Pengadilan Negeri Gresik Memvonis Terdakwa Pembunuhan Berencana dengan Hukuman Seumur Hidup
Pengadilan Negeri (PN) Gresik menjatuhkan hukuman seumur hidup kepada terdakwa Sah Rama (36) atas tindakan pembunuhan berencana yang dilakukannya terhadap korban Sevi Ayu Claudia. Putusan ini dijatuhkan setelah terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana sesuai dengan Pasal 340 KUHP yang telah diubah menjadi Pasal 459 KUHP tahun 2023 tentang pembunuhan berencana.
Perbuatan terdakwa dinilai sangat keji dan tidak manusiawi, karena mengakibatkan kematian korban serta kerugian materiil sebesar Rp7 juta. Selain itu, terdakwa juga merupakan residivis dalam kasus pembunuhan sebelumnya, sehingga perbuatan tersebut semakin memperberat vonis yang diberikan oleh Majelis Hakim PN Gresik.
Latar Belakang Kasus
Kasus ini bermula dari motif utang sebesar Rp5 juta antara terdakwa dan korban. Setelah terjadi perselisihan, terdakwa memutuskan untuk membunuh korban. Korban dibunuh di rumah orang tua terdakwa, kemudian jasadnya dibuang dalam kardus di wilayah Gresik. Penemuan mayat korban terjadi pada Senin, 28 Juli 2025, di tepi jalan raya Kedamean, Gresik.
Sevi Ayu Claudia (30), seorang driver ojek online asal Sidoarjo, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia. Identitas korban diketahui setelah pihak kepolisian melakukan penyelidikan lebih lanjut. Dugaan awal menyebutkan bahwa korban dibunuh karena masalah utang, namun akhirnya terungkap bahwa terdakwa adalah pelaku utamanya.
Proses Persidangan
Putusan hukuman seumur hidup dibacakan oleh Majelis Hakim PN Gresik M. Aunur Rofiq. Dalam putusan tersebut, hakim menegaskan bahwa perbuatan terdakwa memenuhi unsur-unsur tindak pidana pembunuhan berencana. Selain itu, terdakwa juga memiliki catatan kriminal sebelumnya, yaitu hukuman 20 tahun di PN Sidoarjo terkait kasus pembunuhan serupa.
Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Gresik, Imamal Muttaqin, menuntut hukuman seumur hidup terhadap terdakwa. Putusan ini sesuai dengan tuntutan jaksa, sehingga tidak ada penolakan dari pihak kejaksaan.
Terdakwa Sah Rama didampingi oleh Penasehat Hukum dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBH) Fajar Trilaksana, Dian Yanuarini Heryanti. Saat putusan dibacakan, terdakwa memilih untuk pikir-pikir. Hal ini membuat jaksa juga mengikuti upaya terdakwa.
Reaksi dan Perasaan Terdakwa
Saat putusan dibacakan, terdakwa terlihat menangis. Bahkan ketika digiring ke tahanan oleh petugas, ia terus menangis. Ketika ditanya oleh wartawan, terdakwa tidak mau memberikan jawaban. Sikap ini menunjukkan bahwa ia masih merasa terbebani dengan putusan hukumannya.
Informasi Tambahan
Selain informasi tentang kasus ini, masyarakat juga dapat menemukan informasi lengkap dan menarik lainnya melalui sumber-sumber berita seperti Google News Infomalangraya.com. Namun, dalam artikel ini, fokus utama adalah pada proses hukum dan konsekuensi dari tindakan terdakwa.
Kesimpulan
Putusan hukuman seumur hidup yang dijatuhkan kepada terdakwa Sah Rama mencerminkan tingkat keparahan dari tindakan yang dilakukannya. Tidak hanya mengorbankan nyawa korban, tetapi juga mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Dengan adanya vonis ini, diharapkan bisa menjadi contoh bagi masyarakat untuk tidak melakukan tindakan kekerasan atau pembunuhan dalam bentuk apapun.







