Kebodohan sebagai Bentuk Kemiskinan yang Paling Berbahaya
Dalam Islam, kemiskinan tidak selalu diukur dari sedikitnya harta yang dimiliki seseorang. Ada bentuk kemiskinan yang jauh lebih berbahaya karena dapat menyeret manusia kepada kesesatan, yaitu kemiskinan ilmu atau kebodohan. Hal ini tergambar dalam sebuah ungkapan yang populer di kalangan umat Islam, “Lā faqra asyaddu minal jahl”, yang berarti tidak ada kefakiran yang lebih berat daripada kebodohan.
Ungkapan ini menjadi pengingat bahwa ilmu merupakan bekal utama dalam menjalani kehidupan sekaligus jalan menuju kemuliaan di sisi Allah SWT. Dalam teks hadits, dinyatakan:
لَا فَقْرَ أَشَدُّ مِنَ الْجَهْلِ
Latin: Lā faqra asyaddu minal jahl.
Artinya: “Tidak ada kefakiran yang lebih parah daripada kebodohan.”
Ungkapan ini dinukil dalam beberapa kitab, di antaranya oleh Abu Bakar bin Kamil dalam Mu’jam-nya, Ibnun Najjar, Ibnu Hibban, dan Al-Qudha’i melalui jalur yang diperselisihkan para ahli hadis. Meskipun kualitas sanadnya tidak sekuat hadis-hadis sahih dalam Shahih Bukhari atau Shahih Muslim, para ulama lebih berhati-hati dalam mengutipnya sebagai hadits. Namun, makna yang dikandungnya didukung oleh banyak ayat Al-Qur’an dan hadis sahih.
Makna Hadits
Hadits ini mengajarkan bahwa kebodohan merupakan bentuk kemiskinan yang paling berbahaya. Orang yang tidak memiliki ilmu akan sulit membedakan antara yang benar dan yang salah, antara petunjuk dan kesesatan, serta rentan terjerumus dalam dosa maupun kesalahan. Kemiskinan harta masih dapat diatasi dengan bekerja dan berusaha. Namun, kemiskinan ilmu dapat menyebabkan seseorang kehilangan arah hidup, salah mengambil keputusan, bahkan merusak kehidupan dunia dan akhiratnya.
Dalam pandangan Islam, ilmu adalah cahaya yang menerangi jalan hidup seorang mukmin. Tanpa ilmu, seseorang dapat beribadah dengan cara yang salah, beramal tanpa dasar, hingga mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
3 Pelajaran Penting dari Hadits
Ilmu merupakan kekayaan yang sesungguhnya
Harta dapat habis, tetapi ilmu akan terus bermanfaat. Semakin dibagikan, ilmu justru semakin berkembang dan menjadi amal jariyah bagi pemiliknya.Kebodohan menjadi sumber berbagai kerusakan
Banyak konflik, fitnah, bahkan penyimpangan agama berawal dari minimnya ilmu. Karena itu, Islam sangat menekankan pentingnya belajar sebelum berbicara dan bertindak.Menuntut ilmu adalah kewajiban
Hadis ini mengingatkan bahwa setiap Muslim wajib terus belajar sepanjang hayat agar mampu menjalankan syariat dengan benar.
Dalil Al-Qur’an tentang Pentingnya Ilmu
Allah meninggikan derajat orang berilmu
Allah SWT berfirman:
“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu menjadi sebab seseorang memperoleh kedudukan mulia di sisi Allah.Orang berilmu tidak sama dengan orang yang tidak mengetahui
Allah SWT berfirman:
“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu merupakan pembeda utama antara manusia.Perintah pertama yang turun adalah membaca
Allah SWT berfirman:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.”
(QS. Al-‘Alaq: 1)
Wahyu pertama ini menjadi bukti bahwa Islam dibangun di atas fondasi ilmu pengetahuan.
Hadis Lain tentang Menuntut Ilmu
Menuntut ilmu adalah kewajiban
Rasulullah SAW bersabda:
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.”
(HR. Ibnu Majah No. 224, dinilai hasan oleh sebagian ulama)Jalan menuju surga
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim No. 2699)Allah menghendaki kebaikan bagi orang yang memahami agama
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa dikehendaki Allah menjadi baik, niscaya Allah akan memahamkannya tentang agama.”
(HR. Bukhari No. 71 dan Muslim No. 1037)
Hikmah Hadits
Beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari hadis ini antara lain:
- Ilmu adalah kekayaan yang tidak dapat dicuri maupun habis karena digunakan.
- Kebodohan menjadi penyebab seseorang mudah tertipu dan terjerumus dalam kesalahan.
- Umat Islam diperintahkan untuk terus belajar, baik ilmu agama maupun ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan.
- Orang tua memiliki tanggung jawab memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anaknya.
- Di era digital, umat Islam harus membekali diri dengan ilmu agar mampu menyaring informasi dan tidak mudah termakan hoaks maupun fitnah.
Relevansi dalam Kehidupan Modern
Pada zaman informasi yang serba cepat, kebodohan tidak lagi sekadar tidak bisa membaca atau menulis. Seseorang bisa memiliki akses internet dan pendidikan tinggi, tetapi tetap terjebak dalam kebodohan apabila enggan mencari kebenaran, tidak mau belajar, atau menyebarkan informasi tanpa tabayun.
Karena itu, pesan dalam ungkapan “Lā faqra asyaddu minal jahl” tetap relevan. Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan ilmu, akhlak, dan kebijaksanaan agar membawa manfaat, bukan mudarat.
Ungkapan “Lā faqra asyaddu minal jahl” mengajarkan bahwa kebodohan adalah bentuk kemiskinan yang paling berat karena dapat merusak kehidupan dunia maupun akhirat. Meskipun riwayat ungkapan ini diperselisihkan kekuatannya sebagai hadis, kandungannya selaras dengan banyak ayat Al-Qur’an dan hadis sahih yang menegaskan kemuliaan ilmu serta kewajiban menuntut ilmu bagi setiap Muslim.
Oleh karena itu, setiap Muslim hendaknya menjadikan belajar sebagai bagian dari ibadah sepanjang hayat agar memperoleh petunjuk, kemuliaan, dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat.






