Pengertian Musafir
Di segala penjuru dunia, umat Islam menantikan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Setelah berpuasa di bulan Ramadan, hari kemenangan menjadi momen yang ditunggu-tunggu. Bahkan, setiap urusan dipersiapkan jauh-jauh hari. Misalnya, mudik lebaran, jamuan tamu, atau pakaian yang menambah kesan meriah hari raya Idul Fitri.
Apakah kamu juga mudik? Ajang mudik mempertemukan saudara-saudara yang jauh ke satu titik temu. Meskipun jarak yang ditempuh tidak dekat, tetapi obat lelah mujarab yaitu temu kangen saudara.
Apakah orang yang mudik termasuk musafir? Nah, kenali penjelasan singkat mengenai musafir.
Definisi Musafir
Definisi musafir secara bahasa berarti pelaku dari safar atau perjalanan. Sheikh Dr. Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Ensiklopedi Shalat Menurut al-Qur’an dan as-Sunnah menjelaskan pengertian musafir berasal dari ‘as-safar’ artinya penempuhan jarak.
Seseorang dikatakan musafir apabila memenuhi batasan waktu tertentu. Batasan waktu musafir menurut pendapat Imam Ahmad, Imam Syafi’i, dan Imam Malik yaitu empat hari, sedangkan Abu Hanifah berpendapat 15 hari. Jika lebih dari waktu tersebut, orang tersebut sudah tidak dikategorikan sebagai musafir. Sebagian besar ulama mendefinisikan musafir sebagai orang berpergian ke suatu tujuan dengan menempuh jarak dua marhalah (80 kilometer) dan tidak menetap lebih dari tiga hari.
Syarat Musafir

Tidak semua orang yang berpergian dianggap sebagai musafir. Tentu saja, ada persyaratan khusus bagi musafir. Apa saja syarat musafir?
Buku berjudul Buku Pintar Beribadah Dalam Perjalanan menyebutkan syarat musafir antara lain:
- keluar dari wilayah tempat tinggal atau wathan: musafir harus keluar dari kota tempat tinggalnya. Apabila seseorang berkeliling di dalam kota tempat tinggal dengan jarak lebih 80 kilometer, lalu pulang kembali ke ruang. Maka, orang tersebut tidak disebut sebagai musafir karena masih berada di lingkup tempat tinggalnya;
- tujuan perjalanan: musafir harus mempunyai tujuan tertentu. Misalnya, mudik dari kota Malang ke Jakarta. Jika seseorang hanya berputar-putar di dalam kota dan tidak punya tujuan spesifik, maka bukan musafir;
- memenuhi batas jarak minimal: salah satu keringanan musafir yaitu pelaksanaan shalat fardhu. Pada jarak tertentu, musafir memiliki keringanan berupa jama’ dan qasar shalat. Batasan jarak musafir menurut pendapat ahli fiqih berbeda-beda. Mahzab Maliki dan Syafi’i menyebutkan jarak yang ditempuh kurang lebih 77 kilometer. Di sisi lain, Abu Hanifah menyebutkan jaraknya sepanjang 115 kilometer.
Jenis Perjalanan dan Tujuan Musafir

Setiap orang mempunyai tujuan tertentu dari perjalanan jauh. Ada yang bertujuan untuk bekerja, menyambung silaturahmi, atau beribadah. Sejatinya, perjalanan musafir terdapat beberapa jenis sesuai dengan tujuannya. Berikut rinciannya:
- mubah atau diperbolehkan: musafir yang menempuh perjalanan jarak untuk tujuan bukan maksiat. Misalnya, perjalanan yang digunakan untuk bekerja dan mudik lebaran. Safar jenis ini diberikan keringanan berupa jama’ dan qasar shalat selama pekerjaan yang dilakukan tidak maksiat;
- mahmud atau terpuji: musafir yang melakukan perjalanan bernilai ibadah. Contohnya, pergi umrah, haji, menuntut ilmu, atau ziarah kubur para ulama. Jenis musafir yang melaksanakan perjalanan ini dimudahkan dalam jama’ dan qasar shalat;
- madzmum atau tercela: musafir harus menghindari jenis perjalanan ini. Perjalanan ini dapat bernilai makruh sampai haram. Beberapa contoh musafir yang melakukan perjalanan haram yaitu perjalanan seseorang yang durhaka dan budak yang melarikan diri. Di sisi lain safar bernilai makruh yaitu orang pergi dari daerah yang terjangkit penyakit menular.
Keringanan yang Diperoleh Musafir

Allah SWT begitu sayang kepada hamba-hamba-Nya. Bahkan, seorang musafir mempunyai keringanan dalam bentuk ibadah. Adanya kemudahan ini bertujuan tidak menjadikan perjalanan jauh sebagai beban, tetapi wujud meningkatkan keimanan. Adapun rukhsah atau keringan musafir antara lain:
- mengurangi jumlah raka’at shalat (qasar) pada shalat fardhu berjumlah empat raka’at;
- menggabungkan dua shalat dalam satu waktu (jama’). Apabila mendahulukan disebut sebagai jama’ taqdim, sedangkan menunda di akhir disebut jama’ takhir;
- tidak shalat Jum’at dan digantikan dengan shalat dhuhur;
- tidak berpuasa Ramadan dan wajib menggantinya di bulan lain;
- tayamum ketika kesulitan mendapatkan air;
- diperbolehkan shalat di dalam kendaraan.
Itulah penjelasan singkat mengenai musafir. Allah SWT tidak memberatkan umat-Nya dengan perjalanan yang jauh. Namun sebaliknya, seorang musafir memperoleh keringanan beribadah dan dimudahkan oleh Allah SWT.







