Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Mann vs. Dzhabrailov, Perreira vs. Nakatani, Paez vs. Black Panther Resmi Masuk ONE Fight Night 42

    29 Maret 2026

    Empati Sosial Pasca Ramadan, Guru Besar UIN Saizu: Takwa Bukan Hanya Puasa

    29 Maret 2026

    Jadwal Kapal Pelni KM Sangiang 27 Maret-16 April 2026, Rute Geser-Fakfak 2 dan 16

    29 Maret 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Minggu, 29 Maret 2026
    Trending
    • Mann vs. Dzhabrailov, Perreira vs. Nakatani, Paez vs. Black Panther Resmi Masuk ONE Fight Night 42
    • Empati Sosial Pasca Ramadan, Guru Besar UIN Saizu: Takwa Bukan Hanya Puasa
    • Jadwal Kapal Pelni KM Sangiang 27 Maret-16 April 2026, Rute Geser-Fakfak 2 dan 16
    • Penderita PCOS Berisiko Tinggi Diabetes, Apa Penyebabnya?
    • 10 motor bebek terkuat 2026: mesin tangguh, irit bahan bakar, dan mampu melewati medan pegunungan
    • Pemkot Malang Wajibkan ASN Naik Sepeda ke Kantor Hemat BBM
    • Cuaca Ekstrem Ancam India, Beban Listrik Melonjak Tajam
    • Lumpia Lezat Semarang yang Jadi Oleh-Oleh Favorit Wisatawan
    • Kematian Akseyna, 11 Tahun Kasus Belum Terungkap, Keluarga Minta Kejelasan
    • Layanan Surabaya Tetap 100 Persen Meski ASN WFA, Eri: Pelayanan Tak Boleh Berhenti
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Internasional»Berpuasa di Musim Dingin Irlandia Barat

    Berpuasa di Musim Dingin Irlandia Barat

    adm_imradm_imr27 Maret 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Pengalaman Berpuasa di Galway, Irlandia

    Saya, KEUMALA FADHIELA ND, S.P, M.Si., dosen Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar, saat ini sedang mengikuti Predoctoral Course Program (Bridging Programme) di University of Galway, Irlandia. Program ini bertujuan untuk memberikan persiapan akademik khusus bagi dosen dari seluruh Indonesia sebelum memulai studi doktoral di luar negeri. Selama beberapa minggu, kami mengikuti berbagai kegiatan seperti Academic Writing, Reflective Writing, dan Poster Presentation. Hari-hari di kampus menjadi pengalaman yang berkesan karena kami dapat berinteraksi langsung dengan calon promotor sekaligus mempersiapkan diri untuk studi doktoral.

    Di tengah kesibukan belajar, saya menyadari bahwa sepuluh hari pertama puasa akan saya jalani di tempat yang jauh dari suasana Ramadhan yang biasa saya rasakan di kampung halaman, khususnya di Aceh. Berbeda dengan di kampung halaman, atmosfer Ramadhan di Galway tidak begitu terasa di ruang publik. Kafe, pub, dan restoran tetap ramai pada siang hari. Orang-orang menikmati makan dan minum seperti rutinitas harian mereka. Tidak ada spanduk ucapan selamat menjalankan ibadah puasa, tidak ada pasar takjil di pinggir jalan, dan tentu saja tidak ada suara azan yang menandai datangnya waktu berbuka.

    Bagi seorang muslimah yang terbiasa dengan suasana Ramadhan yang hidup di kampung halaman, pengalaman ini terasa cukup asing. Selama sepuluh hari pertama Ramadhan di Galway, udara selalu terasa dingin, terutama ketika angin bertiup dari arah Atlantik. Langit kerap berwarna kelabu dan hujan tipis kadang turun tanpa banyak tanda. Terkadang cuaca ini juga memengaruhi ‘mood’ untuk menjalani kegiatan sehari-hari.

    Saya dan teman-teman peserta ‘bridging’ lainnya menjalani proses belajar dari pukul 09.30 hingga pukul 13.00. Seusai kegiatan di kampus, kami biasanya berjalan pulang dengan jaket tebal sambil menunggu waktu berbuka tiba. Ketika waktu magrib datang, tidak ada suara azan yang terdengar seperti di kampung halaman. Saya hanya mengandalkan jam di ‘smartphone’ atau aplikasi untuk mengetahui waktu shalat dan berbuka puasa.

    Suasana saat maghrib pun tetap sama seperti hari-hari biasa. Orang-orang masih berjalan di jalanan atau di pusat belanja, dan ‘public space’ seperti di kafe atau di pub selalu ramai tak pernah sepi. Sementara yang lain menikmati makan malam tanpa menyadari bahwa bagi sebagian kecil orang di kota ini, saat itu adalah waktu berbuka puasa.

    Momen berbuka puasa di negara mayoritas bukan muslim memang sangat menantang. Menemukan makanan halal tidaklah mudah dan butuh perjuangan. Saya harus mengecek komposisi makanan dalam kemasan dan memastikan bahwa produk yang saya konsumsi halal dan tayyib. Terkadang saya sering berbuka puasa dengan sederhana, yaitu dengan kurma dan makanan ringan yang mudah dibeli dari supermarket terdekat. Sesekali saya juga berbuka sambil menghubungi keluarga di rumah melalui pesan singkat atau panggilan video. Perbedaan jarak dan waktu membuat suasana Ramadhan terasa berbeda. Namun, pada saat yang sama juga mengingatkan betapa berharganya kebersamaan yang pernah kita rasakan tanpa banyak kita sadari.

