Peristiwa Banjir Bandang yang Mengguncang Pariwisata Guci
Peristiwa banjir bandang yang terjadi untuk kedua kalinya di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Guci, Kabupaten Tegal pada Sabtu (24/1/2026), bukan sekadar bencana alam biasa. Kejadian ini menjadi titik balik serius bagi wajah pariwisata Guci dan keberlangsungan ekonomi masyarakat yang selama ini bergantung pada sektor wisata.
Menurut Ketua Klaster Pariwisata DPP V Jawa Tengah Setya Teguh Yuwana, dampak dari banjir bandang tersebut sangat signifikan. Bencana ini tidak hanya merusak fasilitas utama wisata, tetapi juga mengganggu akses jalan, jembatan penghubung, serta area pemandian air panas yang menjadi ikon Guci.
Dampak Langsung Terhadap Pariwisata
Banjir bandang menyebabkan kerusakan pada fasilitas utama wisata, seperti akses jalan, jembatan penghubung, dan area pemandian air panas. Akibatnya, aktivitas wisata terhenti sementara, khususnya pemandian air panas Pancuran 13 dan Pancuran 5. Selain itu, tingkat kunjungan wisatawan juga mengalami penurunan.
“Bencana banjir bandang yang kedua kalinya terjadi membuat kepercayaan pasar wisata terhadap keamanan kawasan Guci mengalami guncangan,” ujar Setya Teguh Yuwana.
Tekanan Berat Bagi Ekonomi Lokal
Dampak paling terasa dirasakan oleh pelaku usaha seperti warung, pedagang kaki lima, penyewa ban, pemandu wisata, pengelola homestay, vila, dan hotel serta pekerja informal sektor wisata. Efek domino ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi berpotensi memicu penurunan ekonomi kawasan secara struktural jika tidak segera ditangani secara serius dan berkelanjutan.
“Laporan yang saya terima dari beberapa pelaku usaha penginapan ada banyak tamu yang membatalkan kunjungan karena bencana banjir bandang yang kembali menimpa Guci,” ungkap Teguh.
Wajah Guci Tidak Akan Sama Lagi
Teguh menyebut bahwa peristiwa banjir bandang menandai bahwa Guci tidak bisa kembali ke pola lama. Penanganan parsial dan respon darurat semata tidak lagi cukup. Menurut Teguh, Guci membutuhkan penataan ulang kawasan wisata berbasis mitigasi bencana. Redefinisi konsep pariwisata yang lebih aman, adaptif, dan berkelanjutan diperlukan. Selain itu, kolaborasi nyata antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat lokal, dan investor harus segera dilakukan.
“Banjir bandang kedua ini adalah peringatan keras bahwa pembangunan pariwisata tanpa keseimbangan ekologi dan manajemen risiko hanya akan menunda krisis yang lebih besar,” tegasnya.
Momentum Perubahan
Di balik musibah yang terjadi, tersimpan peluang besar untuk membangun Guci versi baru. Guci versi baru yang dimaksud seperti destinasi yang lebih tertata, ramah lingkungan, aman bagi wisatawan, dan lebih adil bagi masyarakat lokal. Saatnya Guci tidak hanya dikenal sebagai pemandian air panas, tetapi sebagai contoh transformasi destinasi wisata pegunungan yang tangguh terhadap bencana.
“Guci berduka. Namun dari duka ini ada arah baru harus dilahirkan,” kata Teguh.
Pentingnya Pengelolaan Holistik
Teguh menambahkan, Guci harus dikelola secara holistik dari hulu ke hilir dengan mengedepankan keseimbangan lingkungan. Termasuk koordinasi dengan semua stakeholder dan lintas wilayah, terutama di wilayah lereng Gunung Slamet yang harus dijaga agar tidak menimbulkan bencana serupa dikemudian hari.
“Kerugian materiil sangat besar untuk membangun infrastruktur yang rusak. Sedangkan kerugian imateriil adalah makin terkikisnya branding Destinasi Wisata Guci karena dinilai tidak cukup aman bagi wisatawan,” tutup Teguh.







