Ibadah Haji dan Umrah: Kewajiban serta Amalan yang Mengundang Berkah
Ibadah haji dan umrah merupakan salah satu bentuk ibadah yang dianjurkan bagi umat Islam yang mampu secara lahir dan batin. Ibadah ini tidak hanya menjadi bagian dari rukun Islam, tetapi juga merupakan panggilan dari Allah SWT untuk melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Islam dibangun atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, melaksanakan haji ke Baitullah, dan berpuasa di bulan Ramadan.”
Dari sini terlihat betapa pentingnya haji sebagai salah satu kewajiban agama. Selain itu, dalam sebuah hadis lain disebutkan bahwa haji sangat dianjurkan bagi Muslim yang mampu melaksanakannya secara lahir dan batin.
“Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian haji, maka berhajilah.”
Selain mampu secara finansial dan fisik, haji dan umrah juga merupakan panggilan Allah SWT ke Baitullah, sebagaimana disebutkan dalam hadis dan Al-Quran.
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”
(QS. Al-Hajj: 27)
“Sesungguhnya Baitullah ini adalah salah satu syiar Allah. Barangsiapa yang dipanggil untuk menunaikan haji, maka hendaklah ia memenuhi panggilan tersebut.”
(HR. Ahmad)
Karena mulianya panggilan beribadah ke Baitullah, setiap Muslim yang melaksanakan haji dan umrah dilarang melakukan perbuatan maksiat apa pun.
“(Musim) haji itu (berlangsung pada) bulan-bulan yang telah dimaklumi. Siapa yang mengerjakan (ibadah) haji dalam (bulan-bulan) itu, janganlah berbuat rafaṡ, berbuat maksiat, dan bertengkar dalam (melakukan ibadah) haji. Segala kebaikan yang kamu kerjakan (pasti) Allah mengetahuinya. Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.”
(QS Al Baqarah 197)
Bagi Muslim yang belum mampu melaksanakan ibadah haji dan umrah, namun mendambakan perjalanan ke Baitullah, dapat memanjatkan doa Nabi Ibrahim agar dipermudah dalam meraih ibadah tersebut.
Doa Agar Bisa Berangkat Haji dan Umrah
Berikut beberapa doa yang bisa dibaca untuk memohon kemudahan dalam menjalani ibadah haji dan umrah:
Doa Agar Bisa Berangkat Haji dan Umrah
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Wahai Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang taat kepada-Mu, begitu pula anak keturunan kami. Jadikanlah mereka ummat Islam, ajarkanlah cara-cara beribadah haji kepada kami, ampunilah dosa-dosa kami. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang kepada semua makhluq-Mu.”Doa dan Sholawat agar Segera Berangkat Haji dan Umrah
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya: “Ya Tuhan kami semoga Engkau menerima (amalan ibadah kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُبَلِّغُنَا بِهَا حَجَّ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَزِيَارَةَ قَبْرِ نَبِيِّكَ عَلَيْهِ أَفْضْلُ الصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ فِيْ لُطْفٍ وَعَافِيَةٍ وَسَلَامَةٍ وَبُلُوْغِ الْمَرَامِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهٖ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ
Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat atas junjungan kami Muhammad dengan berkah sholawat yang dapat menyampaikan kami dengannya untuk berkunjung ke rumah-Mu yang mulia dan mengunjungi makam nabi-Mu, atasnya selawat dan salam yang paling utama dalam kelembutan, sehat, selamat, dan tercapai cita-citanya, serta berkahilah dan salam untuk keluarganya dan sahabat-sahabatnya.”
Amalan yang Mengundang Berkah
BPKH menyebutkan beberapa amalan yang dapat dilakukan agar seseorang dapat segera berangkat haji dan umrah:
Bersedekah
Sedekah merupakan amalan yang sangat dianjurkan karena tidak hanya membantu sesama, tetapi juga dapat membuka pintu rezeki dan keberkahan, termasuk peluang untuk berhaji.
Rasulullah SAW bersabda,
“Tidak akan berkurang harta karena sedekah, dan seorang hamba yang pemaaf akan Allah tambahkan kemuliaan baginya.” (HR. Muslim).Berbakti kepada Orang Tua
Menghormati dan berbakti kepada orang tua adalah kunci mendapatkan ridha Allah serta kelancaran rezeki. Ketika orang tua ridha, maka urusan hidup akan dimudahkan, termasuk kesempatan menunaikan ibadah haji.
Rasulullah SAW bersabda,
“Keridhaan Allah terletak pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah terletak pada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi).Menjaga Silaturahmi
Menjalin hubungan baik dengan keluarga dan kerabat dapat mempererat kasih sayang sekaligus mendatangkan keberkahan rezeki. Dukungan dari lingkungan sekitar juga bisa membantu dalam mewujudkan keinginan berhaji.
Rasulullah SAW bersabda,
“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim).Mempersiapkan Diri dengan Belajar Ilmu Haji
Sebelum berangkat haji, penting untuk mempelajari manasik haji agar memahami tata cara pelaksanaannya. Dengan bekal ilmu yang cukup, ibadah dapat dijalankan dengan lebih tertib, lancar, dan khusyuk saat kesempatan berhaji datang.Memperbanyak Bacaan Talbiyah
Bagi yang sangat berharap bisa berhaji, dianjurkan sering membaca talbiyah sebagai bentuk kerinduan dan kesiapan memenuhi panggilan Allah.
بَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
Artinya: “Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kerajaan hanya milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.”
Bacaan ini menjadi doa sekaligus ungkapan ketundukan kepada-Nya.
Sejarah Disyariatkannya Haji
Menurut penjelasan dalam laman Kementerian Agama Republik Indonesia, ibadah haji telah disyariatkan sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Awalnya, Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim AS bersama putrinya, Nabi Ismail AS, untuk membangun dan meninggikan Ka’bah di Makkah sebagai tempat ibadah. Setelah itu, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia agar datang menunaikan haji, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hajj ayat 27.
“Dan berserulah kepada manusia untuk (mengerjakan) haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”
(S. Al-Hajj: 27)
Sejak saat itu, ibadah haji mulai dikenal dan dilakukan oleh umat manusia sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Namun, seiring berjalannya waktu, praktik haji sempat mengalami penyimpangan pada masa jahiliah. Kemudian, syariat haji disempurnakan kembali oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun ke-9 Hijriah, dan beliau sendiri melaksanakan haji yang dikenal sebagai Haji Wada’ pada tahun ke-10 Hijriah. Sejak itulah tata cara ibadah haji menjadi sempurna dan menjadi pedoman bagi umat Islam hingga sekarang.