    Selama di Galway, saya sempat mengikuti Grand Iftar yang berlangsung di kampus University of Galway. Momen ini mempertemukan mahasiswa dan komunitas muslim dari berbagai negara untuk berbuka puasa bersama menikmati makanan khas Timur Tengah, seperti chicken khabsa, sfiha, hummus, dan pita. Ini momen yang berkesan bagi saya, karena buka puasa bersama mahasiswa muslim dari berbagai negara menjadi pengalaman yang baru pertama kali saya rasakan seumur hidup.

    Tak hanya itu, saya dan teman-teman juga beberapa kali bertemu dan berbuka puasa bersama komunitas mahasiswa Indonesia yang sedang studi di University of Galway. Kami saling memperkenalkan diri, berbagi cerita tentang kehidupan di perantauan, sambil menikmati makanan khas Indonesia saat berbuka puasa. Saat itu saya benar-benar merasakan betapa rindunya saya akan makanan dari tanah air. Syukurlah, pertemuan-pertemuan kecil seperti itu terasa seperti menemukan keluarga baru di perantauan.

    Meski Ramadhan berlangsung di tengah udara musim dingin, kebersamaan membuat suasananya terasa lebih hangat. Saya menyadari, bahwa saya tidak sendiri menjalani puasa di Irlandia. Hal lain yang tentu terasa berbeda adalah suasana malam. Di Aceh, malam Ramadhan biasanya dipenuhi berbagai aktivitas. Orang-orang berkumpul setelah berbuka, masjid ramai oleh jamaah Tarawih, dan warung-warung makanan biasanya tutup sementara saat waktu shalat tiba. Suasana seperti itu tidak saya temukan di Galway. Setelah aktivitas harian selesai, kota perlahan menjadi lebih tenang. Jalan-jalan mulai lengang dengan dingin yang menusuk dan kehidupan kembali berjalan seperti hari-hari biasa, tanpa nuansa khusus Ramadhan.

    Namun, justru dalam suasana yang lebih sunyi itulah saya menemukan sisi lain dari Ramadhan. Ketika lingkungan sekitar tidak memberi banyak pengingat tentang bulan puasa, ibadah terasa menjadi sesuatu yang lebih personal sehingga disiplin dan kesadaran diri menjadi hal yang lebih penting.

    Pengalaman menjalani sepuluh hari pertama Ramadhan dan sesudahnya di Irlandia memberi saya perspektif baru tentang makna puasa. Selama ini, suasana Ramadhan sering kita rasakan melalui berbagai tanda di sekitar kita, seperti adanya suara azan dari masjid, pasar takjil yang ramai, atau kebersamaan saat berbuka bersama keluarga dan teman. Ketika semua itu tidak ada, kita belajar bahwa esensi Ramadhan sebenarnya terletak pada niat dan kesungguhan pribadi dalam menjalaninya.

    Kini, ketika Ramadhan hampir usai, pengalaman itu terasa seperti sebuah pengingat kecil bahwa Ramadhan tidak selalu hadir dalam suasana yang meriah, seperti yang biasa kita rasakan di Aceh. Terkadang ia datang dalam bentuk yang lebih sederhana, di kota yang jauh, di tengah udara musim dingin, dan di tempat yang bahkan tidak mengenal apa itu berpuasa di bulan Ramadhan.

    Di mana pun kita berada, Ramadan tetap menghadirkan makna yang sama, yaitu kesempatan untuk menahan diri, memperbaiki diri, serta mengingat kembali hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup. Dan, mungkin justru ketika kita menjalani Ramadhan jauh dari suasana yang biasa, kita belajar melihat bulan suci ini dengan cara yang berbeda, lebih bermakna, dan terus merasa bersyukur.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    Trump Minta Iran Lanjutkan Usulan Gencatan Senjata AS

    By adm_imr29 Maret 20261 Views

    Kalender April 2026: Hari Penting Nasional dan Internasional

    By adm_imr29 Maret 202610 Views

    Dunia Terancam: Jenderal Iran Serang Destinasi Wisata Global, Paksakan Pejabat AS-Israel Keluar Bunker

    By adm_imr28 Maret 20263 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Mann vs. Dzhabrailov, Perreira vs. Nakatani, Paez vs. Black Panther Resmi Masuk ONE Fight Night 42

    29 Maret 2026

    Empati Sosial Pasca Ramadan, Guru Besar UIN Saizu: Takwa Bukan Hanya Puasa

    29 Maret 2026

    Jadwal Kapal Pelni KM Sangiang 27 Maret-16 April 2026, Rute Geser-Fakfak 2 dan 16

    29 Maret 2026

    Penderita PCOS Berisiko Tinggi Diabetes, Apa Penyebabnya?

    29 Maret 2026
    Berita Populer

    Banyak Layani Luar Daerah, Dinkes Kabupaten Malang Ubah UPT Kalibrasi Jadi BLUD

    Kabupaten Malang 27 Maret 2026

    Kabupaten Malang— Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang tengah menyiapkan perubahan status dua Unit Pelaksana Teknis…

    Operasi Pekat Semeru 2026, Polres Malang Ungkap Dugaan Peredaran Bahan Peledak di Poncokusumo

    28 Februari 2026

    Halal Bihalal Dinkes Kab. Malang, Bupati Sanusi Bahas Puskesmas Resik dan Tunggu Kebijakan WFH

    27 Maret 2026

    Kejari Kabupaten Malang Geledah Kantor Dispora, Dalami Dugaan Penyelewengan Dana Hibah KONI

    6 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?