Bulan Agustus dan Pola Pergerakan Pasar Saham Indonesia
Secara historis, bulan Agustus sering kali menjadi bulan yang menguntungkan bagi pasar saham Indonesia. Dalam 11 tahun terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lebih sering ditutup di zona hijau selama bulan tersebut. Data dari Bloomberg Terminal menunjukkan bahwa IHSG mencatat kenaikan rata-rata sebesar 1,36% selama periode Agustus dalam kurun waktu tersebut. Penguatan terbesar terjadi pada Agustus 2024 ketika indeks naik hingga 5,72%. Sementara itu, penurunan terdalam tercatat pada Agustus 2015 dengan penurunan sebesar 6,10%.
Momentum musiman ini kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada Agustus tahun ini. Selain didukung oleh pola historis yang cenderung positif, pasar juga akan diwarnai agenda peninjauan atau rebalancing sejumlah indeks saham, termasuk Indeks Kompas100. Indeks Kompas100 juga menunjukkan pola pergerakan yang serupa dengan IHSG. Indeks yang beranggotakan 100 saham berkapitalisasi besar dan berlikuiditas tinggi itu mencatat kenaikan rata-rata sebesar 1,27% pada periode Agustus dalam 11 tahun terakhir.
Rekomendasi Saham dan Strategi Investasi
Fath Aliansyah Budiman, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, menyatakan bahwa Indeks Kompas100 masih memiliki potensi yang baik dalam beberapa waktu ke depan meskipun setelah kenaikan di bulan Juli pada saham-saham konstituen akan memberikan volatilitas jangka pendek. Untuk investor yang memiliki preferensi pembayaran dividen dengan pertumbuhan relatif stabil, saham-saham perbankan seperti BBCA menjadi pilihan yang menarik.
Sedangkan untuk investor yang mencari potensi risk reward lebih besar, Fath menyarankan memperhatikan perusahaan yang memiliki kinerja keuangan yang menarik seperti BRIS, SSIA, dan TINS. Hal ini dilakukan karena emiten-emiten tersebut memiliki prospek bisnis yang kuat dan kemampuan untuk menjaga pertumbuhan laba.
Elandry Pratama, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas, menilai bahwa prospek Kompas100 masih cukup menarik, terutama jika didukung oleh stabilitas suku bunga global, pemulihan kinerja emiten pada semester II-2026, serta aliran modal asing yang membaik. Meski valuasi saham di dalam indeks saat ini sudah berada di bawah rata-rata historis, Elandry melihat bahwa pemulihan kemungkinan tidak akan berlangsung secara merata.
Selektivitas Pasar dan Strategi Stock Picking
Pasar saat ini lebih selektif dan cenderung memberikan premi kepada emiten yang mampu menjaga pertumbuhan laba, arus kas yang kuat, serta memiliki prospek bisnis yang jelas. Oleh karena itu, strategi stock picking tetap lebih penting dibanding sekadar membeli indeks secara keseluruhan. Elandry juga menambahkan bahwa prospek saham-saham dalam Kompas100 akan bergantung pada kualitas fundamental masing-masing emiten, bukan semata karena masuk ke dalam indeks.
Untuk pilihan saham, Elandry masih cenderung menyukai emiten berfundamental kuat dan memiliki visibilitas pertumbuhan laba yang baik seperti BBCA, BMRI, dan BRIS di sektor perbankan. Ketiganya masih didukung kualitas aset yang solid dan potensi pertumbuhan kredit yang stabil. Di sektor telekomunikasi, TLKM juga menarik karena valuasinya relatif murah dibanding historis, memiliki arus kas yang kuat, serta berpotensi diuntungkan dari pertumbuhan bisnis data dan efisiensi operasional.
Efek Rebalancing dan Arus Modal Asing
Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, mengungkapkan bahwa efek rebalancing indeks cenderung bersifat teknikal jangka pendek berupa aliran dana pasif (index fund flow) yang masuk ke saham-saham yang baru masuk indeks dan keluar dari saham yang tereliminasi. Efek ini berpotensi memicu tekanan jual jangka pendek pada saham yang terdepak seperti BREN dan DSSA. Namun, Rully menegaskan bahwa saham-saham ini sangat spekulatif dan sulit diprediksi.
Selain itu, faktor pendorong pemulihan utamanya adalah valuasi saham-saham perbankan big cap yang berada di level price to book value terendah dalam lima tahun terakhir.
Penurunan Indeks Kompas100 dan Strategi Investasi Defensif
Ratih Mustikoningsih, Financial Expert Ajaib Sekuritas, menyoroti bahwa Indeks Kompas100 telah terkoreksi hingga minus 31,58% secara year to date (YTD). Penurunan ini lebih dalam dibandingkan IHSG yang terkoreksi 27,9%, LQ45 sebesar 26,6%, maupun IDX30 sebesar 20% per 31 Juli 2026. Menurut Ratih, kondisi ini menunjukkan bahwa di tengah fase koreksi pasar secara menyeluruh, pelaku pasar cenderung melakukan penyaringan yang lebih selektif. Pasar kini memprioritaskan emiten berkapitalisasi besar dengan fundamental solid yang harganya telah terdiskon signifikan di bawah rata-rata valuasi lima hingga sepuluh tahun terakhir.
Rekomendasi Saham dan Strategi Portofolio
Meski IHSG berhasil mencatatkan rebound sebesar 16,7% dari titik terendahnya pada periode 8 Juni hingga 31 Juli 2026, investor asing masih mencatatkan arus keluar dana (outflow) sebesar Rp10,6 triliun pada periode tersebut. Secara akumulatif sepanjang tahun berjalan (year to date), nilai net sell investor asing di seluruh pasar mencapai Rp71,4 triliun. Kondisi ini membuat kenaikan harga saham saat ini berisiko hanya bersifat sementara.
Berdasarkan hasil analisis ekonometrika U-MIDAS menggunakan data harian selama lima tahun terakhir, setiap arus modal keluar investor asing sebesar Rp1 triliun terbukti menekan IHSG secara real time sebesar 54,6 poin. Ratih menilai, belum adanya aliran dana masuk (inflow) dari investor asing membuat setiap kali IHSG berusaha menembus level resistance, investor asing justru memanfaatkannya sebagai momentum aksi jual (sell on strength).
Oleh karena itu, Ratih menyarankan pengelolaan portofolio dilakukan secara defensif namun tetap adaptif melalui alokasi 45% pada saham value stock, 25% saham growth, dan 30% dalam bentuk kas. Untuk kategori value stock, saham-saham perbankan masih menarik karena menawarkan dividend yield yang tinggi. Berdasarkan harga penutupan 31 Juli 2026, dividend yield BMRI mencapai 12,6%, diikuti BBRI 11,8%, BBNI 10,1%, dan BBCA 5,4%.
Selain itu, investor juga dapat mempertimbangkan emiten growth stock yang memiliki agenda aksi korporasi dalam waktu dekat. Adapun, emiten sektor energi juga menarik dicermati di tengah kenaikan harga minyak mentah Brent sekitar 22% dalam sebulan terakhir hingga mencapai US$ 90 per barel per 31 Juli 2026.
Ratih membagikan sejumlah rekomendasi saham pilihan dari indeks Kompas100, antara lain akumulasi beli BMRI dengan target harga pada resistance di level Rp 4.500 serta pertimbangkan support di posisi Rp 4.000, dan akumulasi beli ESSA dengan resistance Rp 700 dan support Rp 600. Tak hanya itu, Ratih juga menyarankan trading buy saham ENRG dengan target harga pada resistance di level Rp 1.400 dan pertimbangkan support di level Rp 600 per saham.







