Kehidupan Seorang Ketua RT yang Berjuang dengan Semangat Pengabdian
Rusdiawan, seorang pria berusia 38 tahun, tinggal di Jalan Daeng Tantu Lorong Sungai, Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo, Kota Makassar. Ia tidak memiliki latar belakang sebagai tokoh masyarakat atau pejabat pemerintahan. Sehari-hari, ia bekerja sebagai buruh harian lepas untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, berkat kepercayaan warga setempat, ia kini menjabat sebagai Ketua RT 05 RW 05. Jabatan tersebut menjadi pengalaman pertama dalam kepemimpinannya.
Awalnya, Rusdiawan tidak pernah berpikir untuk menjadi Ketua RT. Ia maju karena didorong oleh masyarakat yang ingin melihat sosok yang mau bekerja dan dekat dengan warga. “Ini pertama kalinya saya menjadi Ketua RT. Saya maju karena dorongan masyarakat. Mereka yang meminta saya bersedia memimpin lingkungan ini,” ujarnya saat menceritakan awal karier barunya.
Tantangan dalam Pemimpinan Lingkungan
Menjadi Ketua RT, bagi Rusdiawan, jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Di satu sisi, ia tetap harus bekerja sebagai buruh harian lepas untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di sisi lain, ia harus selalu siap ketika warga membutuhkan bantuan. Meski demikian, ia menerima amanah tersebut dengan penuh keikhlasan. “Awalnya memang berat. Membagi waktu antara bekerja dan melayani masyarakat tidak mudah. Tetapi namanya pengabdian, suka tidak suka harus dijalankan dan dinikmati prosesnya,” katanya.
Bagi Rusdiawan, jabatan Ketua RT bukan hanya tentang mengurus administrasi kependudukan atau menghadiri rapat. Ia menilai bahwa seorang Ketua RT harus dekat dengan warga, mendengarkan aspirasi mereka, dan berusaha mencarikan solusi atas setiap masalah. Karena itu, hampir setiap hari ia menyempatkan diri berkeliling lingkungan. Aktivitas tersebut dilakukan sebelum berangkat bekerja maupun setelah pulang mencari nafkah.
Peran dalam Program Pengelolaan Sampah
Semangat pengabdian Rusdiawan terlihat jelas saat Pemerintah Kota Makassar menerapkan kebijakan wajib memilah sampah dari rumah sejak 1 Agustus 2026. Jauh sebelum aturan berlaku, ia telah melakukan sosialisasi selama hampir dua bulan. Ia mendatangi rumah-rumah warga, menjelaskan pentingnya memilah sampah organik, anorganik, dan residu. Di wilayah yang dipimpinnya terdapat hampir 200 kepala keluarga, mayoritas bekerja sebagai buruh harian lepas. Sehingga menurutnya pendekatan yang paling efektif adalah komunikasi langsung, bukan sekadar memasang pengumuman.
Hasilnya mulai terlihat. Dua hari setelah kebijakan diberlakukan, sekitar 90 persen warga di wilayahnya mulai memilah sampah dari rumah. “Alhamdulillah sekitar 90 persen warga sudah menjalankan. Memang masih ada yang beradaptasi karena ini kebijakan baru,” ujarnya.
Menurut Rusdiawan, tantangan terbesar bukanlah penolakan masyarakat, melainkan mengubah kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun. “Warga sebenarnya mendukung. Hanya saja mereka masih kaget karena sebelumnya semua sampah dicampur. Sekarang mereka sedang belajar membiasakan diri,” katanya.
Inovasi dalam Pengelolaan Sampah
Untuk mempermudah warga, setiap RW di wilayahnya telah memiliki bank sampah. Sampah anorganik seperti botol dan plastik dikumpulkan di bank sampah, sedangkan sampah organik diolah untuk mendukung program urban farming. Jika ada warga yang tidak sempat mengantar sampah anorganik ke bank sampah, Rusdiawan tidak segan turun langsung menjemputnya. “Kalau ada warga yang tidak bisa membawa sampah ke bank sampah, kadang saya yang jemput dari rumah. Yang penting mereka tetap semangat memilah sampah,” ujarnya.
Selain bank sampah, pihaknya juga menyediakan ember tumpuk dan kandang plastik di sejumlah lorong sebagai sarana pendukung pengelolaan sampah.
Gotong Royong dan Kebersihan Lingkungan
Di luar program persampahan, Rusdiawan bersama warga juga rutin menggelar gotong royong setiap hari Minggu. Ia bersyukur wilayah yang dipimpinnya relatif bersih dan bebas banjir meski dihuni hampir 200 kepala keluarga. Menurutnya, kondisi itu didukung drainase yang langsung terhubung ke Sungai Tallo serta kepedulian masyarakat menjaga lingkungan.
Bagi Rusdiawan, keberhasilan membangun lingkungan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Perubahan harus dimulai dari tingkat RT, dengan pemimpin lingkungan yang mau turun langsung memberi contoh. “Kalau Ketua RT hanya menyuruh, masyarakat juga sulit ikut. Tetapi kalau kita ikut bekerja bersama mereka, warga pasti lebih semangat,” katanya.
Ia berharap budaya gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan terus tumbuh di tengah masyarakat. Menurutnya, jabatan Ketua RT bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kehadiran dan pengabdian bagi warga yang telah memberikan kepercayaan.





