Album Kedua Bernadya: Membuka Era Baru dengan Kolaborasi dan Pengalaman Baru
Bernadya, penyanyi yang dikenal dengan gaya vokalnya yang khas, kembali hadir dengan album kedua yang akan segera dirilis. Dalam wawancara yang dilakukan pada Kamis (5/2/2026), Adrianto Pratono, founder sekaligus CEO Juni Records, menjelaskan bahwa album ini telah rampung sekitar 85 persen dan menjadi penanda era baru bagi Bernadya.
Album kedua ini tidak hanya menghadirkan perubahan dalam segi musikal, tetapi juga membawa tantangan baru bagi Bernadya untuk mencoba hal-hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Salah satu inovasi utama adalah kerja sama dengan vocal director, yang pertama kali ia lakukan dalam karier bermusiknya.
Hadirkan Kolaborasi Baru di Album Keduanya, Bernadya Pertama Kali Kerja Sama dengan Vocal Director
Meski detail album terbaru Bernadya masih sedikit terungkap, sang penyanyi memastikan bahwa karya ini menghadirkan sejumlah gebrakan baru. Salah satunya adalah kolaborasi dengan vocal director. “Kita untuk pertama kalinya kerja sama dengan vocal director,” kata Bernadya dalam wawancara tersebut.
Tidak hanya itu, album kedua Bernadya juga melibatkan produser-produser baru. Berbeda dari proyek sebelumnya, kali ini terdapat lebih dari dua produser yang turut berkontribusi dalam proses kreatifnya. Namun, Bernadya hanya bisa mengungkap dua nama yang terlibat, yakni Petra Sihombing dan Rendy Pandugo, sementara kolaborator lainnya masih dirahasiakan.
Alasan Bernadya Tidak Pakai Vocal Director di Album Sebelumnya: Takut Di-Judge

Sebelumnya, Bernadya tidak pernah melibatkan vocal director dalam penggarapan album penuh maupun mini albumnya. Namun, kali ini ia memberanikan diri untuk mencoba pendekatan tersebut agar mendapatkan perspektif dan insight yang lebih luas.
Bernadya menceritakan bahwa awalnya ia ragu bekerja sama dengan vocal director karena khawatir akan di-judge atau dihakimi. “Jadi sebenarnya alasan dari dulu tuh aku gak pakai vocal director, karena takut di-judge. Takut ada perasaan waktu take gak luwes. Dulu kayak, ‘Duh, dia ngambil teknik vocal lagi, aku nyanyinya asal lagi.’ Tapi kali ini memberanikan diri karena aku butuh lebih banyak insight.”
Setelah melewati proses tersebut, Bernadya menyadari bahwa kehadiran vocal director justru sangat membantunya. Kolaborasi ini memudahkannya dalam menemukan warna dan karakter vokal yang ingin ia tampilkan. “Rasanya terbantu banget. Mereka lumayan ngebantu, kayak aku mau terdengar bunyinya seperti apa, mereka bisa bantu,” lanjutnya.
Adrianto Pranoto menjelaskan bahwa kehadiran vocal director untuk album kedua Bernadya ini juga dinilai sangat penting dalam kebutuhan aransemen lagu. “Karena kalau didengar nanti, ada beberapa lagu yang wow karena dia ada backing vocal-nya. Backing vocal-nya walaupun Bernadya sendiri yang nyanyi, tapi berbeda banget dengan konsep rekaman vokal di IP dan album pertamanya,” katanya.
Pertama Kali Workshop di Studio Gegara Burnout

Selain menghadirkan kolaborasi baru, album kedua ini juga menantang Bernadya dalam proses penulisan lagu. Jika sebelumnya ia terbiasa menulis lagu-lagunya sendiri, kali ini karena sempat merasa burnout, ia pun harus keluar dari kebiasaan tersebut dengan mengikuti workshop penulisan lagu di studio.
“Aku biasanya nulis lagu tuh sendiri, gak sama orang-orang lain. Terus ini karena gak jadi-jadi lagu, jadi aku dikirim workshop, cara itu kayak pemaksaan. Aku dikirim ke studio,” ungkap Bernadya sambil tertawa.
Karena mengalami kebuntuan, saat itu Bernadya memutuskan untuk meminta bantuan Rendy Pandugo. Dari momen tersebut, proses kreatif penulisan lagu untuk album keduanya pun berkembang menjadi diskusi yang lebih terbuka, terutama dalam menggali arah musik yang mengandung nuansa nostalgia.
“Salah satu yang paling menarik menurut gue, karena mentoknya Bernadya, terus kita minta bantuan. Terus kita cerita-cerita, balik lagi ke situasi nostalgic,” lanjut Adrianto Pranoto.
Meskipun belum banyak detail yang diungkap, diketahui bahwa jumlah lagu di album kedua Bernadya ini akan lebih banyak dari album sebelumnya. Isi cerita dalam album ini terinspirasi dari kondisi cherophobia, yaitu ketakutan untuk merasakan kebahagiaan secara berlebihan karena adanya kekhawatiran bahwa sesuatu yang buruk akan datang setelahnya.







