Penyebab Keracunan di SMKN 6 Semarang Dugaan Terkait Bahan Makanan dan Waktu Memasak
Badan Gizi Nasional (BGN) menduga sementara bahwa kejadian keracunan yang terjadi di SMKN 6 Semarang, Jawa Tengah, disebabkan oleh kombinasi beberapa bahan makanan dan waktu memasak yang terlalu dini sebelum distribusi. Kejadian ini menimpa sebanyak 707 siswa dan guru yang mengalami gejala mual, muntah, dan diare setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah tersebut.
Dugaan tersebut muncul karena sekolah lain yang menerima makanan dari SPPG yang sama tidak mengalami kejadian serupa dan menerima distribusi lebih pagi. Hasil laboratorium untuk memastikan penyebab pasti masih menunggu selama 5–7 hari.
Selama proses investigasi, BGN membekukan sementara operasional SPPG Karangturi dan memberikan surat peringatan kepada pihak terkait. Kepala BGN, Sudaryono, menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam seluruh proses penyediaan makanan. Ia juga meminta pimpinan SPPG menunjukkan kepemimpinan yang tegas terhadap setiap bentuk pelanggaran prosedur.
Investigasi Awal dan Dugaan Penyebab
Berdasarkan hasil investigasi awal, BGN menduga insiden dipicu oleh beberapa bahan makanan, meliputi daun singkong hingga bumbu rendang, serta waktu memasak yang terlalu dini sebelum makanan didistribusikan. “Sejauh ini investigasi yang kami terima adalah ada beberapa bahan, ya ada daun singkong, ada bumbu rendang dan lain-lain. Tapi, sejauh ini, investigasi kita sejauh ini adalah dari bahan-bahan itu dan diduga memasaknya jauh lebih awal,” kata Sudaryono dalam akun TikTok pribadinya yang dibagikan langsung kepada Kompas.com, Minggu (2/8/2026).
Kesimpulan itu didapat ketika sejumlah sekolah lain yang mendapat menu dari SPPG yang sama tidak mengalami dugaan keracunan. Menu untuk sekolah lain didistribusikan lebih pagi. “Jadi, dari mulai jam 9 (malam) sudah mulai masak. Itu kemudian diberikan sekitar jam 9 atau jam 10 (pagi). Jadi, ini cukup lama, karena yang dikasih makan bukan hanya SMK Negeri 6 tapi juga beberapa sekolah yang lain. Nah, sekolah yang lain itu dikasikannya lebih pagi,” beber dia.
Hasil laboratorium baru akan keluar dalam 5–7 hari ke depan. Sembari menunggu, BGN memutuskan untuk membekukan sementara (suspend) SPPG Karangturi. Pihaknya juga telah melayangkan surat peringatan imbas kasus tersebut. “Jadi dapurnya di-suspend (sambil) menunggu (hasil) investigasi. Jadi kemudian SPPG-nya juga kita beri surat peringatan. Jadi di-suspend ini kan ada mitra, ada yayasan, ada SPPG, ada yang di situ kita beri sanksi termasuk Korcam dan ke atas ini kami beri peringatan,” tutur dia.
Dia mengingatkan SPPG senantiasa mengikuti SOP yang telah diatur. Dia juga meminta Kepala SPPG untuk tegas menindak berbagai bentuk penyimpangan dan ketidakpatuhan terhadap SOP. “Saya paham Anda punya chef, Anda punya pengawas gizi, Anda punya orang-orang yang kerja di situ. Barangkali mungkin ada satu dua yang ada yang ngeyelan, lah, harus ada leadership di situ. Karena nyawa, kesehatan dan nyawa seseorang itu sangat berarti,” ujar dia.
Proses Persiapan dan Distribusi Makanan
Sebelumnya diberitakan, sebanyak 707 orang mengalami gejala, terdiri atas 693 siswa dan 14 guru diduga keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 6 Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat (31/7/2026). Dari jumlah tersebut, 698 orang mendapatkan penanganan langsung di lokasi, sedangkan 9 orang dirujuk ke Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu untuk menjalani observasi lebih lanjut.
Berdasarkan hasil investigasi sementara, bahan baku untuk menu MBG diterima secara bertahap pada Rabu (29/7/2026). Bahan-bahan tersebut terdiri dari bumbu, buah, daging ayam, tahu, dan sayuran. Pengiriman bahan berlangsung mulai pukul 13.00 WIB hingga 17.30 WIB. Setelah diterima, bahan disimpan di gudang basah dan lemari pembeku. Proses persiapan makanan dimulai pada pukul 18.55 WIB, meliputi pencucian bahan, pengukusan tahu, serta marinasi ayam selama satu jam. Ayam kemudian digoreng hingga prosesnya selesai sekitar pukul 23.50 WIB.
Proses memasak dilanjutkan pada Kamis (30/7/2026) mulai pukul 00.30 WIB. Petugas memasak bumbu rendang, tahu, dan sayuran sebelum seluruh menu menjalani pengujian oleh ahli gizi. Uji organoleptik dan pengukuran gramasi dilakukan sekitar pukul 04.00 WIB. Setelah dinilai, makanan dikemas dan dikirim menuju sekolah dalam dua tahap. Distribusi pertama dilakukan pada pukul 06.00 WIB, sedangkan tahap kedua berlangsung sekitar pukul 08.10 WIB.
SPPG Karangturi baru menerima laporan mengenai munculnya keluhan kesehatan dari pihak sekolah pada Jumat (31/7/2026) sekitar pukul 09.40 WIB. Para siswa dilaporkan mengalami gangguan pencernaan berupa mual, muntah, dan diare.

