Lupus: Penyakit yang Lebih Rentan Menyerang Perempuan
Lupus atau SLE (Systemic Lupus Erythematosus) merupakan salah satu penyakit autoimun yang paling sering menyerang perempuan. Data menunjukkan bahwa sekitar 90 persen dari para penderita lupus adalah perempuan berusia antara 15 hingga 44 tahun. Hal ini membuat lupus menjadi penyakit yang sangat penting untuk dipahami, terutama oleh kalangan wanita.
Lupus dikenal sebagai penyakit “Seribu Wajah” karena gejalanya sangat beragam dan bisa mirip dengan penyakit lain. Karena itu, gejala lupus bisa berbeda-beda pada setiap individu, sehingga menyulitkan diagnosis dini. Dalam diskusi bertema From Burden to Living Well yang diselenggarakan bersama AstraZeneca di Jakarta, dr. Sandra Sinthya Langow, Sp.PD-KR FACR, Konsultan Reumatologi Siloam Hospital Lippo Village Tangerang menjelaskan faktor-faktor yang membuat perempuan lebih rentan mengidap lupus.
Data tentang Penderita Lupus di Indonesia
Berdasarkan data dari Perhimpunan Reumatologi Indonesia, terdapat sekitar 1,4 juta pasien lupus di Indonesia. Dengan jumlah tersebut, Indonesia menduduki posisi keempat dalam daftar negara dengan populasi perempuan penderita lupus terbesar di dunia. Angka ini menunjukkan betapa seriusnya masalah lupus di tanah air.
Menurut penjelasan dokter Sandra, infeksi menjadi salah satu penyebab utama tingginya angka kematian akibat lupus. Ia menjelaskan bahwa dalam lima tahun sejak didiagnosis, sekitar 50 persen pasien mengalami gangguan pada organ-organ tubuh. Saat ini, angka kematian akibat lupus di Indonesia mencapai sekitar 8,1 persen.
Meskipun risiko lupus juga bisa terjadi pada laki-laki, ada beberapa faktor yang membuat perempuan lebih rentan mengidap penyakit ini.

Faktor dan Penyebab Terjadinya Lupus
Lupus adalah penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh. Gejalanya bisa bervariasi dari ringan hingga berat, dan inilah alasan mengapa penyakit ini disebut sebagai “seribu wajah”.
“Ternyata genetik saja tidak cukup, ada faktor lingkungan yang juga memicu penyakit ini,” kata dokter Sandra. Faktor lingkungan seperti paparan bahan kimia, polusi, sinar matahari berlebihan, infeksi bakteri dan virus, defisiensi vitamin D, serta pola makan bisa menjadi pemicu.
Selain itu, 90 persen kasus lupus pada perempuan dipengaruhi oleh unsur hormon. Hormon estrogen yang tinggi pada perempuan, ditambah dengan faktor kromosom X, dapat memicu reaksi autoimun yang berlebihan.
Cara Mendeteksi Tanda dan Gejala Lupus
Gejala lupus biasanya dimulai dengan keluhan-keluhan ringan, sehingga sering kali terlambat didiagnosa. Perhimpunan Reumatologi Indonesia menyarankan agar kecurigaan terhadap lupus dipertimbangkan pada perempuan usia muda jika memiliki keluhan pada dua organ atau lebih.
Beberapa gejala umum yang dapat menimbulkan kecurigaan lupus antara lain:
- Nyeri sendi kronis
- Sariawan berulang
- Rambut rontok
- Demam berulang
Jika gejala-gejala tersebut disertai dengan kelainan darah, gangguan ginjal, gangguan saraf, gangguan paru-paru, atau penyakit jantung, maka kemungkinan besar seseorang sedang mengidap lupus.

Kerusakan Organ dan Risiko Kematian
Kerusakan organ merupakan salah satu faktor utama yang meningkatkan risiko kematian pada penderita lupus. Menurut data, 35 persen pasien lupus dengan kerusakan organ memiliki risiko kematian yang lebih tinggi dibandingkan 8,7 persen pasien tanpa kerusakan organ.
Untuk itu, pemahaman dan kesadaran tentang lupus perlu ditingkatkan agar pengobatan dapat dilakukan secara dini. Pengobatan lupus di Indonesia kini semakin berkembang, termasuk dengan adanya obat baru seperti anifrolumab yang mampu menekan inflamasi dan produksi autoantibodi.
Pengobatan modern juga membantu menurunkan dosis obat kortikosteroid yang sering menyebabkan efek samping seperti jerawat, hipertensi, kenaikan berat badan, kenaikan gula darah, hingga gangguan kardiovaskular.

Kesimpulan
Lupus adalah penyakit yang lebih banyak menyerang perempuan, terutama yang berusia muda. Gejalanya sering kali terasa sepele, sehingga penting untuk segera memeriksakan diri ke dokter jika terjadi gangguan kesehatan. Meskipun lupus bisa menyebabkan kerusakan organ dan risiko kematian, pengobatan modern kini memberikan harapan bagi para penderita. Dengan kesadaran yang lebih tinggi, diharapkan diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dapat dilakukan.







