Pengembangan Kawasan Blok M sebagai Pusat Integrasi Transportasi dan Ruang Publik
Terminal Blok M tidak lagi sekadar menjadi tempat penumpang naik dan turun. PT MRT Jakarta (Perseroda) sedang mempersiapkan transformasi kawasan ini menjadi terminal modern yang menggabungkan transportasi publik, ruang publik, hingga pengembangan properti dalam satu kawasan terintegrasi. Rencana ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi pengembangan kawasan serupa di masa depan.
Visi MRT Jakarta untuk Blok M
Sagita Devi, Kepala Departemen TOD Planning MRT Jakarta, memberikan gambaran tentang rencana pengembangan kawasan tersebut. Ia menyebut proyek ini akan dikenal sebagai “ultimate Blok M”. Menurutnya, konsep TOD (Transit-Oriented Development) yang telah diterapkan di Blok Hub sudah cukup berhasil selama dua tahun terakhir.
“Kami mengelola Blok Hub dan Alhamdulillah sekarang bisa menjadi salah satu tempat yang sangat fantastis,” ujar Sagita dalam acara bertajuk “Pedestrian Deck Dukuh Atas: Menghubungkan Kawasan, Menggerakkan Kota” di Jakarta, Kamis (30/7).
Pengembangan kawasan Blok M dimulai dari revitalisasi Taman Martha Christina Tiahahu menjadi Taman Literasi. Revitalisasi ini dimulai pada 2022 dan menjadi proyek percontohan MRT Jakarta dalam mengembangkan kawasan berorientasi transit. Menurut Sagita, ruang publik tidak hanya berfungsi sebagai area resapan air, tetapi juga sebagai ruang terbuka yang mendukung aktivitas masyarakat perkotaan.
MRT Jakarta juga mengusulkan menambahkan area komersial di dalam kawasan tersebut agar dapat membiayai operasional dan pemeliharaan ruang publik, seperti kebersihan, listrik, dan perawatan fasilitas. Dengan skema ini, pengelolaan infrastruktur tidak sepenuhnya bergantung pada anggaran pemerintah daerah.
Konsep Mixed-Use dan Revitalisasi Terminal Blok M
Menurut Sagita, konsep ini terbukti berhasil, terutama karena tingginya kebutuhan masyarakat terhadap ruang terbuka untuk beraktivitas setelah pandemi. Torehan itu kemudian menjadi salah satu referensi bagi pengembangan ruang publik di kawasan lain.
“Saat ini kami sedang fokus ke pengembangan ultimate Blok M dan pedestrian deck,” kata Sagita.
Sejalan dengan pengembangan tersebut, Sagita menjelaskan bahwa MRT Jakarta akan melanjutkan transformasi kawasan melalui revitalisasi Terminal Blok M. Proyek ini akan mengusung konsep mixed-use dengan menghadirkan apartemen, hotel, serta fungsi komersial lainnya. Menurutnya, revitalisasi ini diharapkan menjadikan Terminal Blok M sebagai percontohan terminal modern yang terintegrasi.
Pandangan dari Pengamat Transportasi
Pengamat transportasi Universitas Soegijapranata Semarang, Djoko Setijowarno, menilai pengembangan kawasan ultimate Blok M atau Blok M Hub yang mencakup proyek fungsi campuran seperti apartemen, hotel, dan fasilitas komersial harus dirancang lewat pendekatan berorientasi transit murni.
Menurutnya, kunci utamanya adalah memastikan pembangunan fisik tidak mengesampingkan atau memperburuk fungsi utama kawasan sebagai transportasi publik. Ia juga menilai pengembangan ini diharapkan bisa memperkuat fungsi terminal dan fungsi transit secara keseluruhan.
Djoko menyoroti beberapa aspek yang harus diprioritaskan. Pertama, seamless integration atau integrasi yang mulus. Adanya rute transit langsung, akses pengguna MRT, Transjakarta, dan angkutan kota ke peron atau shelter terminal tidak boleh diputar-putar melintasi area komersial atau pertokoan secara paksa.
“Integrasi harus intuitif, serba indoor, terlindung dari hujan/panas, dan ramah disabilitas dengan memenuhi standar aksesibilitas universal,” katanya.
Selain itu, penempatan terminal operasional bus di area bawah tanah dan fasilitas pejalan kaki/penghubung di atas harus memisahkan sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki. Djoko juga menegaskan perlindungan dan kenaikan kapasitas operasional terminal.
Fasilitas Modern dan Pengelolaan Parkir
Djoko menekankan pentingnya fasilitas pengemudi dan operasional modern. Misalnya, penyediaan ruang istirahat yang layak untuk pengemudi bus, sistem navigasi/jadwal digital, hingga fasilitas pengisian daya untuk armada bus listrik.
Pengelolaan parkir juga harus menjadi perhatian dalam revitalisasi Blok M. Menurutnya, kapasitas parkir kendaraan pribadi perlu dibatasi agar tidak ada kemacetan. Sementara fasilitas park and ride harus diprioritaskan bagi pengguna yang beralih ke MRT Jakarta atau Transjakarta, bukan sekadar parkir pengunjung ritel.
Mendorong Pengguna Transportasi Umum
Djoko mengatakan integrasi proyek mixed-use dengan Terminal Blok M diproyeksikan akan meningkatkan jumlah pengguna transportasi umum. Salah satunya melalui penerapan konsep kota 24 jam, yang menggabungkan fungsi hunian, hotel, perkantoran, dan komersial sehingga menciptakan pola perjalanan dua arah.
Mobilitas masyarakat tidak hanya terkonsentrasi pada jam sibuk, tetapi berlangsung sepanjang hari sehingga mendorong penggunaan MRT dan Transjakarta. Malam dan akhir pekan, penghuni apartemen, tamu hotel, dan pengunjung area komersial dan hiburan tetap memanfaatkan transportasi umum untuk mobilitas.
Selain itu, Djoko menilai kenaikan penggunaan transportasi umum juga harus didukung fasilitas first-mile dan last-mile. Kawasan Blok M perlu dilengkapi dengan layanan pengumpan yang terintegrasi. Misalnya, ada titik drop-off yang tertata, hingga infrastruktur ramah pejalan kaki dan pesepeda agar akses menuju stasiun maupun terminal menjadi lebih mudah dan nyaman.
Namun Djoko juga menilai kemudahan akses menjadi faktor penting dalam mendorong masyarakat beralih ke transportasi umum. Akses yang nyaman dan aman dari hunian atau kawasan komersial menuju Stasiun MRT maupun Terminal Transjakarta akan mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi.
“Juga integrasi taman publik seperti Taman Literasi dan area kegiatan komunitas menjadikan transit sebagai bagian dari lifestyle, bukan sekadar keharusan mobilitas harian,” ujar dia.







