Cuaca Panas Ekstrem dan Risiko Kesehatan pada Anak
Cuaca panas ekstrem dan kemarau yang berkepanjangan meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, terutama pada anak-anak. Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah heat stroke, yaitu keadaan darurat medis ketika tubuh mengalami peningkatan suhu yang sangat tinggi dan tidak mampu lagi mengatur suhu tubuh secara normal.
Kondisi ini tidak boleh dianggap remeh. Segera berikan pertolongan medis untuk anak. Jika terlambat bisa menyebabkan komplikasi serius pada organ-organ vital.
Dosen Program Pendidikan Dokter Spesialis Kedokteran Keluarga Layanan Primer (PPDS KKLP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Siti Rizki Fauziah, menjelaskan bahwa anak lebih rentan mengalami gangguan akibat panas dibandingkan orang dewasa. Anak-anak masih dalam masa pertumbuhan sehingga sistem regulasi tubuh mereka belum sesempurna orang dewasa. Anak juga dapat menghasilkan panas tubuh lebih tinggi ketika melakukan aktivitas fisik, bermain, berlari, atau melakukan aktivitas lainnya. Sementara, mekanisme pendinginan tubuh melalui penguapan keringat pada anak belum bekerja seefektif orang dewasa.
“Di sisi lain, sistem kelenjar keringat mereka belum bekerja seefektif orang dewasa sehingga proses pembuangan panas menjadi lebih sulit,” ungkapnya dikutip pada Jumat (21/8).
Kenali Tanda-Tanda Awal Heat Stroke
Sebelum berkembang menjadi heat stroke, anak dapat mengalami heat exhaustion atau kelelahan akibat panas. Kondisi ini ditandai dengan beberapa gejala, antara lain: keringat berlebihan, pusing atau sakit kepala, tubuh terasa lemas, mual atau muntah, kram otot, rasa sangat haus, tubuh terasa sangat panas dan tidak nyaman.
Jika paparan panas terus berlanjut dan kondisi tidak segera ditangani, gejala dapat berkembang menjadi heat stroke.
Orang tua perlu mewaspadai tanda yang lebih berat, terutama perubahan perilaku dan kesadaran, seperti anak tampak bingung, sulit diajak berkomunikasi, mengantuk berlebihan, mengalami penurunan kesadaran, hingga pingsan.
“Heat stroke harus dipandang sebagai kondisi kegawatdaruratan medis yang serius. Ini bukan hanya rasa panas biasa yang dapat menyebabkan gangguan pada otak, jantung, ginjal, hingga organ-organ vital lainnya,” tegas dr. Siti.
Pertolongan Pertama pada Anak yang Mengalami Heat Stroke
Ketika anak mulai menunjukkan tanda-tanda kepanasan, tindakan pertama adalah segera menghentikan aktivitas dan memindahkannya ke tempat yang lebih sejuk. Pindahkan ke tempat yang lebih sejuk. Jika memungkinkan masuk ke ruangan ber-AC untuk beristirahat dan minum.
Namun, jika anak sudah menunjukkan tanda heat stroke, jangan menunda penanganan hanya dengan mengandalkan cara rumahan. Sambil menunggu bantuan medis atau selama perjalanan menuju fasilitas kesehatan, beberapa langkah dapat dilakukan untuk membantu menurunkan suhu tubuh anak:
- Pindahkan anak ke tempat yang teduh dan sejuk.
- Lepaskan pakaian yang berlapis, tebal, atau terlalu ketat.
- Basahi tubuh anak dengan air biasa atau air sejuk.
- Bantu proses penguapan dengan kipas angin.
- Kompres area tubuh yang memiliki banyak pembuluh darah besar, seperti leher, ketiak, dan selangkangan.
“Langkah ini bertujuan membantu mempercepat pelepasan panas dari tubuh sambil menunggu penanganan medis lebih lanjut,” ujar dia.
Hindari 3 Kesalahan Fatal Saat Menangani Heat Stroke
Jangan Memberikan Obat Penurun Panas
“Parasetamol maupun ibuprofen tidak bekerja untuk mengatasi heat stroke. Justru ketika tubuh sedang mengalami dehidrasi dan organ-organ sedang berada dalam kondisi stres akibat panas, penggunaan obat-obatan tersebut dapat menambah beban kerja hati maupun ginjal,” tegas dr. Siti. Karena itu, fokus utama ketika menghadapi heat stroke adalah pendinginan tubuh secepat mungkin dan mendapatkan pertolongan medis.Jangan Memaksa Anak Minum Saat Kesadarannya Menurun
Memberikan cairan dapat membantu mencegah dan mengatasi dehidrasi pada anak yang masih sadar dan mampu menelan dengan baik. Namun, kondisi berbeda jika anak sudah mengalami penurunan kesadaran. Jika anak mengantuk berat, bingung, atau tidak sadar, jangan memaksanya untuk minum. Tindakan tersebut dapat meningkatkan risiko tersedak karena kemampuan menelan dan refleks perlindungan saluran napas dapat terganggu. Untuk anak yang masih sadar penuh dan dapat menelan dengan baik, air putih atau larutan elektrolit dapat menjadi pilihan untuk membantu menjaga hidrasi.Jangan Menggunakan Alkohol atau Air Es Langsung
Orang tua juga perlu menghindari penggunaan alkohol pada kulit maupun menempelkan air es secara langsung ke tubuh anak. Cara yang lebih aman adalah menggunakan air biasa atau air sejuk untuk membantu proses pendinginan tubuh. Pendinginan dapat dibantu dengan membasahi tubuh dan menggunakan kipas agar penguapan berlangsung lebih efektif.
Heat stroke bukan sekadar kondisi “kepanasan” biasa. Ketika anak mulai mengalami perubahan kesadaran atau tanda kegawatan lainnya, pertolongan medis harus segera dicari. “Semakin cepat kondisi ini disadari dan ditangani dengan benar, semakin besar peluang anak terhindar dari komplikasi yang lebih berat,” pesan dr. Siti.







