Perayaan Lebaran yang Sunyi di Hunian Sementara
Pagi hari di kawasan Hunia Sementara (Huntara) Mandiri Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, bersinar cukup terik pada Jumat (20/3/2026). Namun, bagi warga yang menghuni Huntara, cahaya matahari itu tidak cukup untuk menghalau sisa-sisa kegelapan yang ditinggalkan oleh banjir bandang akhir tahun lalu.
Di saat sebagian besar warga Kota Padang merayakan Lebaran dengan riuh rendah suara takbir dan aroma masakan yang menggugah selera, suasana di kompleks Huntara ini justru sebaliknya. Hening, seolah waktu berhenti berputar di ambang pintu-pintu kayu yang sederhana.
Sekitar pukul 10.00 WIB, lorong-lorong di antara bilik huntara tampak lengang. Beberapa pintu terlihat terkunci rapat dengan gembok besi yang kaku. Tak ada tawa anak-anak yang berlarian memamerkan baju baru, tak ada kepulan asap dari dapur yang biasanya sibuk mengolah daging. Beberapa pintu memang terbuka sedikit, namun tak ada aktivitas berarti di dalamnya. Hanya nampak bayangan penghuninya yang duduk termenung, menatap kosong ke arah jalan yang masih menyisakan debu.
Santi salah satu penghuni, duduk di selasar kecil depan biliknya. Wajahnya guratan kelelahan, bukan karena sibuk melayani tamu, melainkan karena beban pikiran yang tak kunjung surut. Baginya, Lebaran tahun ini terasa seperti fragmen mimpi yang asing.
“Lebaran kali ini sangat berbeda. Sunyi sekali,” bisik Santi pelan. Kalimatnya menggantung di udara, seolah menahan sesak yang merayap di tenggorokan.
Kesunyian di kompleks Huntara ini juga dipengaruhi oleh perbedaan waktu penetapan hari raya. Menurut Santi, sebagian penghuni ada yang sudah merayakan Lebaran hari ini, namun ada pula yang baru akan melaksanakannya esok hari. Ketimpangan waktu ini membuat suasana di Huntara semakin terasa pecah. Tidak ada gema takbir yang serempak, tidak ada langkah kaki yang bersamaan menuju lapangan untuk salat Id. Semuanya berjalan sendiri-sendiri dalam kesepian masing-masing.
Selain itu, banyak bilik yang terkunci karena penghuninya memilih untuk tidak berada di sana. Beberapa keluarga memutuskan untuk merayakan Lebaran di rumah kerabat atau sanak saudara yang tidak terdampak banjir. “Banyak yang pergi ke rumah saudara. Mungkin di sana suasananya lebih hangat, tidak sesedih kalau terus-terusan di sini melihat dinding papan,” ujar Santi.
Bagi mereka yang memilih bertahan di Huntara, kenyataan pahit adalah menu utama. Bau harum kelapa sangrai dan rempah rendang yang biasanya memenuhi setiap sudut ruangan kini entah terkubur di mana.
Kesunyian di Kompleks Huntara
Barisan hunian sementara (huntara) di Kapalo Koto, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat, berdiri tegak menyambut pagi Idul Fitri. Tiga bulan sudah huntara ini menjadi saksi bisu bagi para penyintas banjir bandang akhir tahun lalu, sebuah fase di tengah puing-puing kehidupan yang hancur.
Suasana di kompleks huntara tampak lengang saat dikunjungi pada Jumat (20/3/2026) sekitar pukul 10.00 WIB. Kesunyian begitu pekat menyelimuti lorong-lorong sempit di antara bilik-bilik kayu yang sederhana itu. Beberapa pintu huntara terlihat terkunci rapat dengan gembok besi yang kaku. Tak ada tawa renyah anak-anak yang biasanya berlarian pamer baju baru, sebuah pemandangan yang lazim ditemui di sudut-sudut kota lainnya. Bahkan, beberapa rumah yang pintunya terbuka pun tampak sepi dari aktivitas.
Hanya terlihat beberapa penghuni yang duduk termenung di ambang pintu, menatap kosong ke arah jalanan yang masih menyisakan debu. Santi, salah satu penghuni Huntara, mengungkapkan betapa getirnya perasaan merayakan Lebaran jauh dari rumah asli yang kini telah tiada.
