Sejarah Toko Kopi Bemo di Pasar Rawamangun
Toko Kopi Bemo, yang telah berdiri selama 60 tahun di Pasar Rawamangun, Kelurahan Rawamangun, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur, merupakan salah satu toko kopi yang menjajakan kopi nusantara. Dari sudut kios yang diapit oleh pedagang sembako dan sayur mayur, Toko Kopi Bemo setia menyajikan puluhan varian kopi nusantara kepada para penikmat kopi.
Meskipun lokasinya tidak terlihat menawan karena berada di dalam pasar tradisional, Toko Kopi Bemo tetap konsisten menjaga kualitas setiap varian biji kopi yang mereka sajikan. Konsistensi ini membuat pelanggan tidak hanya bertahan, tapi juga bertambah seiring generasi.
Edward Nurjadi (50), pemilik sekaligus generasi kedua penerus Kopi Bemo, mengatakan bahwa banyak pelanggan dari kakeknya, turun ke anak, lalu ke cucu masih membeli kopinya dari sini. Beberapa varian biji kopi yang dijajarkan antara lain Robusta Jantan Lampung, Robusta Solok, Robusta Aceh Gayo, Robusta Toraja, Arabica Sidikalang, Arabica Kerinci, dan Arabica Puntang.
Total ada 50 varian biji kopi yang dijajarkan oleh Toko Kopi Bemo, dengan mayoritas berasal dari pabrik pengolahan langsung. Perjalanan Kopi Bemo dimulai dari kedua orangtua Edward, yakni ayah Rahman dan ibunda Marta pada tahun 1965.
Kala itu, sang ayah mendapat pasokan biji kopi langsung dari pabrik dan mempromosikan kopi dengan memberikan sampel secara gratis ke warga di kawasan Pulogadung. Para sopir Bemo sebagai moda transportasi yang berjaya di masa itu pun menjadi target promosi Rahman yang mendapat sampel kopi nusantara secara cuma-cuma.
Nama Toko Kopi Bemo dipilih karena dahulunya di sekitar Pasar Rawamangun terdapat pangkalan Bemo, sehingga menunjukkan identitas lokasi toko. Seiring waktu, upaya mempromosikan kopi ini mempertemukan Rahman dengan kepala Pasar Rawamangun terdahulu, yang kemudian menawarkan membuka kios di dalam pasar.

“Kepala pasar saat itu berkata sama papa saya, ‘Mau gak masuk ke dalam, buka toko kopi?’ disambut baik papa saya. Dia ambil kesempatan itu untuk buka toko di Pasar Rawamangun,” ujar Edward. Secara perlahan Toko Kopi Bemo di Pasar Rawamangun dikenal masyarakat, pembeli dari berbagai kalangan pun berbondong-bondong datang untuk mencicipi ragam biji kopi yang dijajakan.
Pada awalnya bukan hanya Toko Kopi Bemo yang menjual kopi di Pasar Rawamangun, tapi seiring waktu dan dikenalnya kopi sachet kios-kios pedagang lainnya gulung tikar. Perjalanan Toko Kopi Bemo sendiri tak mudah, karena dahulunya sempat dibanding-bandingkan dengan toko menjual biji kopi lainnya di sejumlah pasar wilayah Jabodetabek.
Tapi konsistensi menjaga kualitas membuat kepercayaan pembeli terpupuk, bahkan sekarang Toko Kopi Bemo sudah memasok kopi ke sejumlah kafe, restoran, dan hotel ternama. “Kita konsisten dengan rasa dan kasih harga terbaik. Dari situ (pelanggan) tidak berpindah. Sekarang harga kopi paling murah Rp160 ribu (per kilogram) paling mahal Rp480 ribu,” tutur Edward.
Bahkan atas permintaan pelanggan, Toko Kopi Bemo masih mempertahankan kemasan kertas untuk membungkus pesanan hasil penggilingan biji yang dipesan pembeli. Menurut Edward, saat dia mencoba beralih menggunakan kemasan lebih modern banyak pembeli yang justru meragukan keaslian kopi, sehingga dia memilih tetap mempertahankan kemasan.

