Close Menu
Info Malang Raya
    Berita *Terbaru*

    Orang yang Belajar Mengetik di Mesin Tik Memiliki 5 Ciri Kepribadian Ini, Menurut Psikologi

    7 Februari 2026

    Direktorat Jenderal AHU Gelar Pelatihan KUHAP 2025 untuk Hindari Dualisme Polri dan PPNS

    7 Februari 2026

    Kisah Raja Cirebon Terakhir yang Dimakamkan di Bantul dan Terlibat Intrik Mataram

    7 Februari 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube Threads
    Sabtu, 7 Februari 2026
    Trending
    • Orang yang Belajar Mengetik di Mesin Tik Memiliki 5 Ciri Kepribadian Ini, Menurut Psikologi
    • Direktorat Jenderal AHU Gelar Pelatihan KUHAP 2025 untuk Hindari Dualisme Polri dan PPNS
    • Kisah Raja Cirebon Terakhir yang Dimakamkan di Bantul dan Terlibat Intrik Mataram
    • Tangis Awam Prakoso saat baca kisah anak bunuh diri di NTT
    • Pendaftaran Beasiswa Amikom 2026/2027 Dibuka, Cek Syarat dan Jadwalnya
    • Tampilan baru Suzuki Jimny mirip Land Cruiser
    • RS BHC Run 2026: Olahraga, Budaya, dan UMKM Sumenep Bersatu
    • 5 Bakso Legendaris di Glodok yang Selalu Menggugah Rindu: Surga Kuah Gurih di Pusat Jakarta Pecinan
    • Cairkan bansos PKH dan BPNT 2026 via situs Kemensos
    • H-13 Ramadan 2026: Perhitungan Tanggal dan Doa Harian Lengkap untuk Warga Priangan
    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads
    Info Malang RayaInfo Malang Raya
    Login
    • Malang Raya
      • Kota Malang
      • Kabupaten Malang
      • Kota Batu
    • Daerah
    • Nasional
      • Ekonomi
      • Hukum
      • Politik
      • Undang-Undang
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
      • Otomotif
      • Kesehatan
      • Kuliner
      • Teknologi
      • Tips
      • Wisata
    • Kajian Islam
    • Login
    Info Malang Raya
    • Malang Raya
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Hiburan
    • Kajian Islam
    • Login
    Home»Kuliner»Sejarah Kue Mangkok: Rasa Filosofis dalam Tradisi Imlek di Solo

    Sejarah Kue Mangkok: Rasa Filosofis dalam Tradisi Imlek di Solo

    adm_imradm_imr6 Februari 20260 Views
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
    Share
    Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Sejarah dan Makna Kue Mangkok di Solo

    Kue mangkok adalah salah satu jajanan tradisional yang masih mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional Solo, Jawa Tengah. Bentuknya bulat menyerupai mangkuk kecil dengan bagian atas yang mekar seperti bunga. Meskipun terlihat sederhana, kue ini memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan tradisi Imlek dan budaya Tionghoa di Kota Bengawan.

    Asal Usul Kue Mangkok dari Tiongkok Selatan

    Secara historis, kue mangkok berasal dari Tiongkok Selatan dan dikenal dengan nama huat kue atau fa gao (fak kaw). Kue ini diperkirakan masuk ke Nusantara sekitar abad ke-17, dibawa oleh para pedagang Tionghoa yang menjalin hubungan dagang dengan wilayah pesisir Jawa, termasuk kawasan Solo dan sekitarnya.

    Dalam tradisi Tionghoa, kue mangkok bukan sekadar makanan, melainkan kue persembahan untuk para dewa. Bentuknya yang merekah saat dikukus melambangkan pertumbuhan, keberuntungan, dan harapan hidup yang terus meningkat.

    Kue Mangkok dan Tradisi Imlek di Solo

    Di Solo, kue mangkok telah lama menjadi bagian dari tradisi perayaan Imlek, berdampingan dengan kue keranjang. Warga keturunan Tionghoa di kawasan Pecinan Balong, Ketandan, hingga Sudiroprajan mengenal kue mangkok sebagai simbol kemakmuran dan kebahagiaan.

    Kue mangkok Imlek biasanya disajikan berwarna-warni cerah, seperti merah muda, cokelat, atau putih. Warna-warna tersebut memiliki makna simbolis, khususnya warna cerah yang melambangkan rezeki dan kesejahteraan. Menariknya, jumlah kue mangkok yang disajikan harus ganjil, seperti 3, 5, 7, atau 9. Dalam kepercayaan Tionghoa, angka ganjil memiliki makna khusus. Angka 3 melambangkan dunia dan akhirat, sementara angka ganjil di atasnya menandakan kesiapan seseorang dalam merayakan upacara besar seperti Imlek.

