatiran Negara-Negara Teluk
Ketegangan antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran kini semakin memanas. Negara-negara Teluk yang selama ini menjadi tuan rumuh pangkalan militer AS merasakan kegelisahan besar terhadap situasi tersebut. Mereka menyadari bahwa posisi geografis dan peran strategis kawasan membuat Teluk berada di garis depan risiko keamanan. Kondisi ini memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas domestik maupun keseimbangan regional. Berikut adalah beberapa faktor utama yang membuat negara-negara Teluk cemas menghadapi potensi konflik AS-Iran.
Iran Menjadikan Pangkalan Militer AS di Teluk sebagai Target Sah
Iran telah beberapa kali menegaskan bahwa instalasi militer AS di kawasan merupakan sasaran balasan yang sah. Contohnya adalah serangan ke Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar pada Juni 2025, meskipun tidak menimbulkan korban jiwa. Insiden tersebut tetap meninggalkan dampak psikologis bagi para pemimpin Teluk.
Ali Shamkhani, penasihat dekat Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei, sebelumnya memperingatkan bahwa respons Iran dalam konflik kali ini akan jauh lebih keras dibandingkan serangan simbolis sebelumnya. Pangkalan di Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Arab Saudi, dan Bahrain kini menghadapi ancaman rudal serta drone Iran jika perang berlangsung berkepanjangan. Para pemimpin Teluk pun mencemaskan kemungkinan wilayah mereka berubah menjadi arena tempur utama konflik AS-Iran.
Keruntuhan Rezim Iran Memicu Kekacauan Regional
Sebagian pemimpin Arab diliputi kecemasan apabila pemerintahan Iran runtuh atau melemah drastis. Mereka menilai situasi tersebut dapat memunculkan instabilitas yang lebih parah dari keadaan sekarang. Runtuhnya struktur negara Iran berpotensi memantik perang saudara berskala luas, kemunculan kelompok bersenjata radikal, lahirnya milisi baru, serta penyebaran gejolak ke seluruh Timur Tengah.
Di Irak yang mayoritas penduduknya Syiah, kekuatan politik utama dalam Kerangka Koordinasi Syiah memandang perang AS-Iran di wilayah mereka sebagai ancaman langsung terhadap kedaulatan yang masih rapuh. Kelompok itu meyakini penggulingan rezim Iran tak akan menghasilkan perdamaian, melainkan membuka ruang ketidakstabilan besar dan kekosongan kekuasaan berbahaya.

Israel Sebagai Hegemon Tunggal Kawasan
Apabila kekuatan dan pengaruh Iran di Timur Tengah terkikis tajam akibat perang, Israel berpotensi tampil sebagai satu-satunya kekuatan dominan tanpa penyeimbang berarti. Sejumlah pemimpin kawasan kini menilai ancaman terbesar bukan lagi berasal dari Iran. Mereka justru memusatkan perhatian pada kemungkinan Israel yang ekspansif dan agresif, ditambah risiko kekacauan bila Iran runtuh.
Bader al-Saif, dosen sejarah di Universitas Kuwait, menyampaikan bahwa langkah militer terhadap Iran dinilai tak sejalan dengan kepentingan negara-negara Teluk. “Pemboman Iran bertentangan dengan perhitungan dan kepentingan Negara-negara Teluk Arab. Menetralkan rezim saat ini, baik melalui perubahan rezim maupun rekonfigurasi kepemimpinan internal, berpotensi berubah menjadi hegemoni Israel yang tak tertandingi,” katanya.
Analis regional, Galip Dalay, juga menulis bahwa persepsi ancaman di Timur Tengah kini telah bergeser. “Bagi para pemimpin Timur Tengah, ancaman telah berubah: risiko terbesar sekarang adalah Israel yang ekspansif dan agresif, serta kekacauan dari negara Iran yang berpotensi runtuh,” tulisnya.

Perang Mengganggu Ekonomi Keamanan Teluk
Konflik ini berisiko mengacaukan arus pelayaran di Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Walau Iran kecil kemungkinan menutup total jalur itu karena akan merugikan ekspor minyaknya sendiri ke China, Angkatan Laut Pengawal Revolusi Islam (IRGC Navy) disebut menyiapkan skema penutupan selektif. Strateginya adalah menyerang kapal tanker yang berafiliasi dengan Barat, serupa pendekatan Houthi di Laut Merah.
Situasi tersebut dapat mendorong lonjakan premi asuransi, kenaikan harga minyak global, serta peningkatan inflasi dunia. Kondisi itu turut mengancam janji ekonomi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilu paruh waktu. Di saat bersamaan, ketegangan perang memicu keluarnya investor, penarikan aset perusahaan, dan hengkangnya tenaga kerja terampil dari negara Teluk yang tengah berupaya mendiversifikasi ekonomi.
Selain itu, potensi krisis pengungsi menjadi perhatian karena pelabuhan Bandar Abbas di Iran berjarak singkat perjalanan laut menuju Dubai. Ribuan orang diperkirakan bisa menyeberang ke UEA apabila ekonomi Iran runtuh atau negara tersebut kolaps.

Iran Mengembangkan Nuklir Picu Perlombaan Senjata
Serangan AS dinilai berpotensi mendorong Iran meninggalkan doktrin resminya yang membatasi penggunaan nuklir untuk kepentingan sipil. Perubahan arah itu dapat membuat Teheran memilih mengembangkan senjata nuklir, hasil yang bertolak belakang dengan tujuan serangan.
Tanpa pendudukan penuh oleh AS dan Israel yang dinilai tak realistis, Iran tetap memiliki kapasitas teknis untuk mempercepat pembuatan bom jika ada keputusan politik, terutama bila Khamenei tak lagi mampu memimpin. Keadaan tersebut menempatkan negara Teluk, khususnya Arab Saudi dan UEA, pada posisi sulit menghadapi Iran yang penuh dendam dan berpotensi memiliki senjata nuklir.
Pada akhirnya, Arab Saudi dan UEA bisa terdorong mengejar kemampuan nuklir sendiri. Langkah itu berisiko memicu perlombaan senjata nuklir yang sangat berbahaya di kawasan.