Untuk memenuhi pesanan para pelanggan pun Toko Kopi Bemo masih menggunakan dua mesin kopi yang sejak awal toko berdiri sudah digunakan, kedua mesin ini masih beroperasi tanpa kendala. Hanya saja setelah pandemi Covid-19 melanda pemesanan kopi di Toko Kopi Bemo mengalami penurunan cukup signifikan, khususnya untuk jenis biji kopi Lampung.
“Dulu zamannya ayah sehari bisa (menjual) sekitar 100 kilogram per hari. Kalau sekarang turunnya sekitar 40, 30 kilogram. Itu hanya kopi Lampung, di luar dari jenis biji kopi yang lain,” lanjut Edward.
Meski sudah bertahan selama 60 tahun dan memiliki pelanggan tetap tapi Toko Kopi Bemo terus berupaya berkembang, di antaranya dengan membuka Kedai Kopi Bemo di Pasar Rawamangun. Melalui kedai yang dibuka pada 7 Januari 2026 di lantai satu Pasar Rawamangun, Kedai Kopi Bemo menawarkan ragam varian kopi berkualitas dengan harga terjangkau di kantong.

Mengusung jargon Ngopi Enak Harga Merakyat Kedai Kopi Bemo percaya bahwa budaya ‘ngopi’ bukan hanya milik kalangan tertentu, tapi juga masyarakat menengah ke bawah. Termasuk para pembeli di Pasar Rawamangun, mereka yang sehabis berbelanja kebutuhan sehari-hari lalu butuh tempat untuk sekadar menikmati secangkir kopi berkualitas.
Bila mayoritas coffe shop menyasar pelanggan menengah ke atas, Kedai Kopi Bemo menargetkan pembeli menengah ke bawah dengan menawarkan harga kopi berkisar Rp8-Rp25 ribu. “Kalau saya lebih menyasar kepada pangsa pasar yang ada di layaknya pasar tradisional. Makanya kenapa harganya kita di bawah, itu karena saya sasarannya adalah middle low,” kata Edward.
Keinginan itu didukung bekal meracik kopi yang dia pelajari Edward sewaktu mengikuti pelatihan menjadi barista di First Crack di Sunter, Jakarta Utara pada tahun 2019 silam. Hasilnya pun terbilang sukses karena sejak awal dibuka kedai tak pernah sepi kedatangan pelanggan, bahkan banyak emak-emak memilih mampir ke Kedai Kopi Bemo usai berbelanja.
Selain itu terdapat warga yang bukan pembeli di Pasar Rawamangun, tapi memang sengaja datang ke Kedai Kopi Bemo demi untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Pembeli juga bisa memesan aneka kudapan di antaranya pisang goreng, singkong goreng, tempe mendoan, kentang goreng, hingga roti bakar dengan kisaran harga Rp12-Rp15 ribu.
“Saya juga tidak menyangka bahwasanya orang-orang yang dari luar sengaja datang untuk ngopi. Tadi saya pikir (pelanggan) hanya kalangan orang yang datang ke pasar, memang mau belanja,” ujar Edward.
Untuk menjaga kepercayaan para pelanggan tersebut Kedai Kopi Bemo yang belum genap berusia satu bulan selalu berupaya menjaga cita rasa dan memberikan pelayanan maksimal. Bagi Edward, Kedai Kopi Bemo merupakan sarana memperkenalkan kopi nusantara hingga ke seluruh lapisan masyarakat sekaligus memperkenalkan Pasar Rawamangun.
Pasalnya di tengah lesunya ekonomi masyarakat jumlah pembeli di Pasar Rawamangun berkurang, sehingga dia berharap kehadiran Kopi Bemo dapat meningkatkan jumlah pembeli. Tidak hanya untuk Kedai Kopi Bemo tapi juga untuk para pedagang lain, agar Pasar Rawamangun tetap menjadi sentra jual beli tempat masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saya ingin membuka kedai supaya orang-orang yang berdatangan. Enggak cuman minum kopi aja, tapi dia bisa berbelanja kebutuhan yang lain yang ada di Pasar Rawamangun,” tutur Edward.







