Ringkasan Berita:
- Harian Serambi Indonesia menggelar kenduri dan doa bersama memperingati 40 hari meninggalnya H Sjamsul Kahar bin M Daham Nuh.
- Kegiatan dihadiri ratusan tamu undangan dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, unsur TNI, tokoh masyarakat, insan pers.
- Rangkaian kegiatan diawali dengan shalat Magrib berjamaah, dilanjutkan samadiah, pembacaan Yasin, tahlil, doa bersama, penyampaian tausiah, serta pengenalan dua buku yang menghimpun tulisan tentang sosok almarhum.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Indra Wijaya | Banda Aceh
Infomalangraya.com, BANDA ACEH – Harian Serambi Indonesia bersama keluarga besar (ahlul bait) menggelar kenduri dan doa bersama memperingati 40 hari meninggalnya pendiri sekaligus Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, H Sjamsul Kahar bin M Daham Nuh, di halaman Kantor Serambi Indonesia, Senin (2/11/2026) malam.
Kegiatan tersebut dihadiri ratusan tamu undangan dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah, unsur TNI, tokoh masyarakat, insan pers, hingga keluarga dan sahabat almarhum.
Sejumlah tokoh yang hadir di antaranya Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, anggota DPR RI TA Khalid dan M Nasir Jamil, Danlanud Iskandar Muda Kolonel Pnb Suryo Anggoro, Kajati Aceh Teuku Rahmatsyah, Wakil Wali Kota Banda Aceh Afdhal Khalilullah, GM PLN UID Aceh Eddi Saputra, serta sejumlah anggota DPRA dan DPRK.
Para tamu mulai berdatangan sejak pukul 18.00 WIB. Rangkaian kegiatan diawali dengan shalat Magrib berjamaah, dilanjutkan samadiah, pembacaan Yasin, tahlil, doa bersama, penyampaian tausiah, serta pengenalan dua buku yang menghimpun tulisan tentang sosok almarhum.
Suasana berlangsung khidmat. Para hadirin mengikuti rangkaian doa sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengenang jasa dan pengabdian almarhum semasa hidup.
Pemimpin Harian Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur, dalam sambutannya menyampaikan bahwa H Sjamsul Kahar bukan sekadar pendiri dan pemimpin perusahaan media, tetapi juga sosok ayah bagi keluarga besar Serambi Indonesia.
Menurutnya, almarhum merupakan figur yang membimbing, mengajari, sekaligus melindungi para wartawan dan seluruh karyawan dalam menjalani perjalanan bersama Serambi Indonesia.
“Beliau adalah ayah bagi kami yang membimbing, mengajari, dan melindungi kami dalam menjalani hari-hari di Harian Serambi Indonesia,” ujar Zainal.
Ia mengatakan, banyak pelajaran, gagasan, karya, keteladanan, dan semangat yang diwariskan H Sjamsul Kahar. Warisan tersebut tidak hanya dirasakan oleh orang-orang yang pernah bekerja di Serambi Indonesia, tetapi juga berbagai komunitas dan elemen masyarakat di Aceh.
Hal itu, katanya, terlihat dari banyaknya tulisan dan ungkapan belasungkawa yang diterima Serambi Indonesia ketika almarhum berpulang ke rahmatullah.
Sebagian tulisan tersebut telah dipublikasikan melalui Infomalangraya.comdan Harian Serambi Indonesia. Bahkan, sejumlah sahabat dan komunitas kemudian menghimpun tulisan-tulisan tersebut menjadi buku sebagai bentuk penghormatan terhadap perjalanan hidup dan pemikiran almarhum.
Pada kesempatan itu, diperkenalkan dua buku yang memuat kenangan, pemikiran, dan keteladanan Almarhum H Sjamsul Kahar.
Buku pertama merupakan kumpulan tulisan para mantan wartawan Serambi Indonesia yang pernah bekerja bersama almarhum. Sejumlah penulis yang terlibat di antaranya M Nasir Jamil, Nasir Nurdin, dan Nurdin Hasan. Buku tersebut dikoordinatori Arif Ramdan.
Sementara buku kedua merupakan kumpulan tulisan dari berbagai komponen sipil Aceh yang tergabung dalam Krueng Semangat Aceh.
Zainal menyebutkan, kedua buku tersebut menjadi bagian dari upaya mengabadikan gagasan dan keteladanan almarhum agar terus dikenang oleh generasi berikutnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan terima kasih kepada para ulama dan guru yang telah memimpin pembacaan Yasin, tahlil, serta doa untuk almarhum, di antaranya Waled Rusli dan Teungku Akmal Abzal, bersama para guru yang hadir.
Ia berharap Allah SWT mengampuni segala khilaf dan kesalahan almarhum, menerima seluruh amal ibadah serta pengabdiannya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, ia juga berharap diberikan ketabahan, kesabaran, dan kekuatan.
Momentum 40 hari kepergian H Sjamsul Kahar itu juga menjadi pengingat bagi seluruh hadirin untuk melakukan introspeksi diri. Sebab, kematian merupakan kepastian yang akan dihadapi setiap manusia.
Karena itu, selain mengenang jasa orang yang telah berpulang, setiap orang diajak untuk merenungkan bekal yang telah dipersiapkan ketika ajal tiba.
Sebab, pada akhirnya, bukan hanya nama dan karya yang akan dikenang, tetapi juga amal ibadah serta kebaikan yang ditinggalkan selama hidup di dunia.(*)






