Gelombang Boikot terhadap Sarwendah di Change.org
Kemunculan gelombang petisi boikot terhadap Sarwendah di platform Change.org semakin memperkuat isu yang berkembang dalam masyarakat. Petisi ini muncul sebagai respons atas konflik yang terjadi antara Sarwendah dan Ruben Onsu, khususnya setelah perceraian mereka. Petisi-petisi tersebut menuntut brand dan pelaku usaha untuk mengevaluasi kerja sama promosi dengan artis tersebut.
Petisi yang beredar mencakup beberapa tema utama seperti “Cancel Sarwendah dari Media Sosial”, “Boikot Sarwendah”, serta “Boikot/Cancel Sarwendah untuk Semua Media Sosial dan Televisi”. Dari ketiganya, petisi pertama menjadi yang paling banyak mendapat dukungan publik. Hingga Senin (6/7/2026), petisi yang dibuat oleh akun Netizen Update sejak 29 Juni 2026 telah mengumpulkan lebih dari 95 ribu tanda tangan. Rinciannya, petisi “Cancel Sarwendah dari Media Sosial” memperoleh 74.922 tanda tangan, sementara “Boikot Sarwendah” mengumpulkan 21.449 tanda tangan, dan “Boikot/Cancel Sarwendah untuk Semua Media Sosial dan Televisi” mendapat 73 tanda tangan.
Isi petisi tidak hanya mengajak masyarakat memboikot Sarwendah di media sosial, tetapi juga mendesak perusahaan serta pelaku usaha untuk mengevaluasi kembali kerja sama promosi dengan mantan personel Cherrybelle tersebut. Mereka mengajak brand untuk lebih selektif dalam memilih figur publik sebagai wajah promosi. Selain itu, para penggagas juga menilai bahwa setiap perusahaan memiliki tanggung jawab menjaga citra serta kepercayaan konsumennya.
Petisi tersebut juga meminta agar Sarwendah tidak lagi dilibatkan dalam kegiatan pemasaran, khususnya melalui siaran langsung, hingga polemik yang menjadi perhatian publik memperoleh kejelasan.
Awal Mula Konflik
Konflik antara Ruben Onsu dan Sarwendah bermula setelah perceraian mereka. Perselisihan bermula ketika kuasa hukum Sarwendah mengungkap adanya persoalan penagihan cicilan mobil yang disebut merupakan aset milik Ruben Onsu. Selain itu, pihak Sarwendah juga menuding Ruben telah menghentikan pemberian nafkah kepada anak-anak selama sekitar enam bulan.
Kuasa hukum Sarwendah, Abraham Simon, menyebut seluruh kebutuhan anak, mulai dari biaya sekolah, les, hingga pengobatan, selama ini ditanggung oleh kliennya. Menanggapi tudingan tersebut, kuasa hukum Ruben Onsu, Minola Sebayang, membenarkan bahwa kliennya memang menghentikan sementara pemberian nafkah. Menurutnya, langkah itu merupakan bentuk protes karena Ruben mengaku kesulitan bertemu dengan anak-anaknya.
Di tengah polemik tersebut, beredar pula sejumlah potongan video siaran langsung Sarwendah yang dianggap menyindir Ruben Onsu. Salah satu pernyataan yang menjadi sorotan adalah ketika Sarwendah menyebut dirinya tidak membutuhkan nafkah Rp200 juta karena nominal tersebut dapat diperolehnya hanya dari satu kali siaran langsung. Pernyataan itu memicu gelombang kritik dari warganet hingga akhirnya Sarwendah menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial.
Hingga kini, baik Ruben Onsu maupun Sarwendah masih mempertahankan sikap masing-masing dan belum mengumumkan adanya penyelesaian atas berbagai persoalan yang menjadi sumber perselisihan.
Tanggapan Eks Manajer
Sementara itu, mantan manajer Sarwendah, Nanda Persada, menilai munculnya gelombang boikot merupakan konsekuensi yang harus dihadapi seorang figur publik. “Ya itu konsekuensi dari seorang public figure ya,” ujar Nanda Persada ditemui di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, Minggu (5/7/2026).
Menurut Nanda Persada, seorang artis sudah semestinya menjaga sikap karena setiap tindakan akan mendapat perhatian publik. “Namanya artis, selebriti, itu harus menjaga attitude-nya, sikapnya, perilakunya karena netizen kita ini sangat sensitif dan peka,” kata Nanda Persada.
Ia menilai respons publik berupa ajakan boikot merupakan bentuk sanksi sosial terhadap perilaku figur publik yang dianggap tidak pantas. “Mereka juga melihat ketika seorang artis atau public figure bersikap tidak etis, melanggar susila dan lain-lain, pasti itu ada sanksi sosial. Gitu, dan itu menjadi konsekuensi,” tutup Nanda Persada.







