Masalah Hipertensi di DIY yang Menjadi Perhatian Serius
Prevalensi hipertensi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi isu yang mendapat perhatian dari berbagai pihak. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa sekitar 31 persen penduduk DIY mengalami hipertensi, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 30,1 persen. Angka ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan ini tidak bisa dianggap remeh.
Faktor-faktor yang menyebabkan tingginya angka prevalensi hipertensi di DIY tidak hanya terkait dengan pola konsumsi masyarakat. Usia penduduk dan tingginya harapan hidup juga turut memengaruhi keadaan ini. Dalam wawancara dengan dr. Bagus Andi Pramono, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Hipertensi tingkat nasional di bawah Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), ia menjelaskan bahwa semakin banyak penduduk berusia lanjut di suatu daerah, risiko hipertensi juga meningkat.
Faktor Usia dan Perubahan Pembuluh Darah
Perubahan kondisi pembuluh darah seiring bertambahnya usia menjadi salah satu penyebab utama peningkatan tekanan darah. “Kalau saya lebih ke arah umur atau angka harapan hidup tadi. Kemudian, selain itu juga pola makan kita,” ujar Bagus dalam pengenalan layanan EOC OMRON Healthcare Indonesia di Artotel Suites Bianti Yogyakarta, Kamis (20/8/2026).
Pembuluh darah yang semakin kaku seiring pertambahan usia membuat tekanan darah lebih mudah meningkat. Hal ini menjelaskan mengapa wilayah dengan populasi lansia yang besar cenderung memiliki tingkat hipertensi yang lebih tinggi. Di DIY, khususnya di Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta, tingkat prevalensi hipertensi relatif tinggi karena karakteristik demografi yang dominan.
Pola Makan yang Tidak Sehat
Selain faktor usia, pola makan masyarakat juga menjadi perhatian serius. Konsumsi natrium yang tinggi melalui makanan gurih dan asin, serta kebiasaan mengonsumsi makanan manis, menjadi kombinasi yang berbahaya. “Sekali lagi, pola makan kita berkaitan dengan natrium yang juga tinggi. Makanan yang gurih-gurih juga kita konsumsi. Kemudian makanan yang manis. Jadi, menurut saya, itu sebuah double strike. Dua-duanya menyebabkan prevalensi hipertensi pasti akan lebih tinggi,” jelas Bagus.
Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah mendorong pembatasan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL). Untuk garam, batas konsumsi yang dianjurkan adalah maksimal lima gram per hari atau kurang lebih setara satu sendok teh. “Lima gram itu kurang lebih satu sendok teh. Lima gram sehari untuk satu orang sebenarnya itu sudah cukup banyak,” jelasnya.
Pengaruh Industri Kuliner yang Berkembang Pesat
Selain itu, perkembangan pesat industri kuliner di Yogyakarta juga turut memengaruhi pola konsumsi masyarakat. Bagus mengakui bahwa maraknya kuliner, terutama makanan jalanan atau street food, dapat memengaruhi gaya hidup masyarakat. Di Sleman dan Kota Yogyakarta, pilihan kuliner sangat beragam dan mudah diakses. “Street food sekarang banyak banget,” ujarnya.
Kemudahan akses terhadap berbagai jenis makanan ini menjadi tantangan dalam menjaga pola makan sehat. Meskipun terdapat pembatasan pembangunan dan permukiman, arus masyarakat yang tinggal di Sleman tetap cukup besar. Hal ini turut memperkuat karakteristik demografi yang memengaruhi tingkat prevalensi hipertensi di wilayah tersebut.
Upaya untuk Mengurangi Risiko Hipertensi
Untuk mengurangi risiko hipertensi, masyarakat perlu lebih waspada terhadap konsumsi garam dan pola makan secara keseluruhan. Selain itu, penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan menjaga gaya hidup yang sehat. Dengan kesadaran yang tinggi, diharapkan tingkat prevalensi hipertensi di DIY dapat dikurangi secara signifikan.