“Lebaran tahun ini sangat berbeda. Terasa sunyi sekali,” bisiknya pelan dengan mata berkaca-kaca.
Sikap Masjid Taqwa Muhammadiyah terhadap Perbedaan Penetapan Lebaran
Masjid yang berada di bawah naungan Muhammadiyah Sumbar secara serentak melaksanakan salat Idul Fitri 1447 Hijriah, pada Jumat (20/3/2026). Pernyataan ini disampaikan oleh Sekretaris Masjid Taqwa, Hendri Novigator, saat ditemui Infomalangraya.comai salat Idul Fitri.
“Semuanya di bawah Muhammadiyah pasti melaksanakan salat Idul Fitri, di Kota Padang, satu kecamatan terdapat dua masjid, kurang lebih 15 cabang,” ungkapnya. Termasuk juga masjid yang dikelola oleh, mereka telah berpuasa sejak Rabu (18/2/2026) lalu.
Di lain sisi, Hendri mengatakan bahwa metode yang dipakai dalam menentukan 1 Syawal, berpedoman pada Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Putusan tersebut berlaku mulai tahun ini hingga berikutnya, dengan menggunakan KHGT dalam penentuannya.
“Itu sudah jadi putusan untuk berikutnya, memakai KHGT itu,” sebutnya. Terkait perbedaan waktu pelaksanaan salat Idul Fitri 2026, Hendri menyebut persoalan biasa dan dinamikanya saja. Ia menekankan, mana yang menjadi keyakinan umat, silahkan ikuti, jangan ada persoalan terkait hal tersebut. Namun yang terpenting, tetap beribadah dengan apa yang diyakini terhadap agama tercinta.
“Jangan jadi masalah, mari beribadah dengan pemahaman agama yang kita cintai ini,” sebutnya.
Kritik terhadap Krisis Pemimpin dan Ekonomi Indonesia
Khatib Salat Idul Fitri 2026 di Masjid Taqwa Padang, Zaitul Ikhlas, menyoroti berbagai persoalan bangsa saat menyampaikan khotbah di hadapan ribuan jemaah, Jumat (20/3/2026). Ia menyebut Indonesia saat ini tengah menghadapi berbagai krisis mulai dari sektor ekonomi, hukum, sosial, politik, moral, hingga krisis sosok pemimpin.
Untuk mengatasinya, para penerus bangsa bisa memperbaiki itu semua dengan nilai-nilai ibadah sesuai ajaran Islam. “Ibadah itu tidak hanya pahala, tapi sebuah sistem mengedukasi orang untuk menjadi manusia yang baik,” ungkap Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sumbar itu, seusai melaksanakan salat Idul Fitri 2026, Jumat (20/3/2026).
Menurut Zaitul Ikhlas, sekecil apapun kekuasaan seseorang, seharusnya menjadikan dia untuk mendorong terhadap kebenaran dan keadilan. Jangan sampai sebaliknya, sebab akan malu terhadap para pejuang yang telah bersusah payah memerdekakan Indonesia.
“Jangan sebaliknya, malu dan berdosa kita pada jasa para pejuang Indonesia,” sebutnya.
Ancaman Global
Begitu juga dengan ancaman global, seperti perang Iran vs Israel-Amerika. Iran hadir untuk menahan genosida dua negara tersebut. Ia tak menyangka kekuataan Iran sekuat tersebut, hanya saja lawannya dua negara, sehingga sedikit kewalahan. Tapi jika berhadapan satu sama lain, Iran bakal mengunci kemenangan atas Israel atas permasalahan yang terjadi.
“Tapi Allah akan bantu, bagi siapa yang menegakkan kebenaran,” tegas Zaitul Ikhlas. Ia menambahkan, tentara Amerika atau Israel hanya mengedepankan semangat Nasionalisme. Sedangkan di Iran berbeda, semangatnya untuk jihad. Bagi Zaitul Ikhlas, semangat tentara Iran berada di atas teknologi saat ini, karena tujuannya mencapai kebaikan.
“Spiritnya di atas teknologi,” tambahnya.







