Strategi Perusahaan Menghadapi Tantangan Pasar Otomotif
PT Dharma Polimetal Tbk. (DRMA), sebuah perusahaan komponen otomotif yang dimiliki oleh konglomerat TP Rachmat, sedang menyiapkan berbagai strategi untuk menghadapi tekanan pasar domestik serta ketidakpastian geopolitik global. Salah satu langkah utama yang diambil adalah efisiensi operasional.
Presiden Direktur DRMA, Irianto Santoso, menyatakan bahwa tantangan utama yang dihadapi industri komponen otomotif tahun ini lebih banyak berasal dari konflik dan perang dagang melalui kebijakan tarif. Hal ini berpotensi memengaruhi harga serta ketersediaan material dan bahan pendukung lainnya.
“Kenaikan harga-harga tentunya akan berdampak negatif pada daya beli masyarakat. Apabila perang terus berlanjut lama, maka tentunya akan berdampak juga pada rantai pasok, yaitu kelangkaan material dan bahan yang dibutuhkan untuk memproduksi kendaraan,” ujar Irianto kepada Bisnis.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, DRMA melakukan beberapa langkah mitigasi. Antara lain:
- Meningkatkan efisiensi operasional.
- Mengoptimalkan rantai pasok.
- Menjaga fleksibilitas produksi agar tetap adaptif terhadap fluktuasi permintaan.
Selain itu, perseroan juga terus memperkuat diversifikasi portofolio produk, termasuk pengembangan komponen kendaraan listrik. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap segmen tertentu dan menjaga kinerja tetap resilien di tengah dinamika global.
“Tentunya perseroan juga berharap adanya kebijakan pemerintah yang dapat memberikan perlakuan yang adil [fair treatment] bagi seluruh pelaku industri, sehingga dapat menciptakan ekosistem otomotif yang lebih sehat dan berkelanjutan,” tambah Irianto.
Kinerja Ekspor Komponen Otomotif
Sementara itu, Sekretaris Jenderal GIAMM, Rachmat Basuki, menyatakan bahwa saat ini hanya kinerja ekspor yang masih menopang kelangsungan usaha industri komponen otomotif nasional.
Total nilai ekspor komponen otomotif pada 2025 mencapai US$7,5 miliar atau sekitar Rp125,8 triliun. Angka ini meningkat dari tahun sebelumnya yang berada di kisaran US$7 miliar.
Beberapa negara yang menjadi pasar ekspor terbesar komponen otomotif buatan Indonesia antara lain Jepang, Amerika Serikat (AS), Malaysia, dan Korea Selatan.
Namun, pasar ekspor juga menghadapi tantangan akibat gejolak geopolitik. Contohnya, kenaikan harga minyak mentah Brent melampaui US$100 per barel dan lonjakan harga bahan baku plastik yang dipicu oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.
Oleh karena itu, GIAMM berharap pemerintah dapat memberikan dukungan terhadap industri komponen otomotif, salah satunya melalui insentif untuk mendongkrak kinerja ekspor.
“Intinya, kalau mengandalkan pertumbuhan pasar domestik susah, karena bertahun-tahun stagnan cenderung turun, mau tidak mau harus ekspor. Nah, agar ekspor bertumbuh, harapan kami pemerintah mau kasih insentif, baik fiskal maupun non-fiskal,” ujar Basuki.
Masalah Utilisasi Pabrik dan Daya Beli Masyarakat
Masalah utama industri komponen saat ini adalah tingkat utilisasi pabrik yang masih berada di kisaran 60%. Hal ini disebabkan oleh penurunan permintaan kendaraan di pasar domestik dalam empat tahun terakhir.
Tekanan semakin berat dengan meningkatnya impor kendaraan listrik utuh (completely built-up/CBU), sehingga ruang pasar bagi produsen komponen dalam negeri menjadi semakin terbatas.
“Untuk menjaga daya saing, karena mayoritas anggota GIAMM memasok ke OEM dan harga jual belum mengalami penyesuaian, pelaku industri melakukan sejumlah efisiensi internal, seperti pengurangan lembur, efisiensi energi, dan langkah lainnya,” kata Basuki.
Tekanan Daya Beli Pasar Otomotif
Di sisi lain, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengakui bahwa sektor otomotif masih menghadapi tantangan permintaan dalam beberapa tahun terakhir, sejalan dengan lemahnya daya beli masyarakat.
“[Pasar] masih tertekan, daya beli masyarakat masih lemah,” ujar Ketua I Gaikindo Jongkie Sugiarto.
Berdasarkan data Gaikindo, distribusi mobil secara wholesales sepanjang Januari—Maret 2026 mencatat pertumbuhan terbatas sebesar 1,7% year-on-year (yoy) menjadi 209.021 unit, dibandingkan 205.539 unit pada periode sama tahun lalu.
Sementara itu, penjualan ritel pada 3 bulan pertama 2026 mencapai 211.905 unit atau hanya naik 0,5% dibandingkan 210.766 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Lebih lanjut, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kian melemah mendekati level Rp17.300 akibat gejolak geopolitik, sehingga dikhawatirkan kian berdampak ke daya beli masyarakat, termasuk sektor otomotif.
Meskipun demikian, Gaikindo menyambut positif keputusan Bank Indonesia (BI) yang kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 21–22 April 2026.
Jongkie menuturkan, pelaku industri berharap level suku bunga acuan dapat dipertahankan lebih lama agar penjualan kendaraan bermotor berangsur pulih di tengah kondisi pasar yang masih stagnan pada kuartal I/2026.
“Kami harapkan agar suku bunga acuan bisa bertahan agak lama sehingga suku bunga kredit kendaraan bermotor juga tidak naik,” jelasnya.







