Pertumbuhan Ekonomi Dharmasraya yang Mengesankan
Kabupaten Dharmasraya menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang sangat menggembirakan pada tahun 2025. Dengan pertumbuhan sebesar 3,79 persen, daerah ini berhasil melampaui rata-rata provinsi Sumatera Barat (Sumbar) yang hanya mencapai 3,37 persen. Hal ini menjadi indikasi bahwa kebijakan dan strategi pembangunan yang diambil oleh pemerintah setempat telah memberikan dampak nyata.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan penurunan angka kemiskinan di Dharmasraya. Sebelumnya, tingkat kemiskinan berada di kisaran 5,32 persen, namun kini turun menjadi 4,61 persen. Angka ini lebih baik dibandingkan rata-rata kemiskinan di tingkat provinsi yang masih berada di kisaran 5,31 persen. Penurunan ini menunjukkan upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tingkat pengangguran juga mengalami penurunan signifikan. Dari sebelumnya 6,02 persen pada tahun 2024, kini hanya berada di angka 5,51 persen. Ini menunjukkan bahwa lapangan kerja di Dharmasraya semakin terbuka dan mampu menyerap tenaga kerja yang ada.
Selain itu, pendapatan per kapita warga Dharmasraya juga meningkat pesat. Pada tahun 2025, angka ini tembus di Rp62 juta per tahun, naik dari Rp58,7 juta pada tahun sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan peningkatan daya beli masyarakat yang lebih kuat.
Perubahan Mencolok dalam Satu Tahun
Pada tahun 2024, Dharmasraya masih menghadapi beberapa tantangan dalam tiga indikator utama. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 6,02 persen, sementara pertumbuhan ekonomi hanya nangkring di angka 3,86 persen—keduanya masih kalah dari rata-rata provinsi. Namun, dalam waktu satu tahun, situasi berubah total. Di tahun 2025, Dharmasraya berhasil menembus lima indikator makro yang berada di atas rata-rata Sumatera Barat.
Salah satu yang paling mencolok adalah penurunan angka kemiskinan. Dari semula 5,32 persen, kini turun menjadi 4,61 persen. Angka ini jauh lebih baik dibandingkan rata-rata kemiskinan di tingkat provinsi Sumatera Barat yang berada di kisaran 5,31 persen.
Masalah pengangguran juga berhasil ditekan. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Dharmasraya kini hanya 5,51 persen. Capaian ini menunjukkan bahwa lapangan kerja di Dharmasraya terbuka lebih lebar dibandingkan rata-rata daerah lain di Sumatera Barat.
Sektor pertumbuhan ekonomi juga menjadi sorotan. Saat daerah lain di Sumatera Barat cenderung mengalami perlambatan akibat faktor bencana, ekonomi Dharmasraya justru tumbuh solid di angka 3,79 persen, melampaui angka provinsi yang hanya sebesar 3,37 persen.
Kesejahteraan warga pun otomatis naik kelas. Pendapatan per kapita masyarakat Dharmasraya kini tembus di angka Rp62 juta per tahun.
Target Pembangunan Hingga Tahun 2027
Meski hampir menyapu bersih keunggulan, Bupati Annisa Suci Ramadhani mengakui masih ada pekerjaan rumah (PR) besar, yakni Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Walau naik ke angka 75,70, nilai ini masih sedikit di bawah rata-rata provinsi.
Menanggapi tantangan ke depan, Bupati Annisa Suci Ramadhani menyatakan telah menyiapkan jurus jitu untuk target tahun 2027. Apalagi, kebutuhan anggaran pembangunan diprediksi mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp2 triliun.
Bupati Annisa menekankan akan mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor-sektor raksasa seperti pertambangan dan perkebunan korporasi. Selain itu, penguatan BUMD di sektor pangan dan pengolahan sawit akan menjadi mesin uang baru bagi daerah.
“Kami optimistis dengan kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan sektor swasta, tren positif ini bisa kita jaga. Fokus kita adalah pembangunan infrastruktur dan pelayanan dasar yang berdampak langsung pada rakyat,” pungkasnya.