    Proses Indigenisasi Kue Mangkok di Jawa

    Seiring waktu, kue mangkok mengalami proses indigenisasi atau penyesuaian dengan selera lokal Jawa. Jika di Tiongkok rasa fa gao cenderung sederhana, kue mangkok di Indonesia, termasuk di Solo, mengalami pengayaan rasa.

    Bahan utama kue mangkok tetap berbasis tepung beras, namun ditambahkan tapai singkong, gula merah, dan terkadang taburan kelapa parut di atasnya. Penggunaan gula jawa memberi rasa manis khas Nusantara, berbeda dengan versi aslinya di Tiongkok. Di Bali, kue ini bahkan dikenal dengan nama kue kuskus dan digunakan sebagai bagian dari sesaji upacara adat.

    Dari Sajian Ritual ke Jajanan Rakyat

    Kini, kue mangkok tidak hanya hadir saat Imlek. Di Solo, kue ini kerap dijumpai dalam acara pengajian, syukuran, ulang tahun, hingga pertemuan warga. Penjual kue tradisional di pasar seperti Pasar Gede, kue mangkok ini masih bisa dijumpai.

    Meski telah menjadi kudapan khas Indonesia, nilai filosofisnya tetap melekat. Kue mangkok yang mekar sempurna dipercaya sebagai simbol doa agar kehidupan pemilik hajat ikut “mekar” dan berkembang.

    Resep Kue Mangkok

    Berikut resep kue mangkok gula merah:

    Bahan-bahan

    • 250 gr tapai singkong, buang tulang tengahnya, haluskan
    • 350 gr tepung beras
    • 60 gr tepung terigu serbaguna

    Bumbu

    • 1 sdm minyak sayur untuk mengoles
    • 750 ml air kelapa
    • 100 gr pasir halus
    • 275 gr gula merah, serut kasar
    • 3 lbr daun pandan, simpulkan
    • 2 sdt baking powder

    Bahan pelengkap

    • 50 gr kelapa muda, kupas, parut memanjang, kukus dengan ½ sdt garam

    Cara membuat:

    1. Olesi permukaan cetakan kue mangkok dengan minyak goreng. Panaskan dalam dandang yang tutupnya dilapisi dengan serbet, sisihkan.
    2. Rebus air kelapa, gula pasir, gula merah, dan daun pandan hingga larut dan cairan agak kental. Angkat dan saring.
    3. Campur tepung beras, tapai singkong dan 200 ml campuran gula, uleni hingga tercampur rata.
    4. Tambahkan tepung terigu dan baking powder, aduk rata.
    5. Tuangkan adonan ke dalam cetakan panas hingga bibir mangkok. Kukus kembali selama 30 menit hingga mengembang dan merekah. Angkat dan dinginkan.
    6. Lepaskan kue dari cetakan, sajikan bersama kelapa parut kukus.

    Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

    Berita Terkait

    5 Bakso Legendaris di Glodok yang Selalu Menggugah Rindu: Surga Kuah Gurih di Pusat Jakarta Pecinan

    By adm_imr7 Februari 20260 Views

    Hanya Bakpia? 10 Oleh-Oleh Khas Jogja Ini Bikin Liburanmu Berkesan

    By adm_imr7 Februari 20260 Views

    Bolehkah Makan Saat Imsak? Ini Waktu Sahur yang Benar untuk Puasa Lancar

    By adm_imr6 Februari 20260 Views
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    Putin Says Western Sanctions are Akin to Declaration of War

    9 Januari 2020

    Investors Jump into Commodities While Keeping Eye on Recession Risk

    8 Januari 2020

    Marquez Explains Lack of Confidence During Qatar GP Race

    7 Januari 2020

    There’s No Bigger Prospect in World Football Than Pedri

    6 Januari 2020
    Berita Populer

    Kejari Kabupaten Malang Geledah Kantor Dispora, Dalami Dugaan Penyelewengan Dana Hibah KONI

    Kabupaten Malang 6 Februari 2026

    Kabupaten Malang– Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Malang menggeledah Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten…

    Keluhan Pasien Poli Gigi Puskesmas Arjuno, Kadinkes Kota Malang Beri Penjelasan

    6 Februari 2026

    Dengan tren positif, PSMS Medan incar poin di kandang Garudayaksa FC

    1 Februari 2026

    Dirut RSUD Kanjuruhan Bantah Dugaan Kongkalikong Tender

    10 Juli 2025
    © 2026 InfoMalangRaya.com. Designed by InfoMalangRaya
    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Kebijakan Privasi
    • Tentang Kami

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?